Menelusuri jejak Kerajaan Gelang-Gelang di kaki Gunung Wilis. Dari pemberontakan Jayakatwang, reruntuhan keraton, hingga legenda Ratu Gelang yang mistis.
INDONESIAONLINE – Angin sore berhembus pelan di antara rimbunnya hutan jati dan hamparan sawah yang membelah jalur Madiun menuju Ponorogo. Di kaki Gunung Wilis yang berdiri angkuh membentengi cakrawala timur, tersimpan sebuah kesunyian yang ganjil.
Di balik nama-nama desa yang terdengar bersahaja seperti Glonggong, Ngrawan, Gedong, hingga Pelem Gurih, terkubur sebuah memori peradaban yang pernah mengguncang tanah Jawa tujuh abad silam.
Tanah ini bukan sekadar area pertanian biasa. Di sinilah, menurut peta-peta kuno dan serat-serat babad yang mulai lapuk, pernah berdiri Kerajaan Gelang-Gelang. Sebuah entitas politik yang namanya timbul tenggelam dalam arus besar sejarah Nusantara, namun memegang kunci transisi dramatis dari era Singasari menuju fajar kemegahan Majapahit.
Sejarah Gelang-Gelang adalah sejarah tentang ambisi, dendam, cinta yang kandas, dan bagaimana modernitas kolonial secara brutal menghapus jejak masa lalu. Melalui pendekatan historiografi kritis yang memadukan arkeologi dan tradisi lisan, kita mencoba menyusun ulang puing-puing kedaton yang hilang tersebut.

Hantu di Peta Kolonial: Mencari Kedaton yang Sirna
Jauh sebelum deru mesin Pabrik Gula Pagotan memecah keheningan wilayah selatan Madiun, para penjelajah kolonial telah mencium aroma kebesaran masa lalu di kawasan ini. Jejak paling tua dan otentik terekam dalam sebuah peta kuno yang diterbitkan oleh J.K.J. de Jonge dalam magnum opusnya, De Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-Indie (1862–1909).
Peta itu, dengan garis-garis litografi yang tegas, menunjuk sebuah titik di kaki Gunung Wilis sebagai bekas kerajaan yang telah sunyi.
Kesaksian peta itu diperkuat oleh kunjungan fisik seorang arkeolog Hindia Belanda, N.W. Hoepermans. Pada bulan Maret 1866, Hoepermans berdiri di atas tanah yang kini kita kenal sebagai Desa Glonggong dan sekitarnya.
Dalam catatannya yang berharga, ia tidak lagi menemukan struktur kayu megah layaknya sebuah istana utuh. Namun, matanya menangkap hamparan bata merah kuno yang berserakan luas dan sisa-sisa fondasi tua yang masif. Hoepermans mencatat bahwa peradaban itu nyata, meski fisiknya telah remuk redam dimakan usia.
Tragedi arkeologis terbesar bagi Gelang-Gelang terjadi di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ketika J. Knebel dari Oudheidkundige Commissie (Komisi Purbakala) melakukan ekspedisi pada tahun 1905–1906, ia mendapati kenyataan pahit.
Jejak fisik yang dilihat Hoepermans tiga dekade sebelumnya nyaris musnah. Bata-bata merah berukuran besar—ciri khas bangunan era klasik Majapahit dan Kediri—telah dijarah. Sebagian besar material berharga itu diangkut ke kota, atau lebih ironis lagi, “dibalur” menjadi bagian dari fondasi pembangunan Pabrik Gula Pagotan dan pesanggrahan di sumber air panas Ngumbul.
Gelang-Gelang dihancurkan dua kali: pertama oleh perang di masa silam, dan kedua oleh industrialisasi kolonial. Kini, yang tersisa hanyalah toponimi atau nama tempat. Nama “Glonggong” diyakini para sejarawan lokal berkaitan dengan struktur bangunan besar, sementara wilayah tingginya yang disebut “Daton” adalah kependekan dari “Kedaton”—pusat istana sang raja.
