Hikayat Trunajaya, Darah Surabaya, dan Mataram yang Membusuk dari Dalam

Hikayat Trunajaya, Darah Surabaya, dan Mataram yang Membusuk dari Dalam
Ilustrasi lukisan Pangeran Trunajaya dengan pasukannya (io)

INDONESIAONLINE – Di tanah Jawa abad ke-17, kekuasaan tak ubahnya seperti bangkai busuk yang diperebutkan lalat; ia memikat sekaligus menjijikkan. Di sanalah Trunajaya berdiri, bukan sekadar sebagai pemberontak yang namanya dicatat dengan tinta merah oleh pujangga keraton, melainkan sebagai badai yang lahir dari rahim dendam pesisir.

Ia adalah pekikan liar yang menolak dijinakkan oleh tali kekang Mataram, sebuah kerajaan yang pada masa itu, di bawah Amangkurat I, tengah mabuk oleh darah rakyatnya sendiri.

Trunajaya, atau Raden Trunojoyo, atau kelak menyebut dirinya Panembahan Maduretna, muncul di panggung sejarah sekitar tahun 1670-an. Namun, untuk memahami mengapa ia membakar Jawa dari ujung timur hingga meruntuhkan Keraton Plered, kita tak bisa hanya melihat tahun kejadian.

Kita harus menyelam ke dalam darahnya, ke dalam silsilah yang penuh luka, dan ke dalam persekutuan gelap yang dirancang di kamar tidur putra mahkota Mataram sendiri.

Darah yang Terhempas

Sejarah, seperti halnya nasib, sering kali tidak adil pada mereka yang kalah. Dalam Babad Tanah Jawi, Trunajaya digambarkan sebagai antagonis. Namun, jika kita mengupas kulit mitos itu, kita menemukan seorang bangsawan yang terasing.

Ia adalah keturunan langsung Cakraningrat I dari Arosbaya, Madura Barat. Darahnya biru pekat, campuran antara kegagahan maritim dan kesalehan Islam pesisir.

Akar genealogisnya menjulur jauh ke masa silam, ke Panembahan Lemah Duwur, penguasa Arosbaya akhir abad ke-16. Leluhur ini diyakini bersambung dengan trah Majapahit melalui Arya Damar.

Namun, kebanggaan itu diruntuhkan pada tahun 1624. Tahun itu, Sultan Agung—raja terbesar Mataram—mengirim ekspedisi militer yang meluluhlantakkan Madura. Dalam catatan H.J. de Graaf, sejarawan Belanda yang tekun membedah periode ini, penaklukan itu begitu brutal hingga sisa-sisa bangsawan Madura harus diboyong ke pedalaman Jawa, dipaksa menjadi vasal, dan dinikahkan dengan perempuan Mataram agar benih perlawanan mereka tumpul.

Dari sinilah ayah Trunajaya, Raden Demang Malayakusuma, lahir. Ia tewas dalam intrik istana tahun 1647, meninggalkan Trunajaya tumbuh dengan ingatan kolektif tentang penghinaan.

Ia lahir di Sampang, di wilayah bernama Babaran. Ia bukan orang tani yang tiba-tiba memegang tombak. Ia adalah aristokrat yang sadar bahwa di Mataram, ia hanyalah “orang luar”. Mataram bagi Trunajaya adalah monster yang memakan anak-anaknya sendiri.

Babad mencatat wataknya dengan kalimat yang tajam: “Trunajaya rumasa wong cilik, nanging darbe panggalihe agung, nyumurupi sang Prabu adigang.” (Trunajaya merasa dirinya kecil, tetapi pikirannya besar: ia mampu membaca kesewenangan sang raja).

Ia melihat Amangkurat I bukan sebagai Khalifatullah, melainkan sebagai buto (raksasa) yang gemar membunuh ulama dan menyingkirkan bupati pesisir demi memuaskan paranoianya.

Dosa Plered dan Dendam Surabaya: Persekutuan Dua Pangeran

Sementara Trunajaya menyusun kekuatan di sela-sela karang Madura, di jantung ibu kota Mataram, di Plered, kebusukan lain sedang terjadi. Amangkurat I, raja yang menggantikan Sultan Agung, memerintah dengan tangan besi yang berkarat oleh darah.

Ia membantai ribuan ulama di alun-alun hanya dalam waktu setengah jam—sebuah peristiwa genosida politik yang dicatat Rijklof van Goens, utusan VOC, dengan ngeri.

Di tengah teror itu, hiduplah Pangeran Adipati Anom (kelak Amangkurat II). Ia adalah putra mahkota, tapi ia membenci ayahnya dengan intensitas yang nyaris seksual—sebuah kebencian yang lahir dari ketakutan dan penghinaan. Namun, ada lapisan lain yang lebih dalam dari sekadar konflik oedipal: darah ibu.

Ibu Adipati Anom berasal dari trah Surabaya, keturunan Pangeran Pekik. Pangeran Pekik adalah bangsawan agung, pewaris darah Sunan Ampel, simbol Islam pesisir yang kosmopolit. Pada tahun 1659, Amangkurat I, karena takut pada pengaruh mertuanya itu, memerintahkan pembunuhan Pangeran Pekik sekeluarga. Mayat-mayat mereka dibiarkan membusuk tanpa upacara layak.

