Santiago Gallon, bayang-bayang kelam di balik pembunuhan Andres Escobar, tewas ditembak di Meksiko. Simak akhir dramatis era narkoba dan sepak bola Kolombia.
INDONESIAONLINE – Keadilan terkadang datang terlambat, atau dalam kasus dunia hitam kartel narkoba, ia datang dalam bentuk timah panas di sebuah restoran asing. Santiago Gallon Henao, nama yang selama lebih dari tiga dekade menghantui memori kolektif rakyat Kolombia, akhirnya menemui ajalnya.
Bukan di jalanan Medellin yang dulu ia kuasai, melainkan ribuan kilometer jauhnya, di Huixquilucan, Meksiko, pada Kamis (5/2/2026).
Kabar kematian Gallon dikonfirmasi langsung oleh Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Bagi generasi muda, nama Gallon mungkin terdengar asing. Namun bagi mereka yang hidup di era 90-an, nama ini identik dengan salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah olahraga dunia: pembunuhan bek Timnas Kolombia, Andres Escobar, pasca-Piala Dunia 1994.
Gallon dilaporkan tewas ditembak oleh orang tak dikenal saat sedang bersantap siang. Sebuah akhir yang ironis bagi pria yang dituduh menjadi otak intimidasi berujung maut terhadap “Sang Ksatria Sepak Bola”, julukan Andres Escobar.
Bayang-Bayang Kelam 1994: Saat Bola Menjadi Peluru
Untuk memahami signifikansi kematian Santiago Gallon, kita harus memutar waktu ke tanggal 2 Juli 1994. Saat itu, Kolombia adalah negara yang tercabik-cabik.
Di satu sisi, rakyat memiliki harapan besar pada tim nasional sepak bola mereka yang dipimpin Carlos Valderrama dan Faustino Asprilla. Di sisi lain, negara itu sedang berdarah-darah akibat perang narkoba.
Andres Escobar, bek santun yang dicintai publik, melakukan kesalahan fatal di mata para bandar judi. Dalam laga melawan tuan rumah Amerika Serikat di fase grup Piala Dunia 1994, ia tak sengaja membelokkan bola ke gawang sendiri.
Kolombia kalah 1-2 dan tersingkir. Bagi kartel narkoba yang mempertaruhkan jutaan dolar di pasar taruhan gelap, gol bunuh diri itu bukan sekadar kesalahan teknis, itu adalah “vonis mati”.
Sepuluh hari setelah insiden itu, Andres Escobar memberanikan diri keluar ke kelab malam El Indio di pinggiran Medellin, mencoba melupakan kekalahan. Di sanalah ia bertemu dengan Santiago Gallon dan saudaranya, Pedro Gallon.
Laporan investigasi dan dokumenter The Two Escobars (2010) mencatat bagaimana Gallon bersaudara mencemooh Andres tanpa henti.
“Autogol, Andrés, autogol!” teriak mereka, memprovokasi sang pemain.
Ketika Andres mencoba meninggalkan lokasi parkir, konfrontasi memanas. Sopir Gallon bersaudara, Humberto Munoz Castro, keluar dari mobil dan melepaskan enam tembakan ke punggung Andres.
Saksi mata, yang dikutip dalam berkas perkara kejaksaan Kolombia, memberikan detail yang membuat bulu kuduk merinding: Munoz berteriak “Gol!” setiap kali pelatuk ditarik, meniru komentator sepak bola Amerika Selatan.
Hukum yang Tumpul dan Kekuatan Uang
Kematian Santiago Gallon di Meksiko membuka kembali luka lama tentang ketidakadilan sistem hukum Kolombia di masa lalu. Meskipun sopirnya, Humberto Munoz, dijatuhi hukuman 43 tahun penjara (dan secara kontroversial dibebaskan setelah hanya menjalani 11 tahun karena berkelakuan baik), Gallon bersaudara seolah tak tersentuh.
Santiago dan Pedro Gallon kala itu hanya didakwa dengan tuduhan “menutupi kejahatan” atau obstruction of justice. Dengan kekuatan finansial dan pengaruh jaringan narkoba yang kuat, mereka hanya mendekam di penjara selama 15 bulan. Sebuah hukuman yang dianggap publik sebagai penghinaan terhadap nyawa Andres Escobar.