Meskipun fisiknya lenyap, tanah ini memuntahkan bukti-bukti bisu. Sebuah arca Durga Mahisasuramardini bertarikh 1338 Saka (1414 Masehi) ditemukan sebagai penanda adanya pemujaan Siwa-Sakti. Di Masjid Dusun Ngrawan, Dolopo, tersimpan sebuah yoni—simbol kesuburan dan pasangan dari lingga—yang kini beralih fungsi namun tetap dihormati.
Batu bertulis angka tahun 1320 Saka (1398 Masehi) juga pernah menyeruak dari dalam tanah, menegaskan bahwa kawasan ini masih aktif dan dihuni oleh masyarakat berkebudayaan tinggi hingga abad ke-15.

Jayakatwang: Sang Pemberontak dari Kaki Wilis
Menyebut Gelang-Gelang, tak mungkin melepaskan bayang-bayang Jayakatwang. Dalam naskah Pararaton, kitab para raja yang menjadi rujukan utama sejarah Singasari-Majapahit, nama Gelang-Gelang disebut secara eksplisit. Jayakatwang bukan sekadar bangsawan bawahan; ia adalah Adipati Gelang-Gelang, sebuah wilayah otonom di perbatasan barat Kediri.
Historiografi tradisional sering menempatkan Jayakatwang sebagai antagonis—penghancur Singasari yang membunuh Raja Kertanegara pada tahun 1292 saat sang raja tengah melakukan ritual Tantra. Namun, jika dilihat dari perspektif geopolitik Gelang-Gelang, Jayakatwang adalah tokoh yang visioner.
Dari basis kekuasaannya di kaki Wilis inilah ia menyusun kekuatan, memobilisasi pasukan, dan melancarkan serangan taktis “Pancingan Utara” dan “Serbuan Selatan” yang meluluhlantakkan Singasari.
Keberadaan Gelang-Gelang sebagai pusat militer dan politik juga terkonfirmasi dalam catatan kronik Tiongkok dari Dinasti Yuan. Pasukan Mongol yang datang ke Jawa pada 1293 untuk menghukum Kertanegara (yang sudah tewas) mencatat adanya penguasa bernama “Raja Kalang” di wilayah Daha.
Besar kemungkinan “Kalang” adalah pelafalan lidah Tiongkok untuk “Gelang”. Ini membuktikan bahwa eksistensi Gelang-Gelang diakui secara internasional pada masa itu sebagai entitas yang setara atau bahkan identik dengan Kediri pasca-runtuhnya Singasari.
Perdebatan akademis di kalangan sarjana kolonial semakin memperkaya misteri ini. Brandes, filolog termasyhur itu, berhipotesis bahwa keraton di Daha dan Glonggong mungkin adalah pusat Kerajaan Kediri itu sendiri.
Namun, N.J. Krom membantahnya dengan argumen bahwa Kediri selalu berpusat di lokasi lamanya di tepi Brantas. Poerbatjaraka kemudian mengambil jalan tengah yang menarik: Jayakatwang memang raja Kediri, namun ia memulai basis kekuasaannya dan mungkin sempat bermukim di Gelang yang secara administratif masuk wilayah Madiun selatan.
Rimbawan T. Altona pada tahun 1927 memberikan perspektif spasial yang lebih detail. Berdasarkan pengamatannya terhadap bentang alam, ia menduga Gelang adalah kerajaan merdeka dengan batas teritorial yang jelas: membentang dari Gunung Pandan dan Dusun Ketupu hingga Gunung Dorowati.
Benteng-benteng kecil dan pos pengawas kuno di perbukitan Saradan dan Wilis adalah sisa-sisa sistem pertahanan Gelang-Gelang yang menjaga koridor antara Jawa Timur bagian tengah dengan wilayah barat.

