Disbudpar Magetan jawab isu getok harga Telaga Sarangan dengan paket wisata terpadu. Fokus kolaborasi dan transparansi demi kenyamanan turis.
INDONESIAONLINE – Di kaki Gunung Lawu, kabut tipis yang menyelimuti Telaga Sarangan seharusnya menyajikan ketenangan. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, atmosfer di salah satu destinasi andalan Jawa Timur ini sempat terusik oleh “kabut” lain yang lebih pekat: isu viral mengenai praktik “getok harga“.
Kabar mengenai tarif makanan maupun jasa yang dianggap tidak wajar mencuat di media sosial, memancing perdebatan publik dan menguji reputasi pariwisata Kabupaten Magetan.
Di tengah riuh rendah komentar warganet, muncul spekulasi liar bahwa isu ini bukan sekadar keluhan konsumen biasa. Ada dugaan bahwa narasi negatif ini sengaja diembuskan oleh pihak-pihak tertentu—kompetitor destinasi wisata di sekitar wilayah Sarangan dan Magetan—sebagai upaya black campaign untuk menjatuhkan pamor Telaga Sarangan yang selama ini menjadi primadona.
Namun, alih-alih terpancing untuk mencari kambing hitam atau meladeni polemik persaingan tidak sehat, Pemerintah Kabupaten Magetan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) memilih mengambil jalan sunyi namun strategis: reformasi sistem melalui kolaborasi.
Menepis Rumor dengan Solusi Sistemik
Kepala Disbudpar Kabupaten Magetan, Joko Trihono, menyadari bahwa dalam era digital, persepsi adalah mata uang yang sangat berharga. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat bahwa 70% wisatawan milenial menentukan destinasi liburan mereka berdasarkan ulasan digital dan transparansi biaya. Isu “getok harga”, benar atau tidaknya, adalah racun bagi ekosistem pariwisata yang baru saja bangkit pasca-pandemi.
Menanggapi dugaan sabotase reputasi oleh pesaing, Joko menolak untuk terjebak dalam permainan saling tuding. Baginya, isu ini adalah alarm peringatan (wake-up call) bahwa pariwisata Magetan harus naik kelas, dari sekadar menjual pemandangan menjadi menjual kepercayaan.
“Kami tidak ingin fokus pada siapa yang memunculkan isu ini. Jika ada kabar bahwa ini berasal dari persaingan antar destinasi, maka jawaban terbaik kami adalah kolaborasi. Pariwisata Magetan tidak akan besar jika kita berjalan sendiri-sendiri,” tegas Joko Trihono dalam keterangan resminya.
Pernyataan ini menandai pergeseran paradigma pengelolaan wisata di Magetan. Dari yang sebelumnya terfragmentasi—di mana pedagang, pengelola perahu, hotel, dan destinasi lain berjalan masing-masing—kini didorong menuju integrasi.
Paket Wisata Terpadu: Sebuah “Perisai” Transparansi
Langkah konkret yang digagas Disbudpar Magetan adalah menggandeng agen perjalanan (travel agent) untuk menyusun paket perjalanan lengkap atau all-in-one package. Strategi ini bukan hal baru di dunia pariwisata global, namun penerapannya di destinasi tingkat kabupaten seringkali terkendala ego sektoral.
Mekanisme paket wisata terpadu ini bekerja dengan menyatukan seluruh komponen biaya—tiket masuk, makan, penginapan, hingga atraksi wisata—ke dalam satu harga final yang dibayar di muka.
Mengapa strategi ini ampuh melawan “getok harga”?
- Kepastian Harga: Wisatawan tidak perlu cemas saat memesan makanan atau menyewa jasa kuda/perahu, karena semua sudah terbayar dalam paket. Tidak ada celah bagi oknum nakal untuk menaikkan harga secara sepihak di lokasi (on the spot).
- Standarisasi Layanan: Agen perjalanan memiliki standar kualitas. Mereka hanya akan bekerjasama dengan vendor (restoran/hotel) yang terpercaya. Ini secara tidak langsung memaksa pelaku usaha di Sarangan untuk menjaga kualitas dan harga jika ingin masuk dalam ekosistem paket wisata.
- Pemerataan Ekonomi: Paket wisata memungkinkan wisatawan tidak hanya menumpuk di Telaga Sarangan. Rute perjalanan bisa diatur untuk mengunjungi destinasi penyangga seperti Kebun Refugia, Air Terjun Tirtosari, atau sentra kerajinan kulit di kota Magetan.
“Kami ingin mengajak para travel agent duduk bersama. Mari kita buat satu paket wisata yang solid. Jadi, saat orang datang ke Sarangan, mereka juga akan diajak menikmati destinasi lain di sekitarnya dalam satu harga yang kompetitif dan transparan,” tambah Joko.
Langkah Disbudpar ini sangat relevan jika melihat data kunjungan wisata. Telaga Sarangan menyumbang porsi terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Magetan. Berdasarkan data tahunan, kunjungan ke Sarangan bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan wisatawan per tahun, terutama saat musim libur Lebaran dan Tahun Baru.
Namun, ketergantungan pada satu ikon wisata memiliki risiko tinggi. Jika citra Sarangan rusak, ekonomi Magetan akan terguncang. Diversifikasi melalui paket wisata adalah jaring pengaman ekonomi.
Selain itu, fokus pada Length of Stay (lama inap) menjadi krusial. Data pariwisata nasional menunjukkan bahwa rata-rata lama menginap wisatawan domestik masih berkisar 1-2 hari. Dengan adanya paket wisata yang terstruktur dan mengunjungi banyak titik, wisatawan “dipaksa” secara halus untuk tinggal lebih lama.
Semakin lama mereka tinggal, semakin besar belanja wisatawan (tourist spending) yang mengalir ke masyarakat lokal, mulai dari pedagang oleh-oleh hingga penyedia jasa laundry.
Membangun Ekosistem yang Sehat
Dugaan persaingan tidak sehat yang dihembuskan di awal, justru dijawab dengan konsep co-opetition (kooperasi dalam kompetisi). Joko Trihono ingin memastikan bahwa destinasi di sekitar Sarangan bukanlah pesaing yang saling mematikan, melainkan mitra yang saling melengkapi.
“Dengan begitu, semua destinasi akan terangkat secara bersamaan,” ujarnya optimis.
Pemerintah Kabupaten Magetan juga berkomitmen untuk tidak melepaskan fungsi pengawasan. Pembinaan kepada pelaku usaha kuliner dan jasa di kawasan telaga terus digencarkan. Kewajiban mencantumkan daftar harga menu makanan secara jelas di setiap warung makan adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Pada akhirnya, isu viral “getok harga” ini menjadi momentum berharga bagi wisata magetan. Ia menjadi katalisator perubahan dari manajemen wisata yang tradisional menuju manajemen modern yang berbasis transparansi dan kolaborasi. Bagi wisatawan, ini adalah kabar baik: jaminan keamanan dompet saat menikmati dinginnya telaga sarangan. Bagi Magetan, ini adalah strategi bertahan dan bertumbuh di tengah kompetisi industri pariwisata yang semakin sengit.
Alih-alih membalas “serangan” isu dengan bantahan kosong, Magetan memilih menjawabnya dengan kerja nyata: menciptakan sistem yang membuat kecurangan tidak lagi memiliki ruang gerak (bas/dnv).












