Harmoni Religi: KKM UIN Maliki Malang Lebur dalam Majlis Ta’lim Dusun Wates

Harmoni Religi: KKM UIN Maliki Malang Lebur dalam Majlis Ta’lim Dusun Wates
Mahasiswa KKM UIN Maliki Malang di Dusun Wates, Desa Wonomulyo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Malang (jtn/io)

Mahasiswa KKM UIN Maliki Malang lebur dalam kekhusyukan Majlis Ta’lim Dusun Wates. Simak kisah harmonisasi akademisi dan tradisi lokal dalam balutan selawat.

INDONESIAONLINE – Angin malam di kaki gunung terasa lebih sejuk dari biasanya pada Rabu, 24 Desember 2025. Namun, dinginnya udara tak mampu menembus kehangatan yang memancar dari Masjid Sabilal Muhtadin.

Di sudut Dusun Wates, Desa Wonomulyo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Malang, sebuah fenomena sosiologis dan spiritual tengah berlangsung. Ratusan pasang sandal tertata rapi di pelataran masjid, menandakan denyut nadi kehidupan masyarakat desa yang berpusat pada tradisi keagamaan.

Tepat pukul 18.30 WIB, gema selawat mulai terdengar. Bukan sekadar rutinitas, malam itu menjadi panggung pertemuan dua entitas yang berbeda latar belakang namun satu tujuan: warga desa dengan kearifan lokalnya, dan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dengan semangat akademisnya.

Malam itu, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 38 UIN Maliki Malang Tahun 2025/2026 tidak hadir sebagai tamu eksklusif yang duduk di menara gading. Mereka melebur, duduk bersila, dan menyatu dalam saf-saf jemaah Majlis Ta’lim wal Maulid. Ini adalah potret nyata bagaimana pendidikan tinggi turun ke bumi, mencoba menyelami kedalaman karakter masyarakat melalui pintu yang paling terbuka: agama.

Pintu Masuk Kultural: Musik Kontemporer dan Spiritualitas

Salah satu hal menarik yang membedakan kegiatan malam itu adalah nuansa musik yang mengiringi lantunan selawat. Tidak kaku, irama yang disajikan memiliki sentuhan kontemporer. Hadrah berpadu dengan aransemen modern, menciptakan atmosfer yang syahdu namun tetap energik. Hal ini sejalan dengan tren dakwah modern yang mencoba merangkul generasi muda tanpa menghilangkan esensi sakralitas.

Suasana ini menjadi jembatan efektif bagi mahasiswa KKM yang mayoritas adalah Generasi Z. Mereka yang terbiasa dengan dinamika perkotaan, seketika merasa “pulang” dalam dekapan tradisi yang adaptif. Di dalam masjid, batas antara “orang kota” dan “orang desa” lebur dalam satu suara pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari sudut pandang sosiologi pedesaan, apa yang terjadi di Dusun Wates adalah manifestasi dari modal sosial (social capital). Mengutip data dari Kementerian Agama (Kemenag) RI, Majlis Ta’lim di Indonesia bukan sekadar lembaga pendidikan non-formal, melainkan simpul kohesi sosial yang vital.

Dengan jumlah yang mencapai lebih dari 90.000 unit di seluruh Indonesia, Majlis Ta’lim seperti di Dusun Wates ini berfungsi sebagai ruang stabilisator sosial. Kehadiran mahasiswa di dalamnya adalah langkah strategis untuk mendapatkan legitimasi sosial sebelum menjalankan program kerja teknis lainnya.

Bukan Sekadar Program Kerja

Di tengah kerumunan jemaah yang terdiri dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga bapak-bapak, tampak Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKM, Kivah Aha Putra M.Pd.I. Tatapannya menyapu sekeliling masjid, mengamati interaksi yang terjadi antara anak didiknya dengan warga lokal.

Bagi Kivah, momen ini lebih mahal daripada sekadar laporan tertulis di atas kertas. Ia melihat adanya transfer nilai yang organik.

“Majlis Ta’lim ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa. Di bangku kuliah mereka belajar teori tentang sosiologi agama atau komunikasi penyiaran Islam, tapi di sini, mereka melihat langsung bagaimana nilai-nilai religius hidup, tumbuh, dan menjadi nafas masyarakat,” ujar Kivah saat ditemui di sela-sela acara.

