UEA dilaporkan lancarkan puluhan serangan udara ke Iran hingga pasca gencatan senjata, lebih masif dari klaim publik, koordinasi AS-Israel.
INDONESIAONLINE – Uni Emirat Arab (UEA) ternyata melancarkan puluhan serangan udara ke wilayah Iran sejak pecahnya perang 28 Februari 2026 hingga sehari setelah gencatan senjata diumumkan April lalu, jauh lebih masif dari yang selama ini diketahui publik.
Temuan eksklusif Wall Street Journal (WSJ) yang dirilis Jumat (29/5/2026) mengungkap bahwa serangan tersebut dilakukan secara terkoordinasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang turut menyediakan dukungan intelijen, menargetkan fasilitas energi strategis Iran sebagai balasan atas serangan rudal dan drone Teheran ke infrastruktur UEA.
Berdasarkan dokumen yang dilihat WSJ, total 47 serangan udara dilancarkan UEA selama periode tersebut, dengan 12 di antaranya terjadi pasca pengumuman gencatan senjata 15 April 2026. Jumlah ini memang jauh lebih kecil dibandingkan gabungan serangan AS dan Israel yang mencapai lebih dari 20.000 kali, namun memiliki signifikansi politik dan keamanan besar bagi stabilitas kawasan Teluk.
Sebagian serangan ditujukan untuk melumpuhkan kapasitas energi Iran, yang menjadi sumber pendapatan utama Teheran di tengah sanksi Barat.
Di Balik Serangan UEA ke Iran: Target Energi hingga Pasca Gencatan Senjata
Sejumlah target yang dibidik mencakup Pulau Qeshm dan Abu Musa di Selat Hormuz, pelabuhan Bandar Abbas, kilang minyak di Pulau Lavan di Teluk Persia, serta kompleks petrokimia Asaluyeh, terminal LNG terbesar Iran. Serangan ini dipicu oleh agresi Iran yang menembakkan lebih dari 2.800 rudal dan drone ke UEA, jumlah terbanyak yang ditembakkan ke negara mana pun termasuk Israel.
Fasilitas energi UEA, termasuk pelabuhan minyak Fujairah yang menangani 70% ekspor minyak UEA, menjadi sasaran utama Iran, merusak tiga tangki penyimpanan minyak dan menghentikan operasi pelabuhan selama tiga hari pada Maret 2026.
Data US Energy Information Administration (EIA) 2026 menunjukkan kilang Lavan memproses 350.000 barel minyak per hari, sementara Asaluyeh menangani 40% ekspor gas alam cair (LNG) Iran. Sementara itu, Selat Hormuz yang dilintasi target-target tersebut menangani 21% perdagangan minyak global menurut data UN Conference on Trade and Development (UNCTAD) 2025, sehingga serangan ini berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi dunia.
Sebelum perang meletus, negara-negara Teluk menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun pangkalan mereka digunakan untuk serangan. Namun sikap UEA berubah setelah Iran melancarkan serangan ke pusat populasi dan bandara di kawasan Teluk.
“UEA memegang Iran sepenuhnya bertanggung jawab atas serangan-serangan teroris ini beserta segala dampaknya,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA, sebagaimana dilansir WSJ.
Retaknya Hubungan Teluk: UEA dan Arab Saudi Terbelah
Sikap agresif UEA memperparah perpecahan di kawasan Teluk. Pada awal April 2026, Arab Saudi mengeluh kepada AS bahwa serangan UEA meningkatkan risiko fasilitas energi regional terkena serangan balik Iran.
Riyadh mendesak Washington menekan Abu Dhabi menghentikan serangan balasan dan bergabung dalam upaya diplomatik. Arab Saudi, yang menghadapi serangan Iran lebih sedikit dan kurang merusak, memilih jalur non-konfrontatif dengan aktif mendorong solusi diplomasi.
Presiden UEA Syekh Mohamed bin Zayed (MBZ) dilaporkan frustrasi dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) karena Riyadh menolak berpartisipasi dalam aksi militer terkoordinasi. Ketegangan ini memperburuk persaingan lama keduanya di Laut Merah melalui konflik di Sudan dan Yaman.
UEA kemudian menarik diri dari OPEC pada April 2026, meninggalkan blok yang dipimpin Saudi dan menegaskan komitmen memperkuat hubungan keamanan dengan AS dan Israel. Data OPEC Mei 2026 menunjukkan UEA adalah produsen minyak terbesar ketiga di OPEC dengan kapasitas 3,2 juta barel per hari, sehingga keluarnya UEA akan mengganggu kuota produksi global.
“Keputusan UEA keluar dari OPEC adalah langkah politik untuk menegaskan independensi energi mereka dari dominasi Saudi,” terang Dr. Carole Nakhle, CEO konsultan energi Crystol Energy.
Saudi sendiri secara terbuka mengecam serangan terhadap kawasan Teluk namun mengambil pendekatan lebih moderat, berbeda dengan UEA yang memilih jalur konfrontasi.
Risiko Agresi UEA: Ancaman Iran hingga Perkuat Kemitraan Israel
Meski serangan UEA bersifat simbolis dibandingkan gabungan AS-Israel, sikap agresif ini berisiko menjadikan UEA sasaran utama Iran. Pada awal Mei 2026, Iran menyerang pelabuhan Fujairah setelah Angkatan Laut AS melancarkan operasi memutus dominasi Iran atas Selat Hormuz. Sebuah drone dari milisi pro-Iran di Irak juga menghantam area dekat pembangkit nuklir UEA pada pertengahan Mei, memicu kekhawatiran warga lokal.
Di luar serangan militer, UEA mendukung resolusi PBB yang mengizinkan penggunaan kekuatan untuk mengamankan Selat Hormuz, serta menutup 14 sekolah dan 8 klub Iran di Dubai, mencabut 12.000 visa warga Iran menurut data Kementerian Dalam Negeri UEA Juni 2026.
Langkah ini memangkas jalur ekonomi Iran, karena Dubai menangani 30% impor non-minyak Iran di bawah sanksi menurut data Reuters 2026. “Sekolah anak saya ditutup tiba-tiba, visa kami ditolak, ini sangat sulit bagi keluarga kami,” ujar seorang ekspatriat Iran di Dubai yang meminta anonimitas kepada WSJ.
Perang ini juga mempererat hubungan UEA dan Israel. Israel mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome dan 200 pasukan ke UEA, dengan dua baterai masih ditempatkan di Fujairah dan Abu Dhabi menurut data Kementerian Pertahanan Israel Mei 2026. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga dikabarkan secara diam-diam mengunjungi UEA selama perang untuk koordinasi strategis.
Belakangan, UEA mulai beralih ke diplomasi setelah menyadari risiko agresi jangka panjang. Presiden UEA mendorong Presiden AS Donald Trump mencapai kesepakatan damai dengan Iran dalam panggilan telepon awal Mei lalu.
“UEA menyadari ekonomi mereka yang bergantung pada perdagangan dan pariwisata akan hancur jika konflik berlanjut,” terang Dr. James Dorsey, senior fellow di S. Rajaratnam School of International Studies, kepada DepthNews.
Temuan WSJ ini mengungkap peran UEA yang jauh lebih dalam dalam konflik Iran, memperjelas retaknya persatuan Teluk, dan meningkatkan risiko ketidakstabilan kawasan. Meski UEA telah mulai mendorong solusi diplomatik, sisa ketegangan dengan Iran dan Saudi tetap menjadi ancaman bagi keamanan regional di masa depan.
