INDONESIAONLINE – Fenomena langit berupa fase bulan purnama yang dikenal sebagai Pink Moon akan terjadi pada awal April 2026, tepatnya pada 1 hingga 2 April. Pada momen ini, Bulan tampak bulat penuh dan bersinar terang saat diamati dari Bumi.
Meski memiliki nama yang unik, fenomena ini kerap menimbulkan kesalahpahaman. Banyak yang mengira Bulan akan berubah warna menjadi merah muda atau pink. Padahal, secara ilmiah, hal tersebut tidak terjadi.
Dalam kajian astronomi, Pink Moon hanyalah fase purnama biasa. Posisi Bulan berada berseberangan dengan Bumi terhadap Matahari, sehingga seluruh permukaannya tersinari dan terlihat terang.
Berdasarkan informasi dari SeaSky, puncak fase purnama diperkirakan berlangsung pada 2 April pukul 02.13 UTC atau sekitar 09.13 WIB. Warna Bulan saat fenomena ini tetap seperti purnama pada umumnya, yakni putih terang atau sedikit kekuningan. Jika terlihat jingga atau kemerahan, hal itu disebabkan oleh efek atmosfer ketika Bulan berada dekat garis horizon, bukan karena perubahan warna menjadi merah muda.
Asal-usul sebutan Pink Moon
Penamaan Pink Moon berasal dari tradisi masyarakat asli Amerika. Mereka memberi nama bulan purnama April berdasarkan perubahan alam yang terjadi pada periode tersebut. Salah satunya adalah munculnya bunga liar berwarna pink yang dikenal sebagai moss pink atau wild ground phlox di awal musim semi.
Selain Pink Moon, purnama April juga memiliki beberapa sebutan lain di dunia Barat, seperti Sprouting Grass Moon, Growing Moon, Egg Moon, hingga Fish Moon. Nama-nama tersebut mencerminkan siklus alam, mulai dari pertumbuhan tanaman hingga migrasi ikan.
Waktu Terbaik Mengamati
Fenomena ini dapat disaksikan tanpa bantuan alat khusus. Pengamatan akan lebih optimal jika dilakukan di lokasi dengan langit cerah dan minim polusi cahaya. Waktu yang disarankan adalah saat Bulan mulai terbit di awal malam atau menjelang tengah malam hingga dini hari.
Ketika berada di dekat horizon, Bulan sering tampak lebih besar dan dramatis, sehingga menarik untuk diabadikan.
Meski bukan peristiwa langka atau perubahan warna ekstrem, Pink Moon tetap menjadi daya tarik tersendiri karena berkaitan dengan penanda musim serta memiliki nilai historis dan budaya. (ars/hel)













