Pemakaman Ali Khamenei berlangsung saat ketegangan militer AS-Iran memuncak. Serangan lintas perbatasan ancam stabilitas Selat Hormuz.
INDONESIAONLINE – Suasana duka yang mendalam menyelimuti kompleks makam Imam Reza di Mashhad pada Jumat, 10 Juli 2026. Jenazah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, akhirnya dimakamkan di aula memorial kompleks suci tersebut, lokasi sangat sakral bagi umat Syiah.
Televisi pemerintah Iran, IRIB, menayangkan peti jenazah yang diselimuti bendera Iran diarak di tengah lautan pelayat. Namun, doa-doa yang dipanjatkan terasa tertelan oleh gemuruh ketegangan militer yang kembali memanas antara Tehran dan Washington. Upacara pemakaman yang seharusnya momen refleksi nasional berubah menjadi simbol kerentanan keamanan negara yang terperangkap spiral konflik terbuka.
Prosesi pemakaman kenegaraan ini sejatinya telah dimulai lebih awal, pada Sabtu, 4 Juli, ketika puluhan ribu warga berkumpul di Kompleks Keagamaan Grand Mosalla di Teheran. Khamenei dilaporkan wafat dalam serangan Israel-AS ke Iran pada 28 Februari lalu.
Rencana pemakaman awalnya digelar pada Maret, namun situasi keamanan yang tidak kondusif akibat perang memaksa upacara berskala besar itu tertunda berbulan-bulan. Penundaan ini mencerminkan kekacauan internal Iran, di mana institusi negara berputar cepat menjaga stabilitas politik sembari menghadapi tekanan militer eksternal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Duka di Mashhad, Rudal di Langit Timur Tengah
Pemakaman Khamenei berlangsung tepat ketika gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan Amerika Serikat resmi hancur. Pada Kamis (9/7/2026) dini hari, AS melancarkan gelombang baru serangan udara ke berbagai wilayah Iran.
Tehran membalas dengan menyerang sejumlah negara Timur Tengah yang menjadi sekutu Washington, termasuk Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania. Pola serangan ini menunjukkan perluasan front konflik yang berpotensi mengubah krisis bilateral menjadi perang regional.
Kementerian Kesehatan Iran mencatat korban jiwa akibat dua hari serangan AS: setidaknya 14 orang tewas dan 78 lainnya luka-luka, mayoritas anggota angkatan bersenjata. Media pemerintah Iran juga melaporkan ledakan dahsyat di Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil Iran yang dibangun dengan teknologi Rusia dan diawasi ketat Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Serangan yang menyasar fasilitas strategis ini memicu kekhawatiran internasional terkait risiko bencana radiologi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim operasi militer tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Trump menegaskan serangan itu sebagai balasan atas aksi Tehran terhadap kapal-kapal di selat tersebut sehari sebelumnya.
“Jika Iran kembali menyerang kapal, AS akan merespons lebih keras,” ancamnya, bahkan mengancam akan menghantam infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air, serta merebut Pulau Kharg.
Pernyataan ini menandai eskalasi doktrin militer Washington yang kini memasukkan target infrastruktur vital sipil dalam ruang lingkup operasi.
Ancaman Strategis di Selat Hormuz dan Kharg
Pulau Kharg bukan sekadar pulau kecil di Teluk Persia; menurut data Administrasi Informasi Energi AS (EIA), pulau ini menjadi jalur utama ekspor sekitar 90 persen minyak Iran. Sementara itu, Selat Hormuz sendiri merupakan chokepoint maritim paling krusial di dunia, di mana sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak mentah global melewati perairan sempit tersebut setiap harinya.
Eskalasi yang menyentuh titik-titik ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi global, memicu kepanikan di pasar keuangan internasional.
Di tengah guncangan militer, para pejabat Iran menunjukkan sikap yang sangat tegas. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, yang juga berperan sebagai tokoh utama perundingan perdamaian, menyuarakan peringatan keras melalui media sosialnya.
“Amerika masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji bukanlah hal yang gratis lagi. Izinkan saya mengatakannya dengan jelas: jika Anda menyerang, Anda akan dipukul. Jangan bergerak tanpa tujuan, atau Anda akan semakin terpuruk: Selat Hormuz hanya akan terbuka dengan “kesepakatan Iran,” bukan ancaman Amerika,” tegasnya di akun X @mb_ghalibaf pada 9 Juli 2026.
Upaya diplomasi pun berpacu dengan waktu. Dilaporkan NPR, Jumat (10/7/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan dalam sebuah unggahan di Telegram bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Oman, serta Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir.
Komunikasi tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meredakan ketegangan dan mengembalikan kedua pihak ke meja perundingan sebelum perang berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar dan sulit dikendalikan. Keterlibatan Pakistan dan negara-negara Teluk menunjukkan krisis ini membutuhkan intervensi arsitektur keamanan regional yang komprehensif.
Dengan dimakamkannya Khamenei, satu era di Iran resmi berakhir. Namun, tanah yang menampung jasadnya kini berada di bawah bayang-bayang perang yang mengancam bukan hanya stabilitas Timur Tengah, tetapi juga rantai pasok energi dunia.
Pertanyaan besar kini menghantui diplomasi internasional: mampukah arahan Araghchi dan tekanan regional menahan laju konflik, ataukah Selat Hormuz benar-benar akan menjadi titik nyala perang dunia yang baru?







