Oleh: Dr H Miftahul Huda SHI MH (Dosen Fakultas Syariah UIN Maliki Malang)
Akhir Ramadan sering menghadirkan dilema tersendiri bagi orang tua. Di satu sisi, semangat meningkatkan ibadah di 10 malam terakhir sangat tinggi. Di sisi lain, kesibukan persiapan Idul Fitri dan kelelahan fisik membuat semuanya terasa menumpuk. Fenomena ini sering menimbulkan rasa bersalah ingin maksimal dalam ibadah, namun juga ingin hadir sepenuhnya untuk keluarga.
Secara spiritual, 10 malam terakhir adalah momentum yang sangat berharga. Banyak orang tua berharap bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, atau melakukan iktikaf untuk mengejar malam Lailatul Qadar. Namun, hampir sebulan berpuasa membuat stamina menurun, sehingga aktivitas malam terasa lebih berat.
Di sisi lain, menjelang Idul Fitri, perhatian ekstra dibutuhkan untuk persiapan rumah, memasak hidangan khas, menyiapkan pakaian baru, hingga membeli kebutuhan Lebaran. Tidak jarang orang tua merasa harus “memilih” antara ibadah intensif dan tanggung jawab keluarga.
Selain itu, ada dilema klasik terkait belanja. Banyak keluarga ingin membeli baju Lebaran, hidangan spesial, dan perlengkapan lainnya. Namun, kemampuan ekonomi sering terbatas.
Di era mal dan belanja online dengan diskon besar-besaran, godaan untuk mengikuti tren semakin nyata. Model terbaru dan harga menarik seakan menuntut kita ikut “gengsi.” Padahal, keputusan belanja hari ini bisa memengaruhi kondisi keuangan jangka panjang.
Kuncinya adalah menahan diri. Bukan berarti mengabaikan kebahagiaan anak-anak atau merayakan Idul Fitri, tetapi memilih dengan bijak apa yang benar-benar dibutuhkan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang kaya bukanlah yang memiliki banyak harta, tetapi orang kaya adalah yang kaya hatinya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan ini mengingatkan kita bahwa gengsi hari ini tidak menentukan kebahagiaan sejati. Menahan diri bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga pendidikan moral bagi anak-anak, agar mereka belajar nilai kesederhanaan dan kepedulian.
Fenomena belanja besar-besaran juga menunjukkan paradoks masyarakat modern. Ramadan mengajarkan pengendalian diri, tetapi akhir bulan sering diakhiri konsumsi tinggi.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros itu saudara setan” (QS. Al-Isra: 26-27).
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga pendidikan moral dan sosial. Rasa lapar mengajarkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Dari sinilah lahir kesalehan sosial, diwujudkan dalam kepedulian nyata.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).
Instrumen konkret seperti zakat, infak, dan sedekah menumbuhkan solidaritas. Zakat fitrah, misalnya, memastikan semua orang merasakan kebahagiaan di hari raya. Tantangan terbesar bukan pada ritual itu sendiri, tetapi keberlanjutannya. Semangat berbagi selama Ramadan kerap memudar setelah Idul Fitri, padahal kemiskinan dan ketimpangan tetap ada.
Idul Fitri seharusnya menjadi momentum refleksi. Hari raya bukan sekadar perayaan kemenangan, tetapi pengingat fitrah kemanusiaan empati, keadilan, dan solidaritas. Jika Ramadan membentuk karakter, dampaknya harus terlihat dalam perilaku sehari-hari: lebih peduli, adil, dan manusiawi.
Saat takbir berkumandang, pertanyaan yang patut direnungkan bukan seberapa banyak barang yang dibeli, tetapi nilai apa yang tertinggal setelah sebulan berpuasa. Apakah kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain? Apakah solidaritas sosial meningkat? Ataukah semangat itu ikut pergi bersama Ramadan?
Jika kesalehan spiritual tidak melahirkan kesalehan sosial, Ramadan hanya berhenti sebagai ritual tahunan. Namun jika puasa mengubah cara pandang terhadap sesama, nilai-nilainya tetap hidup dalam tindakan nyata di masyarakat. Allah SWT berfirman:
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan benar” (QS. Al-Isra: 35).
Bagi orang tua, menahan diri dalam belanja Lebaran bukan sekadar strategi keuangan, tetapi juga warisan nilai bagi anak-anak. Kebahagiaan sejati bukan diukur dari gengsi atau barang baru, tetapi dari kesadaran, kepedulian, dan keberkahan yang terus mengalir di keluarga dan masyarakat.
Dengan menanamkan nilai ini, orang tua tidak hanya membimbing anak-anak menuju kehidupan yang bijak dan penuh empati, tetapi juga memastikan bahwa makna Ramadan dan Idul Fitri tetap hidup dalam setiap tindakan, bukan sekadar ritual tahunan.
