Beranda

Ultimatum Cak Nur di Sekolah Rakyat: Asrama Bukan Arena Gladiator Bullying

Ultimatum Cak Nur di Sekolah Rakyat: Asrama Bukan Arena Gladiator Bullying
Wali Kota Batu Nurochman saat memberikan pengarahan kepada siswa-siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 (jtn/io)

Wali Kota Batu Nurochman peringatkan keras 186 siswa SRMP 14. Stop bullying di asrama! Pendidikan karakter & disiplin kunci sukses masa depan.

INDONESIAONLINE – Di balik sejuknya udara Kota Batu, sebuah pesan berapi-api menggema di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, pada Jumat (30/1/2026). Ratusan pasang mata remaja menatap lurus ke arah panggung, tempat orang nomor satu di Kota Batu, Wali Kota Nurochman, berdiri memberikan ultimatum.

Bukan soal infrastruktur atau pariwisata, kali ini pria yang akrab disapa Cak Nur itu menyentuh jantung masa depan kota: karakter generasi muda. Di hadapan 186 siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14, Nurochman menarik garis merah yang tegas: Institusi pendidikan, khususnya yang berbasis asrama, haram menjadi arena “gladiator” bagi praktik perundungan (bullying).

Peringatan ini disampaikan dalam program “Sapa Warga Sapa Mbatu”, sebuah forum dialogis yang kali ini difokuskan pada mitigasi kekerasan di lingkungan pendidikan. Keberadaan Sekolah Rakyat di Kota Batu bukan sekadar fasilitas akademik, melainkan sebuah eksperimen sosial untuk memutus rantai kemiskinan dan ketimpangan melalui akses pendidikan yang inklusif.

Anatomi Kekerasan di Lingkungan Asrama

Mengapa Nurochman begitu keras menyoroti isu ini? Data nasional dalam beberapa tahun terakhir memberikan latar belakang yang mengkhawatirkan. Merujuk pada tren data dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2023-2025, lingkungan asrama atau boarding school kerap menjadi “zona merah” perundungan.

Intensitas pertemuan 24 jam antar siswa, jauh dari pengawasan orang tua, serta budaya senioritas yang terkadang salah kaprah, menjadi pupuk subur bagi benih-benih kekerasan. Nurochman menyadari potensi bahaya ini. SRMP 14, dengan sistem asramanya, memiliki risiko serupa jika tidak dimitigasi sejak dini.

“Kami menekankan agar menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Tolak segala bentuk perundungan, baik kepada teman sekelas maupun sesama penghuni asrama,” tegas Nurochman dengan nada tinggi namun kebapakan.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Dalam psikologi pendidikan, rasa aman adalah prasyarat mutlak bagi proses kognitif. Seorang siswa yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan (amigdala yang terus aktif) tidak akan mampu menyerap pelajaran dengan optimal. Oleh karena itu, Cak Nur menekankan bahwa asrama harus menjadi rumah kedua yang hangat, bukan penjara yang mengerikan.

Dekonstruksi Mitos Senioritas

Dalam pidatonya, Nurochman mencoba membongkar kesalahpahaman umum di kalangan remaja tentang definisi “kekuatan”. Di banyak sekolah, siswa yang “hebat” seringkali diasosiasikan dengan mereka yang berani menindas junior atau teman sebayanya.

Cak Nur membalik logika tersebut. Baginya, karakter pemimpin masa depan tidak dibentuk dari kemampuan mengintimidasi, melainkan dari kedisiplinan dan rasa hormat.

“Tidak akan ada prestasi tanpa disiplin dan kesungguhan. Sekolah Rakyat harus dimanfaatkan sebagai ruang belajar dan pembentukan karakter yang baik,” ujarnya.

Pernyataan ini relevan dengan konsep Anti-Bullying modern yang menekankan pada bystander intervention (peran saksi untuk melerai) dan pembangunan empati. Nurochman ingin para siswa SRMP 14 menjadi pelindung bagi temannya, bukan predator.

Untuk menyentuh hati para siswa yang mayoritas berasal dari latar belakang keluarga sederhana, Cak Nur tidak berbicara sebagai birokrat yang berjarak. Ia menggunakan pendekatan naratif personal (storytelling).

Ia membuka lembaran masa lalunya sebagai anak petani. Narasi ini penting untuk memvalidasi mimpi para siswa. Pesan tersiratnya kuat: Kemiskinan atau keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mencapai puncak kepemimpinan, dan yang terpenting, kesuksesan itu diraih tanpa harus menginjak orang lain.

Strategi komunikasi ini dinilai efektif untuk membangun self-esteem (harga diri) siswa. Seringkali, pelaku perundungan adalah anak-anak yang memiliki masalah kepercayaan diri dan mencari validasi kekuasaan dengan cara yang salah. Dengan memberikan contoh sukses yang relatable, Cak Nur menawarkan jalan alternatif untuk meraih kebanggaan diri: Prestasi.

Peran Dinas Sosial dan Intervensi Struktural

SRMP 14 Kota Batu memiliki keunikan karena berada di bawah atensi kuat Dinas Sosial. Kepala Dinas Sosial Kota Batu, Lilik Fariha, yang turut mendampingi, menegaskan bahwa sekolah ini adalah instrumen negara untuk menjamin hak pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.

Lilik menyoroti pentingnya “kesadaran kolektif”. Beban pencegahan bullying tidak bisa hanya diletakkan di pundak guru atau pengasuh asrama yang jumlahnya terbatas.

“Perlu kesadaran kolektif untuk menghapus praktik perundungan di lingkungan asrama agar tertanam kuat di benak para siswa,” ujar Lilik.

Pernyataan Lilik mengisyaratkan bahwa Pemkot Batu akan menerapkan sistem pengawasan yang lebih ketat. Ini bisa mencakup konseling berkala, pengaktifan satgas anti-kekerasan di sekolah, hingga pelibatan psikolog untuk memantau kesehatan mental siswa di asrama.

Keberhasilan SRMP 14 bukan hanya diukur dari nilai akademik siswanya, tetapi dari seberapa manusiawi lulusan yang dihasilkannya. Jika sekolah ini gagal menciptakan lingkungan nirkekerasan, maka tujuan mulia “Sekolah Rakyat” untuk mengangkat derajat masyarakat akan ternoda.

Peringatan Nurochman di awal tahun 2026 ini menjadi sinyal bahwa Pemerintah Kota Batu tidak main-main dalam isu pembangunan sumber daya manusia. Infrastruktur fisik bisa dibangun dalam hitungan bulan, namun kerusakan mental akibat perundungan bisa bertahan seumur hidup.

Bagi 186 siswa yang hadir di Graha Pancasila, pesan hari itu jelas: Di Kota Batu, tidak ada tempat bagi penindas. Masa depan milik mereka yang disiplin, berprestasi, dan memanusiakan manusia (pl/dnv).

Exit mobile version