Era Baru Venezuela: Delcy Rodríguez di Tengah Badai Geopolitik

Era Baru Venezuela: Delcy Rodríguez di Tengah Badai Geopolitik
ilustrasi vektor Presiden Sementara venezuela Delcy Rodríguez (io)

Maduro ditangkap AS, MA Venezuela tunjuk Delcy Rodríguez jadi Presiden Sementara. Sosok loyalis yang pegang kendali minyak dan diplomasi di tengah krisis.

INDONESIAONLINE – Langit Caracas tampak kelabu pada awal Januari 2026, bukan karena cuaca, melainkan oleh ketidakpastian politik yang mengguncang fondasi Republik Bolivarian Venezuela. Kabar penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh otoritas Amerika Serikat bagaikan petir di siang bolong, memicu guncangan geopolitik terbesar di Amerika Latin dalam satu dekade terakhir.

Namun, sebelum kekosongan kekuasaan (power vacuum) sempat memicu anarki di jalanan, Mahkamah Agung Venezuela bergerak cepat dengan satu langkah taktis: menunjuk Wakil Presiden Delcy Eloína Rodríguez Gómez sebagai Presiden Sementara.

Keputusan yang dibacakan oleh Ketua Kamar Konstitusional, Caryslia Beatriz Rodríguez, pada Senin (5/1/2026), bukan sekadar prosedur administratif. Ini adalah pesan perlawanan sekaligus strategi pertahanan hidup rezim Chavismo. Dengan menempatkan Delcy Rodríguez di kursi kepresidenan, Venezuela kini dipimpin oleh sosok yang oleh banyak pengamat internasional dijuluki sebagai “Wanita Besi” dalam lingkaran dalam Maduro.

Darah Revolusioner dan Kader Ideologis

Untuk memahami arah Venezuela di bawah kendali Delcy, kita harus membedah siapa dirinya. Ia bukanlah teknokrat karbitan yang muncul tiba-tiba. Delcy, lahir di Caracas pada 18 Mei 1969, memiliki DNA politik yang kental.

Ia adalah putri dari Jorge Antonio Rodríguez, pendiri Liga Sosialis—sebuah kelompok berhaluan kiri radikal yang aktif pada era 1970-an. Ayahnya tewas dalam tahanan polisi pada tahun 1976, sebuah tragedi yang membentuk dendam politik sekaligus loyalitas tanpa syarat Delcy terhadap gerakan sosialis.

Pendidikan hukumnya di Universitas Pusat Venezuela (UCV) menjadi fondasi intelektualnya. Namun, berbeda dengan aktivis jalanan biasa, Delcy melengkapi dirinya dengan keahlian diplomasi dan hukum internasional yang mumpuni.

Bersama saudara laki-lakinya, Jorge Rodríguez—yang kini menjabat Ketua Majelis Nasional dan merupakan otak strategi politik partai penguasa PSUV—mereka membentuk duo kakak-beradik paling berpengaruh di Venezuela pasca-kematian Hugo Chavez.

Arsitek Konsolidasi Kekuasaan

Rekam jejak birokrasi Delcy menunjukkan pola yang jelas: ia selalu ditempatkan di posisi di mana rezim membutuhkan “tangan dingin”. Pada periode 2013-2014, saat Maduro baru memulai masa jabatannya yang goyah, Delcy didapuk menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi. Tugasnya jelas: menguasai narasi publik di tengah gempuran media oposisi.

Kariernya melesat ketika ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (2014-2017). Di sinilah ia menunjukkan taringnya di panggung global, kerap terlibat adu argumen sengit dalam sidang-sidang Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) membela kedaulatan Venezuela dari apa yang disebutnya “imperialisme Yankee”.

Namun, peran paling krusialnya terjadi pada 2017. Saat Venezuela dilanda protes massa berdarah, Delcy ditunjuk sebagai Ketua Majelis Konstituen Nasional (ANC). Lembaga ini secara de facto mengambil alih fungsi parlemen yang saat itu dikuasai oposisi, memberikan landasan hukum bagi Maduro untuk tetap berkuasa.

Keberhasilannya meredam gejolak 2017 adalah bukti loyalitas dan efektivitasnya, yang kemudian mengantarkannya ke kursi Wakil Presiden Eksekutif.

Diplomasi Minyak dan Pragmatisme Ekonomi

Salah satu alasan mengapa penunjukan Delcy dianggap strategis oleh Mahkamah Agung adalah portofolio terbarunya. Sejak 2024, di samping jabatan Wakil Presiden, ia memegang kendali penuh atas Kementerian Perminyakan. Ini adalah “jantung” Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia yang mencapai lebih dari 300 miliar barel (berdasarkan data OPEC).

Di tengah sanksi ekonomi yang mencekik, Delcy memainkan peran ganda yang unik. Di satu sisi, ia adalah target sanksi Uni Eropa dan Amerika Serikat atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan pengeroposan demokrasi. Namun di sisi lain, ia adalah sosok pragmatis yang menjalin komunikasi intensif dengan investor energi asing, termasuk melobi pelaku industri minyak AS dan kalangan Wall Street.

Laporan yang menyebutkan adanya penolakan dari sebagian pebisnis AS terhadap upaya pergantian rezim paksa, kemungkinan besar adalah buah dari lobi-lobi senyap yang dilakukan Delcy. Ia memahami bahwa bagi dunia, stabilitas pasokan minyak Venezuela lebih penting daripada siapa yang duduk di Istana Miraflores.

Dengan memegang kendali atas PDVSA (perusahaan minyak negara), Delcy memiliki kartu truf untuk bernegosiasi dengan dunia internasional, bahkan dengan musuh politiknya sekalipun.

Presidensi di Atas Bara Api

Meskipun secara konstitusional sah menurut hukum Venezuela, posisi Delcy Rodríguez sangatlah rapuh. Penunjukannya sebagai “Presiden Sementara” dengan narasi bahwa “Maduro tetap Presiden sah yang dikriminalisasi” menciptakan dualisme legitimasi yang membingungkan.

Tantangan terbesarnya bukan hanya tekanan dari Washington, melainkan konsolidasi internal. Kunci kekuasaan di Venezuela ada pada Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB). Selama ini, militer setia pada Maduro karena struktur insentif ekonomi yang dibangun sang patron. Apakah loyalitas para jenderal akan beralih mulus kepada Delcy?

Deicy Rodríguez kini berdiri di persimpangan sejarah. Ia harus memastikan roda pemerintahan tidak macet, menjaga loyalitas militer, mengelola ekonomi yang rapuh, dan di saat bersamaan memimpin upaya diplomasi (atau konfrontasi) untuk membebaskan Nicolas Maduro.

Pernyataannya yang mendesak “proses hukum internasional yang transparan” menunjukkan bahwa ia akan menggunakan jalur litigasi global sebagai panggung perlawanan. Namun, bagi rakyat Venezuela, pertanyaan besarnya adalah apakah kepemimpinan Delcy akan membawa stabilitas atau justru memperpanjang isolasi negara tersebut dari komunitas global.

Satu hal yang pasti, dengan naiknya Delcy Rodríguez, Venezuela tidak sedang melunak. Negara ini justru sedang menegaskan posisinya untuk bertahan dengan segala cara, dipimpin oleh seorang wanita yang telah ditempa oleh sejarah kekerasan politik dan diplomasi tingkat tinggi.

Caracas mungkin sedang berduka atas nasib Maduro, namun di bawah Delcy, mesin kekuasaan Chavismo menolak untuk berhenti berputar.