Restrukturisasi Besar-besaran Warner Bros: Tiga Studio Game Ditutup, Proyek Wonder Woman Dibatalkan

Restrukturisasi Besar-besaran Warner Bros: Tiga Studio Game Ditutup, Proyek Wonder Woman Dibatalkan
Game Wonder Women di bawah Warner Bros Discovery akhirnya dibatalkan dengan adanya restrukturisasi besar-besaran (gizmologi)

INDONESIAONLINE – Industri game dikejutkan oleh pengumuman Warner Bros Discovery (WBD) pada Rabu (26/2/2025) tentang penutupan tiga studio game dan pembatalan proyek ambisius Wonder Woman. Langkah drastis ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran divisi game perusahaan, menyusul kinerja yang mengecewakan sepanjang tahun 2024.

Monolith Productions, Player First Games, dan WB Games San Diego menjadi korban dari kebijakan baru WBD. Penutupan Monolith Productions secara otomatis mengakhiri pengembangan game Wonder Woman, yang pertama kali diumumkan pada The Game Awards 2021.

Game ini awalnya dijanjikan akan menghadirkan fitur unik Nemesis System, yang sebelumnya sukses diimplementasikan dalam Middle-earth: Shadow of Mordor dan Shadow of War.

Namun, setelah hampir tiga tahun pengembangan, proyek Wonder Woman menghadapi berbagai kendala, termasuk reboot dan pergantian direktur pada awal 2023. Hingga saat pembatalannya, proyek ini telah menelan biaya lebih dari 100 juta dollar AS dan masih membutuhkan beberapa tahun lagi untuk penyelesaian.

Player First Games, yang diakuisisi WBD tahun lalu, dikenal sebagai pengembang game pertarungan MultiVersus. Meskipun sempat meraih popularitas dengan 20 juta pemain di awal peluncuran, MultiVersus mengalami penurunan signifikan dan dijadwalkan untuk menghentikan layanan online pada Mei 2025.

warnerbrosgames.com

Sementara itu, WB Games San Diego awalnya difokuskan pada pengembangan game AAA free-to-play. Penutupan studio ini menambah daftar panjang restrukturisasi di divisi game WBD, setelah sebelumnya terjadi pemutusan hubungan kerja di WB Games Montreal dan pengurangan investasi pada Suicide Squad: Kill the Justice League, yang dianggap sebagai kegagalan besar.

CEO dan Presiden Global Streaming dan Games Warner Bros, JB Perrette, menjelaskan bahwa kualitas dari banyak rilis terbaru mereka tidak memenuhi harapan. Oleh karena itu, perusahaan memutuskan untuk memfokuskan sumber daya pada beberapa waralaba utama, seperti Harry Potter (termasuk Hogwarts Legacy), Mortal KombatGame of Thrones, dan DC Comics—terutama Batman.

Dalam memo internalnya, Perrette menekankan perlunya perubahan signifikan dalam struktur portofolio dan tim, dengan strategi “lebih sedikit, tapi lebih besar”. Keputusan ini senada dengan pernyataan CEO Warner Bros Discovery, David Zaslav, yang pada November 2024 mengakui bahwa bisnis game mereka “jauh dari potensi sebenarnya”.

Kondisi keuangan divisi game WBD semakin diperparah dengan pengunduran diri kepala divisi game, David Haddad, pada Januari 2025. Perusahaan mencatat kerugian sebesar 200 juta dollar AS akibat kegagalan Suicide Squad: Kill the Justice League pada Mei 2024, ditambah kerugian 100 juta dollar AS dari Harry Potter: Quidditch Champions dan MultiVersus.

Dengan situasi ini, Warner Bros kini hanya memiliki sedikit proyek game yang siap dirilis dalam waktu dekat, termasuk versi terbaru Hogwarts Legacy, game bertema Lego, dan beberapa game mobile.

Warner Bros menegaskan bahwa penutupan studio bukan karena kualitas tim atau talenta di dalamnya, melainkan bagian dari penataan ulang strategi untuk bersaing dengan publisher besar seperti Take-Two Interactive (penerbit Grand Theft AutoRed Dead RedemptionNBA 2K) dan Electronic Arts (penerbit FIFA/EA Sports FCThe SimsBattlefield).

Dengan menguasai waralaba besar seperti BatmanThe Lord of the Rings, dan Game of Thrones, WBD berharap dapat memposisikan diri lebih baik di pasar game yang kompetitif. Restrukturisasi ini menandai babak baru bagi WBD dalam industri game, dengan harapan dapat meraih kesuksesan yang lebih besar di masa depan.