Ratu Gelang: Antara Mitos, Cinta, dan Kutukan
Jika sejarah Jayakatwang penuh dengan darah dan besi, maka memori kolektif masyarakat lokal tentang Gelang-Gelang dipenuhi dengan nuansa mistis dan romansa tragis. Di desa-desa seperti Daha dan Glonggong, nama Jayakatwang mungkin asing bagi sebagian orang tua, tetapi tidak dengan nama “Ratu Gelang”.
Legenda Ratu Gelang adalah sebuah alegori yang indah namun pedih. Dikisahkan, sang ratu sejatinya adalah seekor cacing yang diselamatkan dan diubah wujudnya menjadi manusia jelita oleh Sunan Kalijaga—tokoh sentral dalam penyebaran Islam di Jawa. Metafora “cacing menjadi manusia” ini bisa dibaca sebagai simbolisasi peralihan status sosial atau bahkan “pencerahan” spiritual dari kepercayaan lama menuju ajaran baru.
Drama dimulai ketika Sunan Kalijaga mengutus dua pangeran sepupunya, Setrowijoyo dan Setrowirudo, untuk meminang sang Ratu. Ada janji yang terucap bahwa Ratu Gelang akan menikahi yang tertua. Namun, takdir berkata lain; hati sang Ratu tertambat pada pangeran yang lebih muda. Pelanggaran janji dan konflik hasrat ini berujung pada malapetaka kosmis.
Kisah tutur menyebutkan bahwa Setrowijoyo, yang merasa terhina dan dikhianati, memilih mengakhiri hidupnya. Sang adik, Setrowirudo, menyusul dalam keputusasaan yang sama. Bahkan prajurit sakti bernama Tambakyudo yang mencoba menantang takdir pun gugur dalam pertempuran batin maupun fisik.
Tragedi ini ditutup dengan sebuah “kutukan”: Keraton Gelang yang megah kembali ditelan hutan belantara, dan sang Ratu yang cantik kembali ke wujud asalnya. Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah cara masyarakat Jawa merasionalisasi kehancuran sebuah peradaban. Mengapa keraton itu hilang? Karena ada janji yang dilanggar. Mengapa Islam masuk? Karena ada intervensi Sunan Kalijaga yang mencoba menata “kekacauan” emosional para penguasa lama.
Makam tokoh-tokoh dalam legenda ini, seperti Makam Gedong di Dolopo, hingga kini masih dikeramatkan. Keberadaannya menjadi bukti bahwa bagi masyarakat setempat, batas antara sejarah dan mitos sangatlah tipis. Mereka tidak peduli pada tahun berapa Jayakatwang menyerang Singasari, tetapi mereka sangat peduli untuk menghormati “danyang” atau leluhur yang menjaga keseimbangan desa.

Transisi Menuju Islam: Dari Brakumoro ke Ngabdul Mursat
Gelang-Gelang tidak mati bersama Jayakatwang. Kerajaan ini terus bermetamorfosis melewati zaman Majapahit hingga masuknya Islam. Pada abad ke-15, saat Majapahit mulai meredup, nama Gelang kembali mencuat dalam genealogi para penguasa lokal.
Cerita rakyat dan silsilah keluarga bangsawan (trah) mencatat nama Prabu Brakumoro atau Prabu Wijoyo sebagai penguasa Gelang. Ia diyakini sebagai keturunan Bhre Tumapel (1447–1451). Estafet kekuasaan berlanjut kepada putranya, Pangeran Demang Irawan, hingga ke cucunya yang dikenal sebagai Raden Demang.
Di sinilah terjadi persinggungan sejarah yang menarik dengan berdirinya Kabupaten Ponorogo. Raden Demang dikisahkan berselisih atau merasa terancam dengan kedatangan Batoro Katong, putra Brawijaya V yang diutus Demak untuk mengislamkan wilayah timur Gunung Lawu.
Ketegangan politik antara “penguasa lama” (Gelang) dan “kekuatan baru” (Ponorogo/Islam) ini terekam dalam narasi pelarian Raden Demang ke Kediri hingga ia wafat di Ngadiluwih.
