UIN Maliki Malang perkuat ma’had terintegrasi hadapi tantangan global. Strategi unik jaga kualitas dan moderasi beragama di tengah kompetisi ketat PTKIN.
INDONESIAONLINE – Di tengah arus deras komersialisasi pendidikan tinggi dan tuntutan globalisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang memilih jalan sunyi yang terjal namun menjanjikan. Kampus yang dijuluki Ulul Albab ini tidak sedang terjebak dalam euforia seremoni akademik semata, melainkan tengah melakukan kalibrasi ulang terhadap posisinya sebagai benteng keilmuan Islam integratif di Indonesia.
Di bawah komando Rektor Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, UIN Maliki Malang mengirimkan sinyal kuat bahwa “jantung” pertahanan kualitas akademik dan karakter mahasiswa mereka bukanlah sekadar ruang kelas berpendingin udara, melainkan sistem Ma’had Al-Jamiah (pesantren kampus) yang terintegrasi.
Ma’had: Lebih dari Sekadar Asrama
Dalam peta persaingan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), diferensiasi adalah kunci bertahan hidup. Data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) menunjukkan tren peningkatan jumlah mahasiswa di PTKIN setiap tahunnya, yang memicu persaingan ketat tidak hanya antar-UIN, tetapi juga dengan kampus negeri umum (PTN) yang mulai membuka prodi-prodi keislaman.
Rektor UIN Maliki Malang Prof. Ilfi Nur Diana membaca fenomena ini dengan jernih. Ia menegaskan bahwa kekuatan absolut UIN Maliki terletak pada simbiosis mutualisme antara fakultas dan ma’had. Pola ini dinilai bukan sebagai pelengkap administratif, melainkan fondasi character building.
“Kekuatan utama kampus terletak pada sistem ma’had yang terintegrasi langsung dengan fakultas. Integrasi tersebut membuat mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga sikap moderat yang teruji dalam kehidupan kampus dan sosial,” ungkap Prof. Ilfi.
Pernyataan ini divalidasi oleh data internal kampus yang menunjukkan korelasi positif antara kehidupan ma’had dengan indeks moderasi beragama mahasiswa.
Dalam lanskap nasional, di mana isu radikalisme kerap membayangi generasi muda, skema boarding school ala UIN Maliki menjadi filter efektif. Mahasiswa tidak hanya belajar teks agama, tetapi mempraktikkan toleransi dalam kehidupan komunal yang heterogen selama 24 jam.
“Data survei menunjukkan mahasiswa UIN Maliki Malang memiliki pemahaman keagamaan yang baik sekaligus sikap moderat. Ini menjadi nilai tambah yang nyata,” tambahnya.
Dilema Kuantitas vs Kualitas dan Solusi Infrastruktur
Namun, sebuah institusi pendidikan tidak bisa hidup hanya dari reputasi masa lalu. Tantangan terbesar UIN Maliki Malang saat ini adalah menyeimbangkan neraca antara lonjakan peminat dengan kapasitas tampung yang menjaga mutu.
Sebagai Badan Layanan Umum (BLU), UIN Maliki Malang memiliki fleksibilitas pengelolaan keuangan, namun juga dituntut mandiri. Prof. Ilfi secara terbuka mengakui bahwa kepuasan diri adalah musuh utama. Ada kebutuhan mendesak akan infrastruktur fisik untuk menopang visi besar kampus.
Penambahan gedung ma’had dan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) bukan lagi sekadar keinginan, melainkan kebutuhan strategis (strategic necessity).
Pembangunan Rumah Sakit Pendidikan, misalnya, adalah langkah krusial bagi UIN yang memiliki Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK). Data dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) seringkali menyoroti pentingnya rumah sakit pendidikan milik sendiri untuk menjamin standar kompetensi dokter lulusan.
“Jika kapasitas ma’had bertambah, penerimaan mahasiswa baru bisa ditingkatkan. Apalagi seluruh mahasiswa baru diwajibkan tinggal di ma’had selama satu tahun,” jelas Prof. Ilfi.
Ini adalah logika sederhana namun fundamental: tanpa tempat tidur di ma’had, keran mahasiswa baru tidak bisa dibuka lebar tanpa mengorbankan ciri khas ke-UIN-an Maliki.
Pengakuan Regulator: Ma’had sebagai Pengendali Mutu
Posisi unik UIN Maliki Malang ini mendapatkan sorotan dari regulator pusat. Direktur Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendis Kementerian Agama RI, M. Munir, menyebut posisi UIN Maliki “tidak sederhana”.
