Arema FC Dekati Pengelolaan Stadion Kanjuruhan, Siapkan Konsep 365 Hari

Ilustrasi singa sebagai simbol Arema FC dan Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Malang, Jawa Timur (io)

Arema FC mematangkan rencana kelola Kanjuruhan dengan konsep sport tourism, sport science, legacy safety, dan aktivitas ekonomi sepanjang tahun.

INDONESIAONLINE – Stadion Kanjuruhan kembali memasuki babak baru. Bukan hanya soal siapa yang akan menggunakan stadion sebagai kandang pertandingan, tetapi bagaimana kawasan olahraga di Kepanjen, Kabupaten Malang, itu dapat hidup sepanjang tahun.

Arema FC kini semakin serius membahas kemungkinan memperoleh hak pengelolaan kawasan tersebut. Manajemen Singo Edan kembali bertemu Bupati Malang HM Sanusi pada Sabtu (19/9/2026). Pertemuan itu disertai peninjauan langsung terhadap sejumlah fasilitas yang berada di kompleks Kanjuruhan.

CEO Arema FC Iwan Budianto, General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi dan CMOC sekaligus Ketua Panpel Arema FC Bram Hady Sulton ikut dalam agenda tersebut. Mereka tidak hanya melihat stadion utama, tetapi juga fasilitas olahraga dan ruang yang berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem baru Kanjuruhan.

Lintasan atletik, GOR, lapangan voli pantai dan voli tanah, lapangan bulu tangkis outdoor, dinding panjat tebing, arena skateboard hingga kolam renang indoor dan outdoor menjadi bagian dari peninjauan.

Ada pula titik yang memiliki dimensi berbeda dari fasilitas olahraga, yakni Monumen dan Museum Tragedi Kanjuruhan di kawasan Gate 13.

Keberadaan ruang tersebut membuat pembicaraan mengenai masa depan Kanjuruhan tidak bisa dilepaskan dari persoalan keselamatan dan memori tragedi 1 Oktober 2022. FIFA mencatat tragedi tersebut menyebabkan sedikitnya 132 orang meninggal berdasarkan laporan resmi pemerintah yang dikutip organisasi tersebut. FIFA kemudian terlibat dalam upaya pembenahan standar keselamatan stadion di Indonesia.

Pada 2025, FIFA dan PSSI bahkan menggelar lokakarya keselamatan dan keamanan stadion. FIFA menyebut pemerintah Indonesia telah merenovasi 21 stadion, dengan 17 di antaranya diresmikan pada Maret 2025.

Konteks inilah yang membuat konsep legacy safety yang disiapkan Arema FC menjadi bagian penting dalam rencana pengelolaan Kanjuruhan.

Dari Kandang Arema Jadi Kawasan Olahraga 365 hari

Jika hak pengelolaan nantinya terealisasi, Arema FC tidak ingin Kanjuruhan hanya sibuk ketika jadwal pertandingan tiba. Gagasan yang dibawa klub adalah membangun ekosistem Sport Tourism & Sport Science 365 Hari.

Artinya, aktivitas kawasan dirancang tetap berjalan melalui pertandingan, event, pembinaan atlet, wisata olahraga, pendidikan, penelitian hingga kegiatan ekonomi masyarakat.

Konsep tersebut juga melihat aktivitas yang telah tumbuh di sekitar Kanjuruhan. Pasar malam, pasar minggu, pusat kuliner dan penjualan suvenir dipandang sebagai aktivitas ekonomi yang dapat diintegrasikan dengan pengelolaan kawasan.

Dalam skema itu, stadion tidak berdiri sendirian. Konektivitas antarfasilitas, ruang publik, fasilitas olahraga dan area komersial menjadi bagian dari rancangan pengembangan.

Iwan Budianto sebelumnya menyampaikan bahwa pengelolaan langsung oleh klub dapat membuka ruang lebih luas untuk perawatan sekaligus pemanfaatan fasilitas.

“Jika dikelola oleh klub, maka banyak nilai lebih yang bisa diambil. Kami bisa memperbaiki fasilitas penonton, bahkan menjadikannya pusat kegiatan ekonomi, tidak hanya untuk sepak bola tapi juga event lain seperti konser musik,” ujar Iwan.

Rencana tersebut masih membutuhkan proses lintas kementerian. Menurut Arema FC, pembahasan pengelolaan Kanjuruhan melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Dengan demikian, pembicaraan soal pengelolaan bukan semata kesepakatan antara klub dan pemerintah daerah. Status aset, skema kerja sama, pemanfaatan fasilitas, pembagian tanggung jawab serta standar keselamatan menjadi bagian yang harus dipastikan sebelum pengelolaan berjalan.