Adipati Anom mewarisi dua hal: takhta Mataram dan dendam Surabaya. Di sinilah takdir bermain lelucon yang kejam. Adipati Anom membutuhkan senjata untuk membunuh ayahnya tanpa mengotori tangannya sendiri. Dan senjata itu bernama Trunajaya.

Pertemuan mereka, seperti dikisahkan Babad Tanah Jawi, terjadi dalam keremangan malam di kediaman Raden Kajoran—seorang ulama sakti yang juga mertua Trunajaya. Kajoran, yang disebut sebagai “Amal” dalam laporan Belanda, adalah otak spiritual di balik persekutuan ini. Ia melihat api di mata Trunajaya.

“Putra mantuku iki pantas dados wakil panjenengan ing Madura. Wenehana pangkat, sandhangan, lan gaman,” ujar Kajoran. (Menantuku ini pantas menjadi wakil Paduka di Madura. Berikanlah ia pangkat, pakaian, dan senjata).

Maka, terjadilah kesepakatan itu. Adipati Anom membiayai pemberontakan Trunajaya. Ia memberikan restu, uang, dan legitimasi. Trunajaya diminta pulang ke Madura, merebut kekuasaan dari pamannya sendiri, Cakraningrat II (yang merupakan boneka Mataram), dan kemudian mengguncang takhta Amangkurat I.

Badai dari Timur: Runtuhnya Istana Bata Merah

Tahun 1670 hingga 1674 adalah tahun-tahun di mana Jawa berubah menjadi neraka. Trunajaya tidak bergerak sendiri. Ia mengumpulkan orang-orang yang sakit hati: bajak laut Makassar di bawah Karaeng Galesong yang terusir dari Sulawesi oleh VOC, santri-santri Giri yang merindukan kejayaan Islam, dan rakyat jelata yang punggungnya patah oleh pajak.

Trunajaya membangun basis di Kediri. Pemilihan Kediri bukan tanpa alasan mistis. Kediri adalah simbol kerajaan pra-Islam yang gagah, antitesis dari Mataram Islam yang ia anggap munafik. Di sana ia bergelar Panembahan Maduretna. Babad Tanah Jawi melukiskan pasukannya bergerak seperti air bah.

Kota demi kota di pesisir utara jatuh. Tuban, Gresik, Surabaya, hingga Lasem bertekuk lutut. Trunajaya membebaskan mereka dari cengkeraman pedalaman. Dan puncaknya terjadi pada tahun 1677. Pasukan Trunajaya, gabungan orang Madura dan orang Makassar yang tak takut mati, menyerbu Plered.

Amangkurat I, raja tua yang sakit-sakitan itu, melarikan diri ke arah barat. Keraton Plered yang megah, yang dibangun dengan batu bata merah dan keringat budak, dijarah habis-habisan. Emas, permata, dan perempuan-perempuan keraton diangkut ke Kediri. Trunajaya berdiri di atas reruntuhan itu, merasa telah menunaikan tugas sejarahnya.

Namun, di tengah pelarian itu, Amangkurat I wafat di Tegalwangi (Tegalarum). Kematiannya sunyi, diiringi bau tanah basah dan penyesalan. Sebelum mati, ia menyerahkan pusaka kerajaan kepada Adipati Anom, seraya mengutuk bahwa putranya itu tak akan pernah memerintah dengan tenang.

Pengkhianatan yang Menjijikkan

Di sinilah plot cerita berubah menjadi tragedi Shakespeare versi Jawa. Adipati Anom naik takhta sebagai Amangkurat II. Tapi ia adalah raja tanpa istana, tanpa harta, dan tanpa wibawa. Bajunya compang-camping, kehormatannya setipis kulit bawang.

Kini, musuh utamanya bukan lagi ayahnya, melainkan “senjata”-nya sendiri: Trunajaya. Trunajaya di Kediri merasa dirinya setara dengan raja. Ia menolak tunduk pada Amangkurat II yang dianggapnya lemah dan berlumur dosa ayahnya. “Raja anyar iku isih ngagem getih bapakne, durung suci,” kata Trunajaya.

Amangkurat II sadar ia tak bisa mengalahkan Trunajaya sendirian. Maka, ia melakukan hal yang kelak akan disesali oleh keturunannya selama berabad-abad: ia meminta bantuan VOC (Kompeni). Ia menggadaikan kedaulatan pesisir utara dan pendapatan pelabuhan kepada Belanda demi meminjam senapan dan meriam untuk membunuh bekas sekutunya.

Perang berbalik arah. Pasukan VOC di bawah Kapten Hurdt dan Anthonio Hurdt, bersama pasukan Mataram dan Arung Palakka (musuh bebuyutan orang Makassar), menggempur Kediri pada 1678. Benteng Trunajaya yang konon tak tertembus, hancur lebur. Harta rampasan dari Plered hilang, naskah-naskah kuno terbakar, dan Trunajaya terpaksa lari ke gunung-gunung.

