Bintang Norwegia Erling Haaland menyumbangkan buku langka abad ke-16 ke kampung halamannya, menyatukan semangat Viking dan literasi masa depan.
INDONESIAONLINE – Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi panggung kebangkitan Timnas Norwegia, yang terakhir kali tampil di turnamen empat tahunan ini pada 1998 silam. Ribuan suporter mereka melakukan aksi “Viking Row” di berbagai sudut dunia, dari Times Square hingga peron stasiun bawah tanah Boston.
Tanpa komando, mereka duduk berbaris memegang dayung imajiner, mengayunkan tubuh serempak, dan berteriak “Ro!”. Ritual pelaut Viking ini terinspirasi dari Ole Frøystad dari kelompok suporter Oljeberget, yang terpicu oleh nyanyian Rosenborg (Ro-sen-borg).
Di lapangan, Erling Haaland menjadi mesin gol yang tak terbendung. Penyerang bernomor punggung 9 ini mencetak dua gol ke gawang Irak, dua lagi saat melawan Senegal, dan penentu kemenangan atas Pantai Gading di fase gugur. Citra “pejuang Nordik” semakin melekat pada tubuh jangkung berambut pirang itu, seolah mewujud nyata stereotipe Viking di era modern.
Namun, di luar lapangan hijau yang riuh, Haaland melakukan langkah yang tidak biasa bagi seorang atlet dengan gaji jutaan pound per pekan: membeli warisan literasi demi kampung halaman.
Pada Desember 2025, melalui rumah lelang Scandinavian Art & Rare Book Auctions di Oslo, Haaland bersama ayahnya Alf-Inge memenangkan lelang buku cetakan 1594. Harga 1,3 juta kroner Norwegia (sekitar Rp 2 miliar) memecahkan rekor buku termahal di Negeri Viking.
Buku tersebut adalah edisi cetak Norske Kongers Krønicke, terjemahan dari Heimskringla—magnum opus sejarah Nordik yang diyakini sebagai satu-satunya salinan utuh yang masih dimiliki kolektor pribadi.
“Saya bukan pembaca yang rajin, tetapi saya ingin buku ini selalu terbuka sehingga orang-orang dapat membaca tentang mereka yang berasal dari tempat saya, dari Bryne dan Jæren,” kata Haaland.
“Dengan begitu, akan lebih mudah menumbuhkan minat membaca, ketika Anda dapat mengenali diri Anda sendiri dalam diri orang-orang yang ditulis dalam buku tersebut,” sambungnya.
Buku itu tidak disimpan di brankas pribadi mewah, melainkan diserahkan ke Time folkebibliotek di Bryne. Perpustakaan yang berakar dari perkumpulan membaca paroki Lye pada 1831 ini berdiri formal sejak 1853 dan kini menyatu dengan Nasjonalt Garborgsenter, menjadikannya ruang publik diskusi serta kegiatan budaya warga setempat.

Dari Aspal Times Square ke Arsip Abad Ke-16
Jæren, dataran rendah pesisir barat daya Norwegia yang berhadapan dengan Laut Utara, memiliki stereotip warga pekerja keras dan tahan banting—sifat yang kerap dilekatkan pada gaya main Haaland yang ngotot dan efisien.
Penulis Arne Garborg pun lahir di sana, menggambarkan kerasnya hidup agraris lewat novel Fred (1892). Haaland, meski lahir di Leeds dan bersinar di klub elite Eropa, tetap mengakar di Bryne. Kakek-neneknya guru lokal, dan ia menempuh pendidikan dasar di sana. Donasi ini menjadi jembatan antara sepak bola modern dan akar budaya yang terancam tergerus zaman.
Menariknya, aksi filantropi Haaland selaras dengan citra Viking yang ia bangun. Pada 2023, ia berkolaborasi dengan fotografer David Yarrow dalam pemotretan amal bernuansa pejuang Nordik lengkap dengan pedang dan perisai.
“Jika Anda harus memilih satu olahragawan di dunia yang tidak membutuhkan banyak rambut dan riasan agar terlihat seperti Viking, itu adalah Erling Haaland,” ujar Yarrow.

Lewat EH9 Foundation, Haaland menggandeng Time kommune untuk kompetisi membaca pelajar mulai 2026/2027. Kelas dengan bacaan terbanyak akan menonton langsung timnas di Stadion Ullevaal. “Buku memberi lebih banyak orang kesempatan untuk bermimpi besar, melihat kemungkinan-kemungkinan baru dan menemukan jalan mereka sendiri,” ungkapnya.
Karya yang ditebus Haaland merupakan hasil rangkuman Mattis Størssøn dari naskah asli Snorri Sturluson (sekitar 1230). Snorri, sejarawan Islandia yang dibunuh pada 1241, merangkum saga Ynglinga, kisah Harald Fairhair yang menyatukan Norwegia, hingga Olaf Tryggvason. Edisi 1594 dicetak di Kopenhagen saat Denmark berkuasa atas Norwegia, menyimpan noda lembap dan anotasi abad ke-19.
Menurut data akademis, ketika nasionalisme Norwegia bangkit abad ke-19 untuk melepaskan diri dari dominasi Denmark-Swedia, Heimskringla dihidupkan kembali. Sandra Ballif Straubhaar (1999) mencatat edisi 1899 yang disunting Gustav Storm sebagai “narasi kejadian” bagi nasionalisme Norwegia, karena Parlemen mensubsidi teks itu agar murah dan tersebar luas. Membeli buku ini bukan sekadar gengsi koleksi, melainkan mengamankan DNA identitas bangsa dari ancaman dilupakan.
Bagi Haaland, Viking Row di stadion dan Heimskringla di perpustakaan adalah dua sisi mata uang yang sama: menjaga nyala sejarah Nordik agar generasi Bryne tak hilang arah di tengah arus globalisasi olahraga.







