Toney Bersinar, Ronaldo Terpeleset di Usia Senja

Toney Bersinar, Ronaldo Terpeleset di Usia Senja
Mimpi buruk bagi Cristian Ronaldo dan Al Nassr setelah dibungkam Al Ahli 2-3 (goal)

Al Nassr takluk 2-3 dari Al Ahli. Ivan Toney menggila, Ronaldo terpeleset fatal. Simak analisis taktik dan drama ‘King of Jeddah’ di sini.

INDONESIAONLINE – Malam di King Abdullah Sports City, Jumat (2/1/2026), seharusnya menjadi panggung pembuka tahun yang manis bagi Cristiano Ronaldo dan pasukannya. Namun, di bawah sorotan lampu stadion yang menyilaukan di Jeddah, narasi kepahlawanan justru dicuri oleh sosok lain.

Bukan sang megabintang Portugal yang menjadi protagonis, melainkan Ivan Toney, penyerang asal Inggris yang mengubah laga pekan ke-13 Liga Arab Saudi musim 2025-2026 menjadi mimpi buruk bagi Al Nassr.

Skor akhir 2-3 untuk kemenangan tuan rumah Al Ahli bukan sekadar angka di papan skor. Ini adalah manifestasi dari pergeseran momentum, kegagalan taktik, dan sebuah momen “manusiawi” yang menyakitkan dari seorang legenda yang tengah bertarung melawan waktu.

Ivan Toney: Dari Sanksi Menjadi Sang Eksekutor

Ivan Toney, yang namanya sempat tercoreng akibat skandal pelanggaran aturan perjudian yang memaksanya absen selama delapan bulan dari sepak bola profesional beberapa tahun lalu, membuktikan bahwa insting predatornya belum tumpul. Melawan Al Nassr, Toney tampil bak monster di kotak penalti.

Data statistik pertandingan menunjukkan efektivitas Toney yang mengerikan. Dalam 20 menit pertama, ia berhasil mengeksploitasi celah di lini pertahanan Al Nassr yang dipimpin oleh Aymeric Laporte. Dua gol cepat yang ia sarangkan meruntuhkan mental tim tamu.

Gol-gol tersebut lahir dari pemanfaatan ruang sempit (half-space) dan kekuatan fisik yang memang menjadi keunggulan mantan striker Brentford tersebut. Toney tidak hanya mencetak gol; ia juga mencatatkan satu assist krusial untuk gol kemenangan yang dicetak oleh bek Turki, Merih Demiral.

Kontribusi tiga gol (dua gol dan satu assist) dalam satu laga big match menempatkan Toney sebagai Man of the Match mutlak. Penampilannya seolah menegaskan bahwa Liga Arab Saudi bukan hanya tempat pensiun, melainkan arena kompetitif di mana kelengahan sekecil apa pun akan dihukum.

Momen Antiklimaks CR7: Ketika Kaki Tak Lagi Sinkron dengan Pikiran

Di sisi lain lapangan, Cristiano Ronaldo mengalami malam yang ingin segera ia lupakan. Memasuki usia 41 tahun (pada Februari 2026 mendatang), Ronaldo masih dipercaya turun sebagai starter dan bermain penuh. Secara statistik musim ini, ia sebenarnya masih tajam dengan koleksi 13 gol, bersanding di puncak daftar top skor bersama kompatriotnya, Joao Felix.

Namun, sepak bola adalah permainan momen. Dan momen paling viral—sekaligus memalukan—terjadi pada menit ke-66. Saat itu, skor imbang 2-2 setelah Al Nassr susah payah bangkit lewat brace Al Amri. Sebuah umpan terobosan matang membelah pertahanan Al Ahli, menempatkan Ronaldo dalam posisi satu lawan satu dengan kiper.

Dalam masa kejayaannya di Real Madrid atau Manchester United, situasi seperti ini 99 persen akan berakhir dengan selebrasi “Siu”. Namun, realitas di Jeddah berkata lain. Saat hendak melakukan eksekusi, kaki Ronaldo justru tersangkut bola. Ia kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng, dan bola bergulir pelan ke pelukan kiper lawan yang bahkan tidak perlu melakukan penyelamatan gemilang.