Gunung Ngantang dan Akhir Sebuah Hikayat

Akhir tahun 1679, Trunajaya terpojok di lereng Gunung Ngantang (sekarang wilayah Malang). Ia sendirian, lelah, dan dikhianati oleh zaman. Tapi pengkhianatan paling menyakitkan datang dari darah dagingnya sendiri: Cakraningrat II, pamannya.

Cakraningrat II adalah politisi ulung yang licin seperti belut. Sempat dibuang Trunajaya ke hutan Lodoyo—tempat yang konon dihuni harimau siluman—ia selamat, berbalik memihak VOC, dan kini datang sebagai “penyelamat”. Ia membujuk Trunajaya untuk menyerah dengan janji keselamatan.

Trunajaya, mungkin karena lelah atau rindu pada perdamaian, turun gunung. Ia menyerahkan kerisnya. Namun, janji politik adalah janji pelacur; manis di bibir tapi kosong di hati. Ia ditangkap, diikat, dan dibawa ke hadapan Amangkurat II di Payak, Bantul, pada Januari 1680.

Adegan eksekusi ini adalah salah satu momen paling mengerikan dan puitis dalam sejarah Jawa. Amangkurat II, mengenakan pakaian kebesaran Belanda (seperti dicatat dalam laporan VOC, ia gemar memakai topi laksamana), menyambut Trunajaya.

Awalnya ia berbicara manis, menyebut Trunajaya sebagai “kakak”. Namun, dendam dan ketakutan akan bayang-bayang kekuasaan Trunajaya mengambil alih. Menurut Babad Tanah Jawi, Amangkurat II mencabut keris pusaka Kyai Balabar.

“Paman, aku pasrah. Sebab kabeh iki salahku dhewe,” ujar Trunajaya lirih.

Tanpa peringatan, Amangkurat II menghujamkan keris itu ke jantung Trunajaya. Darah muncrat membasahi tanah. Tapi itu belum cukup. Para bupati yang hadir, seolah kerasukan setan feodalisme, ikut menikam tubuh yang sudah tak bernyawa itu.

M.C. Ricklefs, sejarawan otoritatif Jawa modern, mengutip sumber-sumber yang menyebutkan kekejian ritualistik setelahnya: hati Trunajaya dibelah, dicincang, dan dimakan mentah-mentah oleh para pejabat keraton. Kepalanya dipenggal, ditumbuk di lumpang batu hingga hancur, agar arwahnya tak bisa bangkit lagi.

Tubuhnya dikubur di bawah dampar (singgasana) raja di Imogiri, supaya setiap kali raja duduk, ia menginjak kepala pemberontak itu.

Tumbal bagi Masa Depan yang Suram

Kematian Trunajaya di Payak adalah titik balik. Mataram memang pulih, tapi ia tak lagi sama. Ia menjadi kerajaan yang berhutang budi dan berhutang nyawa pada VOC. Kedaulatan Jawa perlahan tergerus, dimulai dari tanda tangan Amangkurat II di atas kertas perjanjian utang perang.

Trunajaya mungkin kalah. Tubuhnya hancur, namanya dicap pemberontak. Namun, dalam kacamata sastra dan sejarah kritis, ia adalah martir. Ia adalah manifestasi dari kemarahan rakyat dan aristokrasi pinggiran yang muak pada sentralisasi kekuasaan yang korup.

Ia dan Adipati Anom adalah cermin retak; dua sisi dari koin yang sama. Satu memilih jalan pedang dan kehancuran total demi harga diri, yang lain memilih jalan kompromi dan pengkhianatan demi kelangsungan takhta.

“Sejarah tidak ditulis oleh pemenang, sejarah ditulis oleh mereka yang bertahan hidup di atas tumpukan mayat.” Trunajaya menjadi mayat itu, agar Mataram bisa hidup sedikit lebih lama, meski dengan nafas yang tersengal-sengal di bawah ketiak Kompeni.

Dan di malam-malam sepi di Kediri atau di bukit-bukit Madura, konon angin masih membawa suara lamat-lamat: bukan suara hantu, melainkan suara sejarah yang menolak untuk dilupakan, berbisik tentang seorang pangeran yang berani menggugat Tuhan-nya raja Jawa.


Referensi:

  1. De Graaf, H.J. (1987). Runtuhnya Istana Mataram. Jakarta: Grafiti Pers. (Data mengenai ekspedisi militer, detail pembunuhan Pangeran Pekik, dan kronologi perang).
  2. Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2004. Jakarta: Serambi. (Analisis mengenai dampak keterlibatan VOC dan struktur politik Mataram).
  3. Ricklefs, M.C. (1993). War, Culture and Economy in Java, 1677-1726. Asian Studies Association of Australia. (Detail mengenai hutang perang Amangkurat II dan eksekusi Trunajaya).
  4. Olthof, W.L. (Terjemahan). (2007). Babad Tanah Jawi. Yogyakarta: Narasi. (Sumber naratif utama mengenai dialog, mimpi, ramalan Kajoran, dan aspek mitologis).
  5. Reid, Anthony. (2011). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. (Konteks perdagangan maritim dan peran orang Makassar/Madura).