INDONESIAONLINE – Namanya Warung Lele Bu Jujuk. Warung legendaris ini tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan para santri di Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Warung ini bisa menjadi media nostalgia para alumnni santri Tambakberas di kala Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mendatang.
Warung Lele Bu Jujuk berlokasi di samping gapura Desa Tambakrejo Vang IV atau sekitar 300 meter dari kantor Yayasan PP Bahrul Ulum Tambakberas. Lokasinya yang tidak jauh dari pusat pesantren ini lah yang menjadikan Warung Lele Bu Jujuk jadi jujukan para santri sejak awal berdiri tahun 1980 hingga saat ini.
Kini Warung Lele Bu Jujuk dikelola putra keempat Siti Zulaikah (Bu Jujuk), Ahmad Syafi’i (52). Meski sudah generasi kedua, menu andalannya masih sama, yaitu lele bumbu rujak.
“Awal berdiri itu 1980 oleh orang tua saya sendiri. Awalnya bukan lele yang dijual. Seiring berjalannya waktu, ganti lele bumbu rujak sampai sekarang,” kata Syafi’i saat ditemui wartawan di warungnya, Sabtu (01/08/2026).
Lele bumbu rujak buatan Syafi’i masih mempertahankan resep dari Bu Jujuk. Bumbu yang digunakan berupa cabai besar, bawang merah, bawang putih, kunyit, asam dan tomat, serta dilengkapi air santan kental untuk menambah rasa gurih.
Untuk satu porsinya, pembeli mendapatkan 1 ekor lele dengan bumbu rujak. Lele bumbu rujak ini disajikan dengan nasi putih panas dengan sepotong mentimun sebagai lalapannya. Meski sederhana, namun rasa gurih pedas dan lembutnya daging ikan lele terasa medok di lidah.
“Bumbu rujak kita pakai santan kental. Ini jadi ciri khas sendiri. Kita dalam hari biasa habis 7-8 kg lele,” ungkapnya.
Harga satu porsi lele bumbu rujak di Warung Lele Bu Jujuk hanya Rp 12.000 saja. Selain lele bumbu rujak, juga ada menu bali ayam dan kare ayam yang juga seharga Rp 12.000. Sedangkan untuk menu bali telur cukup Rp 8.000 per porsi. “Untuk satu hari di hari biasa, omzet kita sekitar Rp 1 juta,” kata Syafi’i.
Warung yang sangat sederhana ini rupanya menyimpan banyak kenangan para santri melalui cita rasa lele bumbu rujak Warung Bu Jujuk. Tentunya, kuliner legendaris ini akan menjadi tempat bernostalgia para alumni PP Tambakberas yang akan menghadiri Muktamar Ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026 di pesantren tersebut.
“Menyongsong Muktamar NU, ini saya menyediakan banyak lele bumbu rujak karena sudah banyak alumni yang memesan. Yang sudah pesan ada rombongan alumni dari Jakarta, Cirebon, dan Madura,” beber Syafi’i.
Warung Lele Bu Jujuk ini buka dari pukul 04.00-09.000 WIB setiap hari. Namun dalam momen Muktamar NU, warung legendaris ini akan buka sampai larut malam. Khusus dibuka untuk melayani muktamirin dan rombongan alumni PP Tambakberas yang ingin bernostalgia.
Salah satu alumni PP Tambakberas sekaligus pengurus Ikatan Keluarga Alumni PP Bahrul Ulum Tambakberas (IKABU) Nur Hasan (52) mengamini lele bumbu rujak Warung Bu Jujuk merupakan kuliner primadona santri sejak dulu. Hasan sudah mencicipi lele bumbu rujak itu sejak awal nyantri di Tambakberas pada tahun 1987.
Saat itu, harga lele bumbu rujak masih sekitar Rp 500. Hingga kini, Hasan masih mendatangi warung legendaris itu untuk sarapan sebelum berangkat mengajar di MA Bahrul Ulum Tambakberas.
“Dulu tahun 1997 itu di samping Warung Bu Jujuk ini ada MTs Tambakberas. Nah saya kalau beli itu lewat lubang di tembok ini, tembok warung ini,” ucapnya.
Hasan mengatakan, lele bumbu rujak di Warung Bu Jujuk ini sudah jadi andalan para santri, bahkan dzuriyah PP Bahrul Ulum Tambakberas. Setiap alumni yang datang selalu mampir ke warung tersebut.
“Warung Bu Jujuk ini andalannya para santri dan dzuriyah Tambakberas. Kalau pengen lele, ya lele Bu Jujuk ini. Rasanya tidak berubah sejak awal,” kata Hasan.
Hasan juga sudah menerima pesan dari para alumni. Mereka meminta informasi jam buka Warung Bu Jujuk saat Muktamar NU. Sebab, para alumni Tambakberas ingin bernostalgia di warung andalan para santri ini.
“Tentunya temen-teman alumni akan bernostalgia di Warung Bu Jujuk. Mereka sudah minta agar Warung Bu Jujuk tidak tutup pagi-pagi,” pungkasnya. (adr/hel)
