Prabowo cetuskan ‘Gentengisasi’ nasional. Koperasi Merah Putih siap produksi genteng ringan gantikan seng yang panas, demi ekonomi desa bangkit.
INDONESIAONLINE – Di bawah terik matahari tropis Indonesia, jutaan rumah di pelosok desa hingga pinggiran kota masih bernaung di bawah lembaran seng. Material ini memang murah dan praktis, namun menyimpan dua musuh utama kenyamanan: panas yang menyengat di siang hari dan risiko karat yang menggerogoti seiring waktu.
Realitas inilah yang kini menjadi sorotan tajam Presiden Prabowo Subianto. Dalam visi besarnya menata wajah hunian rakyat, Presiden menggulirkan wacana yang terdengar sederhana namun berdampak masif: “Gentengisasi“.
Bukan sekadar proyek ganti atap, kebijakan ini dirancang sebagai mesin penggerak ekonomi kerakyatan. Pemerintah tidak menunjuk konglomerasi pabrik besar untuk memproduksi jutaan genteng tersebut, melainkan memberikan mandat itu kepada “wong cilik” melalui wadah Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih.
Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantoro, menegaskan kesiapan jajarannya untuk mengeksekusi titah Presiden tersebut. Ditemui di kantornya di kawasan Jakarta, Selasa (10/2/2026), Ferry menjabarkan bahwa koperasi kini tengah bersiap bertransformasi menjadi sentra produksi manufaktur sederhana namun vital.
“Bapak Presiden ingin supaya perubahan atap-atap yang dari seng itu bisa diganti jadi genteng. Koperasi-koperasi juga diminta untuk memproduksi genteng-genteng tersebut,” ujar Ferry dengan nada optimis.
Transformasi dari Seng ke Tanah Liat
Latar belakang kebijakan ini berakar dari keprihatinan Presiden Prabowo terhadap kualitas hidup masyarakat. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Senin (2/2/2026), Prabowo secara eksplisit menyoroti ketidaknyamanan hunian beratapkan seng.
“Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat,” ucap Prabowo di hadapan ribuan kepada daerah.
Bagi Prabowo, atap rumah adalah simbol martabat. Rumah yang panas membuat penghuninya tidak produktif dan tidak nyaman beristirahat. Selain itu, dari sisi tata kota dan estetika lingkungan, hamparan atap seng yang berkarat memberikan kesan kumuh yang ingin dihapus oleh pemerintahan saat ini.
Solusi yang ditawarkan adalah gerakan masif penggantian atap seng menjadi genteng, atau yang ia sebut sebagai proyek “Gentengisasi Indonesia”.
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia,” tegas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.
Tantangan Inovasi: Menciptakan Genteng Ringan
Namun, tugas yang diemban Koperasi Merah Putih bukan sekadar mencetak tanah liat lalu membakarnya secara tradisional. Ada tantangan teknologi yang disisipkan oleh Menteri Ferry Juliantoro. Mengingat struktur rumah yang memakai seng biasanya menggunakan rangka kayu atau baja ringan yang tidak terlalu kuat, beban genteng konvensional bisa menjadi masalah tersendiri.
Oleh karena itu, Ferry mendorong koperasi untuk melakukan riset dan pengembangan (R&D) sederhana guna menciptakan genteng dengan formula baru.
“Bisa menjadikan gentengnya menjadi lebih ringan dan lebih bagus,” kata Ferry.
Inovasi ini kemungkinan akan melibatkan pencampuran bahan baku tertentu (komposit) yang memungkinkan genteng memiliki durabilitas tinggi, estetika terjaga, namun dengan bobot yang jauh lebih ringan daripada genteng tanah liat bakar konvensional.
Jika inovasi ini berhasil, produk Koperasi Merah Putih tidak hanya akan terserap oleh program pemerintah, tetapi juga berpotensi bersaing di pasar material bangunan komersial.
Kementerian Koperasi sendiri telah menyiapkan langkah-langkah strategis sebagai pendukung. Persiapan ini mencakup kesiapan sumber daya manusia (SDM) di koperasi, manajemen produksi, hingga rantai pasok bahan baku. “Nanti kita persiapkan,” janji Ferry singkat namun padat.
Mengapa Koperasi?
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: mengapa harus koperasi? Mengapa tidak menyerahkannya pada industri besar yang sudah mapan? Jawabannya terletak pada visi pemerataan ekonomi. Prabowo melihat bahwa teknologi pembuatan genteng bukanlah “roket sains” yang memerlukan investasi triliunan rupiah.
“Alat-alat pabrik genteng itu tidak mahal, jadi nanti koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Dengan memberikan alat produksi kepada koperasi di tingkat desa dan kelurahan, nilai tambah ekonomi akan berputar di desa itu sendiri. Warga desa tidak hanya menjadi konsumen atap, tetapi juga produsen. Uang yang digelontorkan untuk program bedah rumah atau pembangunan infrastruktur desa tidak akan lari ke kota besar, melainkan masuk ke kas koperasi dan menjadi Sisa Hasil Usaha (SHU) bagi anggotanya.
Langkah ini sejalan dengan target ambisius pemerintah yang menargetkan sekitar 27.000 unit Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih mulai beroperasi penuh pada rentang Maret hingga April 2026. Koperasi-koperasi ini diproyeksikan menjadi ujung tombak berbagai program strategis, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kini, produksi material bangunan.
Kritikus mungkin akan melihat ini sebagai proteksi pasar yang berlebihan. Namun, dalam konteks ekonomi Indonesia yang masih didominasi ketimpangan antara desa dan kota, “Gentengisasi” ala Prabowo bisa dibaca sebagai upaya industrialisasi pedesaan.
Jika satu koperasi mampu memproduksi ribuan genteng per bulan, akan ada lapangan kerja baru yang tercipta: mulai dari penggali bahan baku, operator mesin cetak, bagian pembakaran/pengeringan, hingga tenaga distribusi logistik.
Menkop Ferry Juliantoro menyadari beban berat ini. Menjadikan koperasi sebagai pemain industri manufaktur membutuhkan pendampingan ketat agar kualitas produk tidak mengecewakan. Genteng yang bocor atau mudah pecah tentu akan menjadi bumerang bagi citra program pemerintah. Oleh karena itu, standardisasi produk (SNI) dan pengawasan mutu akan menjadi kunci sukses program ini ke depannya.
Kini, bola ada di tangan Kementerian Koperasi dan ribuan pengurus Koperasi Merah Putih di seluruh nusantara. Apakah mereka sanggup menjawab tantangan Presiden untuk “mendinginkan” rumah rakyat sekaligus “memanaskan” mesin ekonomi desa?
Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: era atap seng yang berisik saat hujan dan memanggang saat kemarau, tampaknya akan segera berakhir.