Presiden Gustavo Petro, dalam unggahannya di media sosial X pasca-kematian Gallon, menegaskan betapa berat beban sejarah yang dibawa oleh nama ini.
“Pembunuhan pemain sepak bola itu menghancurkan citra internasional negara ini,” tulis Petro.
Pernyataan ini bukan hiperbola. Pada tahun 1994, tingkat pembunuhan di Medellin mencapai angka mengerikan: 380 per 100.000 penduduk. Kematian Andres Escobar menjadi simbol puncak dari Narcofútbol—istilah untuk era di mana uang narkoba mencuci dirinya melalui klub-klub sepak bola.
Jejak La Oficina de Envigado
Siapakah sebenarnya Santiago Gallon hingga ia bisa bertahan hidup begitu lama setelah tragedi 1994? Data intelijen dari kepolisian Kolombia dan Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat menempatkan Gallon bukan sebagai penjahat kroco.
Setelah runtuhnya Kartel Medellin pasca-kematian Pablo Escobar (yang tidak memiliki hubungan darah dengan Andres Escobar) pada tahun 1993, struktur kekuasaan dunia hitam terpecah. Gallon bersaudara bertransformasi. Mereka diduga kuat menjadi penyandang dana bagi kelompok paramiliter sayap kanan yang kejam, Autodefensas Unidas de Colombia (AUC).
Lebih jauh lagi, Santiago Gallon diidentifikasi sebagai tokoh kunci dalam La Oficina de Envigado. Ini adalah sindikat kriminal yang mewarisi sisa-sisa kekuasaan Pablo Escobar, mengendalikan rute perdagangan kokain, pemerasan, dan pembunuh bayaran di lembah Aburra.
Pada tahun 2015, Departemen Keuangan Amerika Serikat (US Treasury) secara resmi memasukkan nama Santiago Gallon ke dalam daftar hitam “Kingpin Act”. Ia dituduh secara aktif memfasilitasi pengiriman berton-ton kokain ke AS dan Eropa. Fakta bahwa ia tewas di Meksiko pada tahun 2026 mengindikasikan bahwa Gallon masih aktif dalam permainan global ini, kemungkinan besar sedang menjalin atau memelihara aliansi dengan kartel Meksiko yang kini mendominasi distribusi narkoba di belahan bumi barat.
Akhir Sebuah Era, Namun Bukan Akhir Masalah
Kematian Santiago Gallon di tangan pembunuh tak dikenal di Meksiko menutup satu babak dalam buku sejarah kelam Kolombia. Namun, ini juga menjadi pengingat bahwa siklus kekerasan yang dipicu oleh perdagangan narkoba belum benar-benar berakhir.
Seorang sumber di kantor kejaksaan Toluca, Meksiko, menyebutkan bahwa eksekusi terhadap Gallon dilakukan dengan presisi tinggi, ciri khas hitman profesional. Tidak ada perampokan, murni pembunuhan. Ini memicu spekulasi apakah kematiannya adalah hasil dari perselisihan bisnis narkoba lintas negara atau balas dendam lama yang tertunda.
Bagi keluarga Andres Escobar dan jutaan penggemar sepak bola, kematian Gallon mungkin tidak membawa Andres kembali. Namun, ada rasa keadilan puitis di sana. Pria yang menggunakan kekerasan untuk membungkam seorang atlet nasional, akhirnya tewas oleh kekerasan yang sama di negeri orang, jauh dari rumah.
Andres Escobar pernah menulis kolom di surat kabar El Tiempo sesaat sebelum kematiannya dengan kalimat perpisahan yang mengharukan: “Hidup tidak berakhir di sini.”
Kalimat itu menjadi mantra bagi rakyat Kolombia untuk bangkit dari keterpurukan citra negara narkoba. Hari ini, Kolombia telah berubah jauh lebih baik, menjadi destinasi wisata dan pusat budaya. Namun, tewasnya Santiago Gallon menjadi footnote berdarah yang mengingatkan dunia: hantu masa lalu harus benar-benar mati agar masa depan bisa hidup dengan tenang.
Kematian Gallon di Meksiko adalah penutup tirai bagi salah satu antagonis terbesar dalam sejarah sepak bola Amerika Selatan. Sebuah peringatan bahwa dalam permainan mematikan kartel narkoba, tidak ada yang benar-benar menang, dan peluit akhir bisa berbunyi kapan saja, di mana saja.