Momen tersebut, yang kini beredar luas di platform X (Twitter) melalui akun @centregoals, menjadi simbol kejamnya Father Time (faktor usia). Analisis biomekanik sederhana menunjukkan adanya penurunan koordinasi motorik halus pada momen krusial yang membutuhkan kecepatan reaksi sepersekian detik. Meski visi bermain Ronaldo masih kelas dunia, eksekusi fisik kadang tak lagi bisa diajak kompromi.

Sepanjang 90 menit, Ronaldo melepaskan empat tembakan, namun tak ada satu pun yang bersarang di gawang. Rasa frustrasi sang kapten terlihat jelas saat peluit panjang dibunyikan. Ini adalah kekalahan pertama Al Nassr di tahun 2026, sekaligus noda dalam rekor tak terkalahkan mereka dalam beberapa pekan terakhir.

Drama Lima Gol dan Kerapuhan Pertahanan

Pertandingan itu sendiri berjalan dengan intensitas tinggi khas Saudi El Clasico. Setelah tertinggal 0-2 lewat aksi Toney, Al Nassr menunjukkan mentalitas juara dengan menyamakan kedudukan. Al Amri menjadi penyelamat sementara dengan dua golnya yang menghidupkan asa tim tamu.

Namun, petaka datang di pertengahan babak kedua. Kelengahan dalam mengantisipasi bola mati dan serangan balik cepat kembali menghukum Al Nassr. Ivan Toney, yang bermain cerdas dengan turun ke lini kedua, mengirimkan umpan kunci yang diselesaikan dengan dingin oleh Merih Demiral. Gol mantan bek Juventus dan Atalanta itu mengunci kemenangan Al Ahli.

Kekalahan ini mengekspos celah besar di lini belakang Al Nassr. Transisi negatif (dari menyerang ke bertahan) menjadi titik lemah yang dieksploitasi habis-habisan oleh pelatih Al Ahli. Absennya koordinasi yang solid membuat kiper Al Nassr harus memungut bola tiga kali dari gawangnya.

Secara matematis, Al Nassr masih berada di puncak klasemen sementara Liga Arab Saudi dengan 31 poin dari 12 pertandingan. Namun, posisi mereka kini sangat rawan. Rival abadi mereka, Al Hilal, mengintai di posisi kedua dengan 29 poin, hanya terpaut dua angka.

Kekalahan ini memberikan tekanan psikologis yang besar bagi Ronaldo dkk. Dengan Al Hilal yang memiliki kedalaman skuad mumpuni—termasuk bintang-bintang seperti Neymar (jika fit) dan Mitrovic—setiap poin yang hilang bagi Al Nassr bisa berakibat fatal dalam perburuan gelar juara.

Sementara itu, dalam persaingan individu, persaingan gelar sepatu emas semakin memanas. Kegagalan Ronaldo menambah pundi-pundi gol membuatnya tertahan di angka 13, angka yang sama dengan milik Joao Felix. Ivan Toney, dengan tambahan dua golnya, kini mulai merangsek naik ke papan atas daftar pencetak gol terbanyak, memberikan sinyal bahaya bagi para pesaingnya.

Laga di Jeddah ini memberikan dua pelajaran penting. Pertama, Al Ahli dengan Ivan Toney-nya adalah kekuatan yang tidak boleh diremehkan dan mampu menjadi pengganggu serius dalam duopoli Al Nassr-Al Hilal. Kedua, bagi Cristiano Ronaldo, musim 2025-2026 mungkin akan menjadi musim terberatnya secara mental dan fisik.

Tergelincirnya Ronaldo bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan pengingat bahwa di level tertinggi, nama besar tidak menjamin imunitas terhadap kesalahan. Al Nassr harus segera berbenah, atau takhta puncak klasemen akan segera berpindah tangan ke sisi biru Riyadh. Tahun 2026 baru saja dimulai, namun drama Liga Arab Saudi sudah mencapai titik didihnya.