The Future Society UIN Maliki Malang: Human Skill Jadi Benteng Lawan AI 2030

The Future Society UIN Maliki Malang: Human Skill Jadi Benteng Lawan AI 2030
Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, S.Ag., M.Si bersama dua penulis buku The Future Society yang dibedah di Aula Gedung Micro Teaching FITK (jtn/io)

Bedah buku The Future Society UIN Malang soroti AI. Rektor Ilfi: human skill dan growth mindset kunci hadapi algoritma 2030.

INDONESIAONLINE – Di tengah gelombang kepanikan global tentang Artificial Intelligence (AI) yang diprediksi bakal menggusur jutaan pekerjaan, sebuah diskusi tenang namun tajam berlangsung di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang.

Tidak ada nada apokaliptik tentang “kiamat robot” di sana. Sebaliknya, kampus Ulul Albab ini justru menarik isu kecerdasan buatan ke tanah yang lebih membumi: tentang kesiapan mentalitas manusia dan relevansi pendidikan tinggi.

Pada Jumat, 13 Februari 2026, Aula Gedung Micro Teaching FITK menjadi saksi pertemuan gagasan antara akademisi dan birokrat kampus. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maliki Malang menggelar bedah buku bertajuk The Future Society.

Dua penulisnya, Ahmad Zainul Hamdi dan Rumadi Ahmad, hadir untuk membedah anatomi masyarakat masa depan yang kian terdigitalisasi.

Namun, sorotan utama justru datang dari Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, S.Ag., M.Si., yang membuka forum dengan perspektif filosofis sekaligus pragmatis. Bagi perempuan nomor satu di UIN Maliki Malang ini, AI bukanlah musuh, melainkan cermin yang memaksa manusia untuk kembali mempertanyakan esensi kemanusiaannya.

Imajinasi 2030: Melampaui Algoritma

“Ketika membaca judul buku ini, saya teringat bahwa masyarakat kita telah bertransformasi berkali-kali. Apalagi di era AI saat ini, kita membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat pada tahun 2030 dan seterusnya. Imajinasi yang ada dalam buku ini penting untuk kita simak bersama,” ujar Prof. Ilfi di hadapan para peserta.

Pernyataan Rektor ini relevan dengan data World Economic Forum (WEF) dalam The Future of Jobs Report yang memproyeksikan bahwa pada 2027, sekitar 23% pekerjaan akan berubah drastis akibat adopsi teknologi. Namun, Prof. Ilfi tidak terjebak pada angka statistik tersebut. Ia lebih menyoroti aspek “kemanusiaan teknologi”.

Baginya, era 4.0 atau bahkan menuju 5.0 adalah momentum ujian. Apakah kampus hanya menjadi pabrik pencetak ijazah, atau inkubator manusia yang adaptif?

“Kata kuncinya adalah bagaimana era 4.0 ini menjadi era teknologi yang manusiawi,” tegasnya.

Kalimat ini menyiratkan kritik halus terhadap pola adopsi teknologi yang seringkali gadget-centric tanpa memikirkan dampak sosialnya.

Gap Kompetensi: Teori vs Skill Adaptif

Diskusi semakin memanas ketika Prof. Ilfi melontarkan pertanyaan reflektif kepada civitas akademika. “Sudahkah kita mengajarkan anak didik kita tidak hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga skill?” tanyanya.

Kecemasan ini beralasan. Banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang gagap saat terjun ke dunia industri yang kini bergerak dengan kecepatan cahaya. Penguasaan teori semata tidak lagi cukup. Prof. Ilfi menekankan perlunya skill hibrida—kemampuan teknis yang dikawinkan dengan empati manusia.

“Lulusan kita harus mempunyai skill yang terhubung antara AI dengan manusia,” jelasnya. Ini berarti, di masa depan, seorang akuntan tidak hanya harus bisa mengoperasikan software audit berbasis AI, tetapi juga harus memiliki integritas dan kemampuan analisis etis yang tidak dimiliki mesin.

