RSI Masyithoh Bangil: Jejak Muslimat NU Menembus Standar Global

RSI Masyithoh Bangil: Jejak Muslimat NU Menembus Standar Global
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (io)

Khofifah resmikan Ruang Vaksinasi Internasional RSI Masyithoh Bangil. Bukti transformasi layanan kesehatan Muslimat NU dari BKIA menuju standar global.

INDONESIAONLINE – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan medis modern, sebuah rumah sakit berbasis umat di Bangil, Pasuruan, mencatatkan lompatan strategis. Rumah Sakit Islam (RSI) Masyithoh Bangil, yang lahir dari rahim perjuangan ibu-ibu Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), kini tidak lagi sekadar melayani kesehatan dasar.

Peresmian Ruang Vaksinasi Internasional oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi penanda bahwa fasilitas kesehatan berbasis ormas keagamaan mampu beradaptasi dengan kebutuhan global.

Peristiwa yang berlangsung bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah ini bukan sekadar seremoni gunting pita. Bagi Khofifah, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, ini adalah manifestasi dari visi panjang yang telah diletakkan para pendiri Muslimat NU lebih dari setengah abad silam.

Transformasi dari BKIA Menuju Standar Internasional

Dalam acara yang dirangkai dengan Hari Lahir (Harlah) ke-61 RSI Masyithoh Bangil tersebut, Khofifah membuka lembaran sejarah yang emosional. Ia menyoroti bagaimana transformasi layanan kesehatan Muslimat NU bergerak dinamis mengikuti zaman.

Fasilitas vaksinasi internasional bukanlah layanan sembarangan. Sesuai regulasi kesehatan global dan Undang-Undang Kesehatan, fasilitas ini memiliki kewenangan menerbitkan International Certificate of Vaccination (ICV) atau yang dikenal sebagai Buku Kuning. Dokumen ini merupakan syarat mutlak bagi perjalanan lintas negara tertentu, khususnya bagi jamaah Haji dan Umrah yang menjadi basis utama masyarakat Jawa Timur.

Kehadiran layanan ini di RSI Masyithoh memotong birokrasi dan jarak bagi masyarakat Pasuruan dan sekitarnya. Mereka tidak perlu lagi jauh-jauh ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di kota besar hanya untuk mendapatkan vaksin meningitis atau yellow fever. Ini adalah langkah cerdas RSI Masyithoh dalam menangkap peluang pasar sekaligus melayani umat.

“Perjuangan Muslimat NU di dalam bidang kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, itu luar biasa. Hari ini kita saksikan Harlah ke-61, sebuah usia matang yang membuktikan ketahanan institusi ini,” ujar Khofifah usai menandatangani prasasti didampingi Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr. Erwin Astha Triyono dan Direktur RSI Masyithoh dr. Handayanto.

Warisan Nyai Solichah Wahid: Visi Melampaui Zaman

Dalam pidatonya, Khofifah memberikan porsi besar untuk mengenang peran sentral Nyai Solichah Wahid—ibunda Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—dan para pendiri Yayasan Kesejahteraan Muslimat Nahdlatul Ulama (YKM NU).

Sejarah mencatat, RSI Masyithoh Bangil secara kelembagaan modern didirikan pada tahun 1989, namun akarnya menancap jauh lebih dalam pada gerakan sosial tahun 1950-an.

Khofifah menarik garis waktu ke tahun 1953, saat Kongres Muslimat NU digelar. Di era di mana angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) di Indonesia masih sangat tinggi, Nyai Solichah Wahid mengeluarkan instruksi revolusioner: setiap cabang Muslimat NU harus mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA).

“Bu Nyai Solichah Wahid itu di mana-mana selalu berpesan: jaga keluargamu, jaga keluargamu. Pesan sederhana ini diterjemahkan menjadi gerakan pendirian BKIA secara masif,” terang Khofifah.

BKIA inilah embrio dari poliklinik, yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), dan akhirnya bertransformasi menjadi Rumah Sakit Islam (RSI) dengan layanan paripurna seperti saat ini. Evolusi dari sekadar menolong persalinan hingga kini mampu melayani vaksinasi skala internasional menunjukkan adaptabilitas Muslimat NU terhadap tantangan kesehatan yang semakin kompleks.

Konsep ‘Keluarga Maslahah’: Lebih dari Sekadar Sehat

Lebih dalam lagi, Khofifah mengaitkan layanan kesehatan ini dengan konsep sosiologis-religius yang disebut “Keluarga Maslahah”. Saat masih menjabat sebagai anggota DPR RI, Khofifah mengaku mendapat amanat khusus dari Nyai Solichah untuk mengawal implementasi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.

Konsep Keluarga Maslahah yang diusung NU, menurut Khofifah, melampaui jargon normatif Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Maslahah mengandung unsur “kemanfaatan” dan “kebaikan bersama” yang berdampak sosial.

“Terminologi PBNU tentang Keluarga Maslahah sebenarnya adalah konsep dari Muslimat NU. Di dalamnya ada nilai co-parenting (pengasuhan bersama) dan musyawarah antara suami istri. Kesehatan fisik yang dilayani rumah sakit ini adalah pondasi untuk mencapai kemaslahatan tersebut,” paparnya.

Dengan adanya fasilitas kesehatan yang mumpuni, beban keluarga dalam merawat anggota yang sakit menjadi berkurang, sehingga produktivitas dan kesejahteraan keluarga tetap terjaga.

Peresmian ini juga dihadiri oleh Ketua Muslimat NU Bangil Anisah Syakur dan Ketua YKM NU Bangil Asfihani, yang menjadi motor penggerak operasional di lapangan. Keberhasilan RSI Masyithoh bertahan selama 61 tahun (dihitung sejak embrio layanannya) dan 36 tahun sejak formalisasi bangunan rumah sakit pada 1989, merupakan prestasi tersendiri di tengah persaingan industri rumah sakit swasta yang kian ketat.

Tantangan ke depan bagi RSI Masyithoh adalah mempertahankan mutu pelayanan di tengah pemberlakuan sistem Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS Kesehatan dan digitalisasi rekam medis. Namun, dengan pembukaan Ruang Vaksinasi Internasional, manajemen menunjukkan sinyal positif bahwa mereka siap berkompetisi.

“Mudah-mudahan Allah anugerahkan kita semua putra-putri yang soleh-soleha, manfaat, dan barokah. Terus sukses, seluruh timnya solid,” pungkas Khofifah menutup arahannya.

RSI Masyithoh Bangil kini berdiri bukan hanya sebagai tempat berobat, melainkan monumen hidup dari perjuangan perempuan NU. Dari menolong kelahiran bayi di era BKIA tahun 1950-an, hingga kini mengantar jamaah terbang ke Tanah Suci dengan sertifikat vaksin internasional, Muslimat NU membuktikan bahwa surban dan stetoskop bisa berjalan beriringan demi kemaslahatan umat (mba/dnv).