Revolusi Becak 4.0 Malang: Armada Listrik Prabowo Siap Masuk Aplikasi

Revolusi Becak 4.0 Malang: Armada Listrik Prabowo Siap Masuk Aplikasi
Bupati Malang Sanusi saat menaiki becak listrik bantuan pribadi Presiden Prabowo Subianto di pendapa Kabupaten Malang (jtn/io)

Pemkab Malang kembangkan aplikasi mirip ojol untuk 200 becak listrik bantuan Presiden Prabowo. Solusi transportasi hijau dan modernisasi nasib tukang becak.

INDONESIAONLINE – Di tengah hiruk-pikuk disrupsi teknologi transportasi yang didominasi oleh raksasa ride-hailing global, sebuah inisiatif unik muncul dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Transportasi becak, yang selama puluhan tahun menjadi ikon “wong cilik” dan kearifan lokal, kini bersiap melompat ke era digital.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang tengah merancang ekosistem digital khusus untuk mengakomodasi operasional becak listrik, sebuah langkah modernisasi yang dipicu oleh bantuan massal dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Wacana “Becak 4.0” ini mencuat pasca penyaluran 200 unit becak listrik oleh Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) pada Selasa, 20 Januari 2026. Langkah ini bukan sekadar pemberian amal, melainkan sebuah eksperimen sosial-ekonomi untuk melihat apakah moda transportasi roda tiga ini mampu bertahan dan bersaing di tengah gempuran motor dan mobil berbasis aplikasi.

Transformasi dari Pangkalan ke Genggaman

Ide digitalisasi ini bermula dari diskusi strategis antara Pemkab Malang dengan Ketua Yayasan GSN, Letjen TNI (Purn) Teguh Arief Indratmoko. Teguh menilai, memberikan kail (becak listrik) saja tidak cukup; nelayan (penarik becak) juga butuh kolam yang tepat (pasar digital).

Dalam era di mana konsumen menginginkan kepraktisan satu sentuhan jari, becak yang hanya mangkal di persimpangan jalan berisiko ditinggalkan zaman.

“Saya sampaikan kepada Pak Bupati, apabila penarik becak listrik ini ditambahkan aplikasi yang sama dengan Gojek atau Grab, itu akan lebih menguntungkan lagi. Ini tentang mempertemukan demand (penumpang) dan supply (becak) secara efisien,” ujar Teguh Arief dalam keterangannya di Malang.

Rencana pembuatan aplikasi ini akan mengubah paradigma operasional becak. Jika sebelumnya penarik becak harus menunggu berjam-jam di pangkalan atau mengayuh keliling mencari penumpang, sistem aplikasi akan memungkinkan mereka mendapatkan pesanan secara real-time berdasarkan lokasi GPS.

Ini adalah replikasi model bisnis ojek online (ojol) yang terbukti sukses, namun diterapkan pada segmen transportasi mikro yang lebih spesifik.

Bupati Malang, HM. Sanusi, merespons tantangan ini dengan instruksi kebijakan yang konkret. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk membangun infrastruktur lunak (software) tersebut.

“Nanti ditindaklanjuti oleh Dishub (Dinas Perhubungan Kabupaten Malang). Nanti Dishub yang akan bikin aplikasinya,” tegas Sanusi. Pernyataan ini menandakan bahwa negara hadir tidak hanya dalam bentuk fisik barang, tetapi juga dalam fasilitasi sistem.

Analisis Komparatif: Becak Listrik vs Ojek Bensin

Dari perspektif ekonomi dan lingkungan, integrasi becak listrik ke dalam sistem aplikasi memiliki keunggulan kompetitif (unique selling point) yang kuat dibandingkan ojek motor konvensional.

Pertama, faktor kapasitas dan kenyamanan. Ojek motor hanya mampu mengangkut satu penumpang. Sementara becak listrik desain terbaru ini dirancang untuk memuat dua orang dewasa sekaligus dengan atap pelindung.

“Becak listrik ini punya nilai plus. Bisa angkut dua penumpang sekaligus tanpa harus kepanasan dan kehujanan. Ini fitur yang tidak dimiliki ojek motor biasa,” analisis Teguh.

