JATIMTIMES – Bersamaan dengan datangnya Imlek, rumah dinas Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari  atau Rumah Rakyat berhias. Tentunya, hiasan yang dipilih kali ini sesuai tema Imlek. 

Di sana, Pemkot Mojokerto bekerja sama dengan Museum Gubug Wayang menghadirkan barongsai serta wayang potehi. Ada delapan barongsai yang dipajang bersama dengan 12 koleksi wayang potehi.

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menyampaikan, secara temporer dan berkelanjutan, pihaknya selalu menghias Rumah Rakyat menyesuaikan dengan bulan atau tema momen.

“Setiap bulan atau waktu, ada tema yang kami sajikan. Kami bekerja sama dengan Museum Gubug Wayang untuk pelestarian budaya. Bulan ini kan kebetulan Imlek temanya,” kata Ning Ita, sapaa akrab wali kota, Senin (31/1).

Baca Juga  Open House Presiden Jokowi Diwarnai Aksi Protes Warga

Saat ini Rumah Rakyat didominasi oleh warna merah. Mulai hiasan lampion hingga barongsai.

“Memang latar belakang kita kembangkan budaya dan rumah rakyat kita buka untuk umum. Agar orang lebih senang, aware dan tertarik,” tegasnya.

Menurut Ning  Ita,  hal ini merupakan kebangkitan budaya. “Budaya tak lepas dari semua etnis yang ada di Kota Mojokerto,” imbuhnya.

Terpisah, Direktur Museum Gubug Wayang Cyntia Handy menambahkan bahwa koleksi pihaknya akan ada di Rumah Rakyat hingga satu bulan ke depan. “Setelah ini ada Cap Gomeh, 15 hari setelah Imlek,” ujarnya.

Dengan adanya ini, Cyntia ingin menujukkan bahwa ada harmoni antara pihaknya sebagai pelestari budaya dengan Pemkot Mojokerto. “Apalagi tahun lalu Bu Wali Kota Ning Ita pernah mendapatkan penghargaan tentang harmoni budaya,” ucapnya.

Baca Juga  Sehari, Damkar Kabupaten Malang Evakuasi Ular Dua Kali

Alumni Ubaya ini ingin menunjukkan bahwa lewat wayang potehi ini ada akulturasi budaya yang sudah terjadi. “Karena yang membuat dan memainkan adalah umat Muslim juga. Ini menunjukkan pemeluk agama Islam di sini memiliki budaya yang tinggi,” puji dia.

Menurut Cyntia, koleksi Museum Gubug Wayang bukan hanya wayang potehi saja. Tapi ada juga wayang golek Wali Songo hingga wayang Pancasila.

“Ini menunjukkan sudah tidak ada lagi diskriminasi budaya. Semuanya sudah bisa berbaur,” imbuh dia.



Abdullah M