Analisis mendalam drakor Dear X: Transformasi radikal Kim Yoo Jung sebagai sosiopat, sentuhan sutradara Goblin, dan tren thriller psikologis 2026.
INDONESIAONLINE – Industri hiburan Korea Selatan kembali diguncang oleh sebuah fenomena baru di awal tahun 2026. Bukan drama romantis klise yang biasa mendominasi jam tayang utama, melainkan sebuah studi karakter yang gelap, manipulatif, dan memikat bertajuk Dear X.
Sejak episode perbarunya dirilis di platform streaming Vidio pada Kamis, 29 Januari 2026, serial ini tidak hanya sekadar menjadi tontonan, melainkan memicu diskursus sosiologis tentang trauma dan moralitas di media sosial.
Data penelusuran Google hingga Sabtu (31/1/2026) menunjukkan lonjakan signifikan pada kata kunci terkait drama ini, menandakan bahwa Dear X telah berhasil menembus kebisingan konten digital global. Namun, apa yang sebenarnya membuat kisah Baek Ah Jin ini begitu magnetis?
Jawabannya terletak pada pergeseran paradigma penokohan perempuan dalam K-Drama dan kolaborasi jenius antara aktor serta sutradara kelas berat.
Dekonstruksi “Nation’s Little Sister”: Transformasi Kim Yoo Jung
Sorotan utama dari Dear X tak pelak tertuju pada Kim Yoo Jung. Publik yang selama lebih dari satu dekade mengenalnya sebagai “Adik Perempuan Nasional” dengan citra polos dan manis—seperti dalam Love in the Moonlight atau 20th Century Girl—kini dipaksa menelan realitas baru.
Dalam Dear X, Kim Yoo Jung memerankan Baek Ah Jin, seorang aktris papan atas yang di permukaan tampak sempurna, namun di balik layar adalah seorang manipulator ulung dengan kecenderungan sosiopat.
Langkah ini dinilai sebagai pertaruhan karier terbesar bagi aktris kelahiran 1999 tersebut. Kritikus drama Korea menyebut peran ini sebagai “titik balik kedewasaan” bagi Kim. Baek Ah Jin bukanlah protagonis yang meminta simpati lewat air mata; ia adalah antihero yang menggunakan trauma masa kecilnya—kekerasan domestik dan penelantaran ayah—sebagai bahan bakar untuk membakar siapa saja yang menghalangi ambisinya.
Dalam sebuah wawancara industri, karakter Baek Ah Jin digambarkan sebagai representasi “Female Rage” (kemarahan perempuan) yang tidak lagi ditekan, melainkan diledakkan. Penonton dibuat berdebat: apakah ia monster yang diciptakan oleh lingkungan, ataukah ia memang terlahir rusak?
Kompleksitas moral inilah yang membuat Dear X terasa lebih “daging” dibandingkan drama makjang biasa. Kim Yoo Jung berhasil menghidupkan nuansa mikro-ekspresi: senyuman yang tidak mencapai mata, dan tatapan dingin yang mampu membekukan lawan mainnya.
Tangan Dingin “Midas” Lee Eung-bok
Keberhasilan Dear X membangun atmosfer mencekam tidak lepas dari peran sutradara Lee Eung-bok. Bagi penggemar K-Drama, nama ini adalah jaminan mutu. Lee adalah maestro visual di balik kesuksesan global Descendants of the Sun (2016), Goblin (2016), Mr. Sunshine (2018), hingga serial horor Sweet Home.
Data industri mencatat, karya-karya Lee Eung-bok rata-rata mencetak rating dua digit dan memenangkan penghargaan sinematografi. Dalam Dear X, Lee menggunakan pendekatan yang berbeda. Jika Goblin dikenal dengan estetika fantasi yang megah, Dear X dikemas dengan tone yang lebih noir dan klaustrofobik.