Kivah menekankan poin krusial mengenai esensi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pengabdian kepada masyarakat seringkali disalahartikan sebagai “memberi bantuan” fisik semata. Padahal, aspek “membangun hubungan” adalah fondasi utamanya.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja atau menggugurkan kewajiban SKS. Mereka harus benar-benar hadir, membaur, dan membangun hubungan emosional. Jika hati warga sudah tersentuh, program apapun yang ditawarkan nanti akan lebih mudah diterima dan tepat sasaran,” tambahnya dengan nada serius.

Pernyataan Kivah ini relevan dengan berbagai studi mengenai efektivitas KKN/KKM. Riset menunjukkan bahwa kegagalan program pengabdian masyarakat seringkali bukan karena kurangnya dana atau keahlian teknis, melainkan karena kegagalan mahasiswa dalam melakukan pendekatan kultural (cultural approach) di minggu-minggu pertama kedatangan.

Suara Mahasiswa: Menemukan Keluarga Baru

Ceramah agama malam itu mengangkat tema fundamental: akhlak, keimanan, dan kepedulian sosial. Pesan ini seolah menjadi refleksi langsung bagi para mahasiswa. Misbahul Ulum, Ketua Kelompok KKM 38, merasakan betul getaran persaudaraan tersebut.

Wajahnya tampak berseri usai acara. Tidak ada raut kelelahan, meski seharian mungkin telah sibuk dengan persiapan posko. Baginya, penerimaan warga Dusun Wates adalah suntikan moral terbesar.

“Kami merasa sangat diterima. Awalnya ada kekhawatiran apakah kami bisa beradaptasi dengan cepat. Namun, melalui Majlis Ta’lim ini, sekat itu runtuh. Kami tidak merasa hadir sebagai mahasiswa KKM asing, tetapi seperti anak yang pulang ke rumah sendiri, menjadi bagian dari keluarga besar warga di sini,” ungkap Misbahul.

Ia menambahkan bahwa interaksi di masjid membuka mata teman-temannya tentang peran sentral masjid. Di kota besar, masjid mungkin hanya menjadi tempat transit ibadah. Namun di Dusun Wates, masjid adalah pusat peradaban desa. Segala informasi, musyawarah, hingga penyelesaian masalah sosial bermula dari serambi masjid.

“Kegiatan ini membuat kami lebih memahami bagaimana kuatnya ukhuwah islamiyah di sini. Ini menjadi motivasi bagi kami. Kami sadar, kami datang bukan untuk menggurui, tapi untuk belajar dan berkolaborasi,” tegasnya.

Membangun Fondasi untuk Keberlanjutan

Antusiasme warga malam itu memang luar biasa. Masjid Sabilal Muhtadin penuh sesak. Hal ini menjadi indikator positif bagi keberlangsungan program KKM Kelompok 38 ke depannya. Dalam teori pemberdayaan masyarakat, trust (kepercayaan) adalah mata uang yang paling berharga.

Kivah Aha Putra optimis, interaksi positif yang terbangun di malam 24 Desember ini akan menjadi landasan pacu yang kuat. “Interaksi positif yang terbangun diharapkan menjadi fondasi kuat untuk mendukung pelaksanaan berbagai program KKM selanjutnya, baik di bidang sosial, pendidikan, maupun keagamaan,” harapnya.

Menjelang akhir acara, suasana kekeluargaan kian kental. Mahasiswa tampak bersalaman, berbincang ringan, dan tertawa bersama para sesepuh desa. Tidak ada jarak akademis, yang ada hanyalah kehangatan humanis.

Malam di Dusun Wates mungkin semakin larut, namun cahaya semangat pengabdian dari mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang baru saja dinyalakan. Melalui pintu gerbang Majlis Ta’lim, mereka telah melangkah masuk ke dalam jantung kehidupan masyarakat, siap untuk menebar manfaat dan merajut kisah pengabdian yang tak sekadar formalitas, namun membekas di hati.

Kegiatan ini membuktikan bahwa di era digital 2025 sekalipun, pendekatan tatap muka berbasis tradisi dan agama tetap menjadi metode paling ampuh dalam merajut kohesi sosial di pedesaan Indonesia (bn/dnv).