Namun, versi lain menawarkan jalan damai melalui pernikahan politik. Disebutkan bahwa putri Brawijaya V, Dewi Manik, menikah dengan Adipati Gegelang bernama Aryo Sumangsang. Keturunan mereka, Pangeran Demang, akhirnya memeluk Islam dan berganti nama menjadi Kiai Ageng Ngabdul Mursat.
Perubahan nama ini adalah simbolisasi sempurna dari proses Islamisasi kultural: darah biru Majapahit tidak dibuang, tetapi “dibaptis” dengan identitas baru yang Islami. Kiai Ageng Ngabdul Mursat menjadi jembatan penghubung antara era Hindu-Buddha yang memudar dengan fajar Islam yang menyingsing di lereng Wilis.
Situs Bisu di Tepian Zaman
Menelusuri Gelang-Gelang hari ini adalah perjalanan menyusun puzzle yang sebagian kepingannya telah hilang. Namun, situs-situs yang tersisa masih memancarkan aura sakral.
Di Nampu dan Sebayi, arca Ganesha dan patung raksasa (Dwarapala) pernah ditemukan, menandakan batas-batas suci atau gerbang wilayah. Lingga dan yoni yang tersebar di Ketupu, Selo Haji, hingga hutan Puser di perbatasan Widas, berbicara tentang kultus kesuburan yang pernah hidup subur di tengah masyarakat agraris kuno.
Ada pula tempat bernama Srampangmojo, sebuah toponimi yang mengerikan, yang konon menjadi kuburan massal bagi mereka yang tewas dalam konflik perbatasan di masa lalu. Semua situs ini membentuk sebuah lanskap budaya (cultural landscape) yang padat makna.
Dari perspektif historiografi kritis, Gelang-Gelang mengajarkan kita tentang konsep “ruang liminal” atau ruang antara. Gelang bukanlah pusat kekuasaan tunggal seperti Trowulan, tetapi ia juga bukan desa perdikan biasa. Ia adalah frontier—daerah perbatasan yang dinamis, tempat di mana pemberontakan direncanakan (era Jayakatwang) dan tempat di mana keyakinan baru dinegosiasikan (era Sunan Kalijaga dan Kiai Ageng Ngabdul Mursat).
Epilog: Memori yang Menolak Padam
Matahari mulai terbenam di balik punggung Gunung Wilis, melemparkan bayang-bayang panjang ke atas desa-desa di Dolopo. Pabrik gula tua masih berdiri, jalan raya Madiun-Ponorogo semakin padat, namun ingatan tentang Gelang-Gelang tetap bertahan dengan caranya sendiri.
Ia tidak bertahan dalam bentuk candi megah yang menjulang ke langit. Ia bertahan dalam gundukan tanah yang dikeramatkan, dalam nama desa yang diucapkan sehari-hari, dan dalam tembang macapat atau dongeng yang dituturkan kakek kepada cucunya.
Sejarah Gelang-Gelang adalah pengingat bahwa kekuasaan bisa runtuh, istana bisa rata dengan tanah, namun narasi yang dibangun oleh manusia—baik itu fakta sejarah maupun mitos—memiliki daya hidup yang jauh lebih panjang dari usia batu bata.
Di antara reruntuhan yang tak kasat mata itu, Gelang-Gelang tetap hidup sebagai “Mata Rantai yang Hilang”, menghubungkan kejayaan masa lalu dengan identitas masyarakat Jawa masa kini. Sebuah kerajaan bayangan yang senantiasa mengawasi dari kaki Gunung Wilis.
Referensi:
- Pararaton. (Naskah Kuno Jawa yang diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes).
- De Jonge, J.K.J. (1862). De Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-Indie.
- Hoepermans, N.W. (1866). Verslag van een Oudheidkundig Onderzoek op Java.
- Knebel, J. (1906). Rapport Oudheidkundige Commissie.
- Krom, N.J. (1931). Hindoe-Javaansche Geschiedenis.
- Tradisi Lisan Masyarakat Dolopo dan Glonggong, Madiun.













