UIN Maliki Malang perkuat jejaring internasional di NLKH Indonesia 2026. Dua PTKIN unggulan rajut kolaborasi riset dengan kampus Belanda.
INDONESIAONLINE – Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang tampaknya tak lagi puas sekadar berkiprah di tingkat regional. Institusi yang akrab disapa UIN Maliki ini kembali menancapkan kukunya di panggung global melalui partisipasinya dalam Netherlands Knowledge House (NLKH) Indonesia Members Meeting 2026.
Bertempat di Universitas Negeri Malang (UM) pada 15–16 Juli 2026, forum tahunan tersebut menjadi panggung strategis bagi perguruan tinggi Tanah Air untuk merajut solidaritas akademik lintas benua, khususnya dengan institusi pendidikan tinggi di Belanda.
Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama, UIN Maliki Malang tercatat mengantongi puluhan nota kesepahaman (MoU) aktif dengan universitas mitra di berbagai negara, termasuk di Benua Eropa. Keikutsertaan dalam NLKH 2026 ini merupakan akselerasi dari roadmap internasionalisasi kampus yang digodok sejak satu dekade lalu.
Perguruan tinggi di Belanda, seperti Universitas Leiden atau Universitas Amsterdam, memiliki tradisi kajian Islam yang kuat, sehingga kolaborasi ini sangat relevan dengan kebutuhan akademik UIN Maliki untuk berdaya saing di level dunia.
Dalam pertemuan bergengsi tersebut, UIN Maliki Malang tidak datang hanya sekadar numpang lewat. Kampus dipimpin langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga, Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, M.A. Kehadiran profesor ini menandakan keseriusan sivitas akademika dalam menyerap resep kolaborasi dari para mitra Eropa guna dibumikan di lingkungan kampusnya.
“Partisipasi UIN Malang dalam Netherlands Knowledge House Indonesia menjadi langkah strategis untuk memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Belanda. Kami berharap kolaborasi ini membuka lebih banyak peluang dalam bidang pendidikan, penelitian, pertukaran akademik, serta pengembangan kapasitas dosen dan mahasiswa,” ujar Prof. Abdul Hamid.
Posisi Strategis UIN Maliki di Tengah Jejaring NLKH
Menilik posisi UIN Maliki dalam NLKH Indonesia memang cukup strategis. Dari 11 perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam wadah kolaborasi ini, hanya dua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang dipercaya duduk di meja bundar tersebut.
Selain UIN Maliki Malang, satunya adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fakta ini bukan sekadar prestise, melainkan pengakuan empiris atas konsistensi kedua kampus tersebut dalam mengembangkan kemitraan yang berkelanjutan.
NLKH sendiri bukan sekadar ajang kopi darat tahunan. Ia adalah ekosistem kolaboratif yang memfasilitasi berbagi pengalaman, penyusunan strategi bersama, hingga identifikasi peluang riset kolaboratif. Bagi Indonesia, Belanda merupakan salah satu mitra historis dengan tradisi akademik yang mumpuni.
Data Nuffic Neso Indonesia mencatat, setiap tahun ratusan mahasiswa Tanah Air menikmati beasiswa dan program pertukaran dengan universitas-universitas top di sana, menjadikan kerja sama tingkat institusi seperti ini sangat krusial untuk memangkas birokrasi mobilitas. Kehadiran 11 PTN dan PTKIN terbaik di UM pada pertengahan Juli 2026 tersebut juga menunjukkan bahwa sinergi antarlembaga dalam negeri diperkuat untuk menghadapi tantangan pendidikan global.
Dampak Kolaborasi bagi Sivitas Akademika dan SDGs
Lepas dari sekadar gengsi diplomasi antarkampus, keanggotaan UIN Maliki dalam NLKH membuka keran akses bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk terjun ke program internasional. Hal ini bersinggungan langsung dengan upaya kampus meningkatkan kualitas pendidikan dan memupuk budaya riset berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Tantangan global seperti perubahan iklim, ekonomi digital, dan isu keagamaan kontemporer menuntut jawaban lintas batas negara. NLKH 2026 di UM, yang dibuka langsung oleh Rektor UM, mengarahkan berbagai pembahasan pada pengembangan riset berdampak dan inovasi pendidikan yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
UIN Maliki, dengan basis keilmuan Islamnya, memiliki peluang emas untuk memasukkan narasi moderasi dan pembangunan berkelanjutan dalam kerangka riset bersama dengan Belanda. Penguatan kemitraan ini diyakini mampu mendongkrak peringkat kampus di level internasional, seiring komitmen pemerintah mendorong PTKIN masuk ke klaster dunia.
“Kami ingin memastikan bahwa sivitas akademika UIN Malang memiliki akses yang lebih luas terhadap kolaborasi internasional. Dengan jejaring yang semakin kuat, peluang riset bersama, publikasi internasional, maupun pertukaran mahasiswa dan dosen akan semakin terbuka,” tambah Prof. Abdul Hamid.
Melalui partisipasi aktif ini, UIN Maliki Malang membuktikan bahwa PTKIN tidak lagi terjebak dalam zona nyaman lokal. Jejaring strategis yang terus dibangun diharapkan mampu mencetak lulusan berdaya saing global. Di tengah derasnya arus perubahan, kolaborasi lintas negara seperti NLKH ini adalah jangkar bagi perguruan tinggi untuk tetap relevan, berinovasi, dan memberikan manfaat nyata bagi umat dan peradaban dunia (as/dnv).