Konsep sport science menjadi salah satu pembeda utama yang ditawarkan Arema FC. Klub menyiapkan gagasan laboratorium tes fisik, analisis biomekanika, pusat kebugaran performa tinggi dan fasilitas pemulihan seperti ice bath, sauna serta hidroterapi.

Fasilitas tersebut diarahkan untuk tim utama dan akademi Arema FC, tetapi juga dibuka dalam gagasan untuk atlet daerah, klub amatir dan masyarakat. Layanan yang dapat dikembangkan mencakup pengukuran kondisi fisik, rehabilitasi cedera olahraga serta konsultasi nutrisi.

Pengembangan sport science juga dapat bersinggungan dengan dunia pendidikan tinggi. Riset fisiologi olahraga, psikologi atlet, manajemen olahraga dan analisis data pertandingan menjadi bidang yang berpotensi dikembangkan apabila ekosistem tersebut benar-benar terealisasi.

Untuk pembinaan pemain muda, pemanfaatan GPS tracker, analisis video taktis dan pemantauan kondisi fisik juga masuk dalam rancangan. Arema FC bahkan menyiapkan gagasan Youth Training Camp melalui coaching clinic dan bootcamp untuk menjaring talenta dari berbagai daerah.

Dengan model tersebut, Kanjuruhan berpotensi memiliki aktivitas yang jauh lebih beragam dibanding fungsi stadion konvensional.

Keselamatan Jadi Titik Penting Masa Depan Kanjuruhan

Namun, ambisi menjadikan Kanjuruhan sebagai kawasan olahraga terpadu membawa konsekuensi pada standar pengelolaannya.

Keselamatan bukan sekadar persoalan konstruksi stadion. FIFA dalam program pembenahan sepak bola Indonesia menekankan bahwa transformasi stadion juga membutuhkan pengelolaan dan prosedur keselamatan yang sesuai standar. Lokakarya FIFA-PSSI pada 2025 secara khusus membahas keselamatan dan keamanan stadion sebagai tindak lanjut tragedi Kanjuruhan.

Karena itu, konsep legacy safety yang dibawa Arema FC memiliki relevansi langsung dengan sejarah kawasan tersebut. Penataan tidak hanya menyangkut tribun, lapangan atau fasilitas pendukung, tetapi juga bagaimana arus penonton, ruang publik, akses keluar-masuk, aktivitas komersial dan kegiatan olahraga dikelola secara aman.

Pada saat yang sama, keberadaan Monumen dan Museum Tragedi Kanjuruhan menjadi pengingat bahwa pengembangan kawasan memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan.

General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi mengatakan peninjauan bersama Bupati Malang dilakukan untuk melihat kondisi kawasan secara langsung sekaligus memperdalam pembahasan pengelolaan.

“Yang pasti hari ini kami melihat langsung kawasan Stadion Kanjuruhan bersama Pak Bupati. Pembahasannya juga semakin detail, karena kami ingin memastikan konsep pengelolaan yang disiapkan Arema FC bisa berjalan dengan baik,” ujar Yusrinal.

Ia menegaskan bahwa rencana tersebut tidak diarahkan hanya untuk kepentingan klub. Aktivitas masyarakat dan ekonomi lokal juga menjadi bagian dari gagasan pengelolaan.

“Harapannya tentu stadion ini bisa menjadi fasilitas yang terus terawat, memiliki aktivitas yang berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Kabupaten Malang,” imbuhnya.

Peninjauan pada Sabtu lalu menunjukkan pembahasan telah bergerak dari gagasan umum menuju pembicaraan yang lebih rinci mengenai kawasan dan fasilitasnya. Namun, hak pengelolaan belum berarti seluruh konsep tersebut otomatis terealisasi. Masih terdapat tahapan kelembagaan dan kesepakatan yang harus diselesaikan.

Jika proses tersebut berujung pada kerja sama pengelolaan, Kanjuruhan akan memasuki fase baru. Stadion yang selama ini identik dengan pertandingan sepak bola dapat diarahkan menjadi kawasan olahraga yang beroperasi sepanjang tahun.

Arema FC membawa sejumlah agenda sekaligus: pertandingan, pembinaan atlet, sport science, wisata olahraga, event, aktivitas masyarakat dan ekonomi lokal.

Di atas semuanya, terdapat satu pekerjaan yang menjadi fondasi: memastikan Kanjuruhan menjadi kawasan yang aman. Sebab masa depan stadion tersebut tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kegiatan yang dapat digelar, tetapi juga oleh kemampuan pengelola menjaga keselamatan sekaligus menghormati sejarah yang melekat kuat di dalamnya (hs/dnv).