Kedua, efisiensi energi dan biaya operasional. Mayoritas armada ojek online saat ini masih menggunakan mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine) berbahan bakar bensin. Dengan fluktuasi harga BBM dunia yang tidak menentu di tahun 2026, biaya operasional ojek bensin cenderung tinggi. Sebaliknya, becak listrik menawarkan biaya energi yang jauh lebih rendah.

Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa kendaraan listrik bisa menghemat biaya operasional hingga 70-80% dibandingkan kendaraan BBM. Jika seorang pengojek menghabiskan Rp 30.000 – Rp 50.000 per hari untuk bensin, pengisian daya baterai becak listrik untuk jarak tempuh yang sama mungkin hanya menelan biaya di bawah Rp 10.000. Selisih margin ini adalah keuntungan bersih yang bisa dibawa pulang oleh penarik becak untuk keluarga mereka.

Ketiga, aspek lingkungan. Di tengah target Net Zero Emission Indonesia, penggunaan 200 unit becak listrik di Kabupaten Malang akan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon lokal.

“Becak ini ramah lingkungan, jadi jauh lebih menang dari sisi keberlanjutan,” tambah Teguh.

Nostalgia Prabowo dan Pemberdayaan Ekonomi Arus Bawah

Di balik kecanggihan rencana aplikasi ini, terdapat sentuhan personal dari Presiden Prabowo Subianto. Bantuan 200 unit becak listrik ini diketahui bersumber dari dana pribadi Presiden yang disalurkan melalui GSN. Langkah ini mencerminkan keberpihakan pada sektor informal yang seringkali luput dari skema bantuan korporasi besar.

“Beliau (Presiden Prabowo) terenyuh. Becak ini kan transportasi tradisional yang punya nilai sejarah. Walaupun sudah ada Gojek dan lain-lain, tapi ini kan masih dibutuhkan oleh masyarakat, terutama untuk jarak dekat di kawasan perumahan atau pasar,” ujar Teguh menceritakan latar belakang bantuan tersebut.

Bagi Bupati Sanusi, bantuan ini adalah penyambung nyawa ekonomi bagi warganya. Ribuan penarik becak di Malang selama ini hidup dalam ketidakpastian pendapatan. Dengan usia yang mayoritas tidak lagi muda, mereka sulit beralih profesi menjadi buruh pabrik atau pekerja formal lainnya. Becak listrik memangkas beban fisik mengayuh, sementara aplikasi memangkas beban mencari penumpang.

“Saya sebagai Bupati Malang sangat berterima kasih. Ini bantuan yang sangat berharga untuk para abang-abang becak yang memang pekerjaan rutinitasnya adalah sebagai penarik becak. Ini menjaga dapur mereka tetap ngebul,” ucap Sanusi dengan nada haru.

Tantangan Adopsi Teknologi

Namun, jalan menuju digitalisasi becak di Malang bukan tanpa kerikil. Tantangan terbesar yang dihadapi Dishub Kabupaten Malang nantinya bukan pada pembuatan aplikasinya—yang secara teknis mudah dilakukan oleh programmer—melainkan pada literasi digital para pengemudinya.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memang menunjukkan penetrasi internet di Pulau Jawa sangat tinggi, mencapai lebih dari 80%. Namun, demografi penarik becak umumnya berada pada kelompok usia 40 tahun ke atas dengan tingkat pendidikan yang beragam.

Mengajarkan mereka mengoperasikan smartphone, membaca peta digital, dan mengelola dompet digital (e-wallet) memerlukan pendampingan intensif dan antarmuka aplikasi (user interface) yang sangat sederhana.

Jika Pemkab Malang sukses mengeksekusi proyek ini, Kabupaten Malang bisa menjadi pilot project nasional bagaimana teknologi Electric Vehicle (EV) dan ekonomi digital bersinergi menyelamatkan transportasi tradisional dari kepunahan, sekaligus mengangkat derajat ekonomi pelakunya.

Aplikasi becak listrik ini bukan sekadar alat order, melainkan jembatan peradaban bagi “wong cilik” menuju masa depan yang lebih sejahtera (al/dnv).