Penggunaan pencahayaan kontras (chiaroscuro) sering kali digunakan untuk membelah wajah Baek Ah Jin, menyimbolkan dualitas kepribadiannya antara dewi layar kaca dan manipulator berdarah dingin.
Kolaborasi visual Lee Eung-bok dengan naskah tajam karya Choi Ji On menciptakan ketegangan yang intens. Perlu dicatat, Choi Ji On bukanlah penulis sembarangan; ia adalah pemenang utama KBS Drama Special Script Contest 2018, sebuah ajang prestisius yang kerap melahirkan penulis skenario terbaik Korea.
Kombinasi penyutradaraan veteran dan penulisan naskah yang segar ini menghasilkan struktur cerita yang padat dan penuh kejutan.
Adaptasi Webtoon dan Basis Penggemar Militan
Popularitas Dear X sebenarnya sudah terprediksi. Drama ini diadaptasi dari webtoon populer karya Ban Ji-woon yang diterbitkan di Naver Webtoon mulai 5 Juli 2019 hingga 11 September 2020. Webtoon ini memiliki basis penggemar yang militan dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Isu utama dalam adaptasi webtoon ke live action biasanya adalah ketidaksetiaan pada materi asli. Namun, Dear X versi drama justru dipuji karena berhasil menerjemahkan monolog batin karakter komik menjadi aksi visual yang subtil.
Penggambaran industri hiburan Korea yang “kanibal”—di mana citra adalah segalanya dan manusia adalah komoditas—terasa sangat relevan dengan isu-isu kesehatan mental selebritas yang marak beberapa tahun terakhir.
Narasi Dear X semakin rumit dengan kehadiran dua tokoh pria sentral: Yoon Joon-seo (diperankan oleh Kim Young Dae) dan Kim Jae-oh (diperankan oleh Kim Do Hoon). Berbeda dengan second lead syndrome pada umumnya, kehadiran dua pria ini bukan sekadar pemanis romansa.
Kim Young Dae, yang sebelumnya dikenal lewat The Penthouse, memerankan Yoon Joon-seo, teman masa kecil yang menjadi perisai moral sekaligus “korban” sukarela manipulasi Ah Jin. Sementara Kim Do Hoon membawa aura misterius sebagai Kim Jae-oh.
Interaksi ketiganya bukanlah cinta segitiga yang manis, melainkan permainan catur psikologis. Pertanyaan besar yang menggantung di setiap episode adalah: Siapa yang sedang memanfaatkan siapa? Apakah cinta tulus bisa tumbuh di tanah yang beracun?
Relevansi Sosial dan Data Penonton
Mengapa drama bertema “sosiopat” dan “balas dendam” seperti Dear X, atau sebelumnya The Glory, begitu diminati? Para sosiolog media berpendapat bahwa penonton modern memiliki kelelahan terhadap karakter protagonis yang terlalu naif.
Ada kepuasan katarsis (pelepasan emosi) saat melihat karakter seperti Baek Ah Jin mengambil kendali penuh atas hidupnya, meskipun dengan cara yang secara moral abu-abu.
Statistik dari platform streaming menunjukkan pergeseran demografi penonton. Gen Z dan Milenial, yang menjadi pasar utama Vidio dan tvN, cenderung memilih konten dengan narasi psikologis yang kompleks (psychological thriller) dibandingkan romansa murni. Dear X hadir tepat waktu untuk memenuhi dahaga pasar ini.
Dear X bukan sekadar tontonan hiburan. Ia adalah cermin retak dari ambisi manusia dan dampak destruktif dari trauma masa kecil yang tidak terobati. Dengan akting transformatif Kim Yoo Jung, arahan visual kelas dunia dari Lee Eung-bok, dan plot yang menantang nalar, drama ini layak disebut sebagai salah satu kandidat drama terbaik tahun 2026.
Bagi penonton yang mencari kedalaman cerita dan siap dipermainkan emosinya, kisah Baek Ah Jin di tvN dan Vidio adalah menu wajib yang tak boleh dilewatkan.