Dalam analisis banyak PTN di Indonesia terjebak dalam fenomena “McDonaldisasi Pendidikan”—mengutamakan efisiensi, keterukuran, dan prediktabilitas layaknya restoran cepat saji, namun seringkali kehilangan ‘jiwa’ pendidikan itu sendiri.
Munir melihat sistem ma’had di UIN Maliki Malang sebagai rem pakem yang mencegah kampus ini tergelincir ke dalam pragmatisme kuantitas tersebut.
“Tekanan pada kuantitas memang berisiko, tetapi UIN Maliki Malang memiliki mekanisme untuk menjaga kualitas,” kata Munir.
Ia memuji kecerdasan pimpinan kampus dalam mengubah celah sempit menjadi kekuatan distingtif. Strategi ini membuat UIN Maliki tetap relevan dan memiliki nilai tawar tinggi (high bargaining power) di mata calon mahasiswa yang mencari keseimbangan antara ilmu umum dan agama.
Beban Sosial Alumni: Antara Sains dan Doa Tahlil
Di sisi lain, tantangan bagi UIN Maliki Malang tidak berhenti di pintu gerbang kampus. Persepsi publik terhadap alumni PTKIN seringkali menjadi beban sosiologis tersendiri. Tenaga Ahli Menteri Agama bidang Hubungan Antar Kelembagaan, M. Ainul Yaqin, mengangkat isu sensitif ini ke permukaan.
Masyarakat Indonesia, khususnya di basis pedesaan dan kaum santri, seringkali memukul rata bahwa lulusan UIN—baik itu Sarjana Teknik, Psikologi, atau Kedokteran—adalah “ustaz” yang siap pakai. Ada ekspektasi kultural bahwa label “Islam” pada nama universitas menjamin kemampuan ritual keagamaan.
“Masih ada anggapan bahwa seluruh alumni PTKIN otomatis memiliki kedalaman keilmuan agama. Padahal, realitasnya beragam,” ujar Ainul Yaqin.
Namun, alih-alih menolak persepsi tersebut, ia justru mendorongnya sebagai standar kompetensi dasar. “Kemampuan memimpin tahlil, khutbah Jumat, atau aktivitas keagamaan lain setidaknya harus dimiliki,” tegasnya.
Ini adalah poin krusial yang membedakan lulusan UIN Maliki dengan universitas umum. Seorang arsitek lulusan UIN Maliki Malang diharapkan tidak hanya bisa merancang gedung, tetapi juga bisa memimpin doa saat peletakan batu pertama. Inilah output nyata dari sistem ma’had yang diperjuangkan oleh Prof. Ilfi dan jajarannya.
Merespons Isu Global: Bayang-bayang Al-Azhar
Diskusi semakin menarik ketika menyentuh dinamika global. Rencana pembukaan cabang Universitas Al-Azhar Kairo di Indonesia sempat menjadi diskursus hangat. Bagi sebagian pihak, kehadiran raksasa pendidikan Islam tertua di dunia itu bisa dianggap sebagai ancaman bagi pasar PTKIN.
Namun, Ainul Yaqin mengajak civitas akademika UIN Maliki Malang untuk berpikir dialektis. Kehadiran pemain global seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman mematikan (zero-sum game), melainkan katalisator untuk perbaikan diri.
“Ini mau dilihat sebagai momok, atau justru pemantik untuk berbenah dan naik kelas?” pungkasnya.
Secara data, Al-Azhar memiliki kekuatan pada tradisi turats (kitab kuning) yang sangat kuat. Sementara UIN Maliki Malang memiliki keunggulan pada integrasi sains dan agama yang mungkin belum tergarap maksimal di sistem pendidikan tradisional Timur Tengah. Jika UIN Maliki Malang mampu memperkuat kurikulum ma’had-nya sembari meningkatkan riset sains di fakultas, posisi tawarnya justru akan semakin unik dan tak tergantikan.
UIN Maliki Malang kini berdiri di persimpangan sejarah yang menentukan. Dengan modalitas sistem ma’had yang sudah mapan, tantangannya kini adalah ekstensifikasi infrastruktur dan intensifikasi kualitas. Rencana pembangunan rumah sakit dan penambahan gedung asrama bukan sekadar proyek fisik, melainkan manifestasi dari upaya mempertahankan “ruh” integrasi ilmu di tengah gempuran modernitas.
Jika berhasil, UIN Maliki Malang tidak hanya akan bertahan dari kompetisi, tetapi akan menjadi model ideal bagaimana Islam dan sains berjalan beriringan dalam satu tarikan napas akademik (as/dnv).