UIN Maliki Malang, menurutnya, harus mengambil peran strategis sebagai jembatan yang kokoh. “Kita harus menjadi jembatan antara perguruan tinggi dengan industri. Anak didik kita harus bergerak dari fixed mindset menuju growth mindset,” tambahnya.

Paradigma “We”: Kesadaran Kolektif Baru

Salah satu poin paling menarik dari paparan Prof. Ilfi adalah konsep pergeseran paradigma dari “Me” (Aku) menuju “We” (Kita). Di era media sosial yang narsistik, individualisme memang merajalela. Namun, tantangan global seperti perubahan iklim dan disrupsi teknologi tidak bisa diselesaikan sendirian.

“Dari me paradigm menuju we paradigm sebagai kesadaran kolektif,” ungkapnya.

Ini adalah antitesis dari budaya kompetisi yang saling menjatuhkan. Dalam The Future Society, kolaborasi adalah mata uang baru. AI bisa melakukan pekerjaan individu dengan cepat, tapi kolaborasi tim yang kompleks masih menjadi domain eksklusif manusia.

Optimisme bahwa manusia tidak akan sepenuhnya digantikan oleh mesin didukung oleh data yang dipaparkan dalam forum tersebut. Terungkap bahwa sekitar 69 persen proses perekrutan di Asia Tenggara masih berbasis human skill.

Angka ini selaras dengan tren global. LinkedIn Workplace Learning Report tahun-tahun sebelumnya juga konsisten menempatkan soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kreativitas dalam daftar teratas kemampuan yang dicari perusahaan.

AI mungkin efisien dalam mengolah data (data processing), tetapi ia belum memiliki “rasa” dalam membangun relasi, negosiasi, dan pengambilan keputusan berbasis etika.

Disrupsi Sebagai Pola Sejarah yang Berulang

Penulis buku The Future Society, Ahmad Zainul Hamdi, memberikan konteks sejarah yang menenangkan. Ia mengajak audiens untuk tidak panik berlebihan. Disrupsi, menurutnya, adalah “lagu lama” yang diputar dengan instrumen baru.

Ia membandingkan era AI saat ini dengan revolusi neolitikum, ketika manusia beralih dari masyarakat pemburu-pengumpul menjadi masyarakat agraris. “Sekarang kita mengalami hal yang sama. Bedanya hanya pada setting sosial dan perangkatnya,” kata Ahmad Zainul, merujuk pada pandangan sosiolog Francis Fukuyama tentang evolusi peradaban.

Perubahan ini memang menyakitkan bagi mereka yang tidak siap, tetapi selalu menawarkan peluang bagi mereka yang adaptif. Dampak digitalisasi tidak berhenti pada sektor ekonomi semata. Relasi sosial, otoritas pengetahuan (siapa yang berhak disebut ahli), hingga praktik keagamaan ikut bergeser.

Dulu, orang bertanya pada kiai atau guru besar untuk masalah hukum agama. Kini, mesin pencari dan chatbot AI seringkali menjadi rujukan pertama. Ini adalah tantangan otoritas yang nyata bagi institusi seperti UIN.

Sementara itu, Rumadi Ahmad, rekan penulis buku tersebut, melihat persoalan ini dari lensa kultural. Ia menilai fondasi sosial dan budaya justru sedang diuji ketahanannya di tengah percepatan teknologi yang gila-gilaan.

Buku The Future Society, menurut Rumadi, bukan sekadar ramalan cuaca tentang tren teknologi. Buku ini adalah peta navigasi moral. “Tantangan terbesarnya bukan pada kecanggihan mesin, melainkan pada kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya,” pungkasnya.

Pernyataan Rumadi ini menjadi simpulan yang kuat. Di UIN Maliki Malang, teknologi canggih seperti AI dipandang sebagai alat (tools), bukan tujuan (goals). Bedah buku ini menegaskan posisi UIN Maliki yang tidak anti-teknologi, namun kritis terhadap dehumanisasi.

Menyongsong tahun 2030, pesan dari Malang ini jelas: Siapkan skill, buka pikiran (growth mindset), dan perkuat kolaborasi (we paradigm). Karena pada akhirnya, mesin yang paling canggih sekalipun tidak bisa meniru hati nurani manusia.