INDONESIAONLINE – Upaya meningkatkan daya saing sekaligus pendapatan peternak unggas di pedesaan terus diperkuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui inovasi berbasis teknologi peternakan dan kewirausahaan dalam kegiatan bertajuk “Pendampingan Integratif Pakan Probiotik Alami dan Diversifikasi Olahan Pascapanen untuk Meningkatkan Pendapatan Peternak Unggas di Desa Sanankerto, Kabupaten Malang”.
Kegiatan yang digelar di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, itu mendapat sambutan antusias dari Kelompok Peternak Andeman Farm, pelaku UMKM, dan masyarakat desa. Tim PkM dipimpin Dr Rosidi Azis SPt MSi dari Universitas Kristen Cipta Wacana sebagai ketua, dengan anggota Dr Muhammad Rizza Pahlevi SSi MP dari Universitas Kristen Cipta Wacana serta Dr Novy Karmelita Indrawati SE Ak MM CA dari STIE Indocakti.
Program ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat pada platform BIMA Kemdiktisaintek. Melalui dukungan tersebut, tim PkM menghadirkan inovasi yang diharapkan mampu memperkuat produktivitas peternak sekaligus mendorong pengembangan usaha berbasis potensi lokal di Desa Sanankerto.

Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan penuh dari Kepala Desa Sanankerto H Subur SE beserta seluruh perangkat desa yang memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, kepala Desa Sanankerto menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim akademisi yang membawa inovasi yang sangat relevan dengan potensi desa. “Kami berharap program ini tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi mampu melahirkan usaha-usaha baru yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Desa Sanankerto memiliki potensi besar di sektor peternakan dan pariwisata, sehingga sinergi keduanya harus terus dikembangkan,” ujarnya.
Ketua Tim PkM Dr Rosidi Azis menjelaskan bahwa program dirancang secara integratif mulai dari peningkatan efisiensi budidaya unggas hingga pengembangan produk bernilai tambah. “Selama ini peternak lebih banyak menjual hasil ternak dalam bentuk mentah sehingga nilai ekonominya masih terbatas. Melalui pendekatan integratif ini, kami memperkenalkan teknologi pakan probiotik alami untuk meningkatkan performa ternak sekaligus memberikan pelatihan diversifikasi produk olahan agar masyarakat memperoleh nilai tambah dari hasil panennya,” jelasnya.

Pada aspek budidaya, peserta memperoleh pelatihan mengenai pembuatan pakan probiotik alami menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh. Teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesehatan saluran pencernaan unggas, memperbaiki efisiensi pakan, menekan biaya produksi, serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan komersial yang harganya terus meningkat.
Sementara itu, pada aspek hilirisasi hasil produksi, tim PkM memberikan pelatihan pengolahan pasca panen melalui pembuatan berbagai produk pangan inovatif yang memadukan hasil ternak dengan potensi lokal Desa Sanankerto. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah dinsum (dim sum) rebung dan nugget rebung, yaitu produk olahan yang mengombinasikan daging unggas dengan rebung sebagai bahan pangan lokal.
Inovasi tersebut diproyeksikan menjadi oleh-oleh khas kawasan wisata Boonpring, destinasi wisata alam yang telah menjadi ikon Desa Sanankerto. Dengan menghubungkan sektor peternakan, pertanian, UMKM, dan pariwisata, masyarakat diharapkan memperoleh peluang usaha baru yang lebih berkelanjutan.
Anggota tim PkM Dr Muhammad Rizza Pahlevi mengatakan bahwa pemanfaatan probiotik alami menjadi salah satu solusi untuk menciptakan sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan dan efisien. “Teknologi probiotik bukan hanya meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga membantu menciptakan sistem budidaya yang lebih sehat, berkelanjutan, dan ekonomis bagi peternak skala kecil,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr Novy Karmelita Indrawati menambahkan bahwa keberhasilan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas produksi, tetapi juga strategi bisnis yang tepat. “Kami juga memberikan pendampingan mengenai pengemasan produk, penentuan harga, penyusunan identitas merek, hingga strategi pemasaran digital agar produk UMKM memiliki daya saing di pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Pelatihan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, praktik langsung pembuatan pakan probiotik alami, demonstrasi pengolahan produk pangan, serta diskusi bersama peserta mengenai peluang pengembangan usaha berbasis potensi desa.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi praktik dan diskusi. Para peternak berharap pendampingan semacam ini dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga inovasi yang telah diperoleh dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan usaha mereka.
Melalui program ini, tim PkM berharap Desa Sanankerto tidak hanya dikenal sebagai sentra peternakan unggas dan destinasi wisata Boonpring, tetapi juga berkembang sebagai pusat produk pangan olahan unggulan berbasis potensi lokal yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi desa.
“Kami berharap pendampingan ini menjadi titik awal lahirnya produk-produk unggulan yang memiliki daya saing dan mampu menjadi identitas Desa Sanankerto. Ke depan, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan inovasi ini secara mandiri sehingga manfaat ekonominya terus berkelanjutan,” ujar Rosidi Azis.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, masyarakat, dan dukungan pendanaan dari DPPM Kemdiktisaintek diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia. Dengan demikian, inovasi hasil perguruan tinggi tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. (anr/hel)







