Kisah Asa Bafagih, jurnalis yang menyelundupkan kabar Proklamasi ke dunia, namun namanya nyaris hilang dari sejarah Indonesia.
INDONESIAONLINE – Di sebuah pagi yang belum sepenuhnya menjadi milik bangsa merdeka, suara itu datang melalui kabel-kabel yang dingin dan sunyi. Ia bukan suara meriam, bukan pula sorak-sorai rakyat. Ia adalah suara yang ditahan, diselundupkan, disamarkan.
Dan di balik suara itu, berdiri seorang lelaki yang tidak pernah benar-benar meminta untuk diingat: Asa Bafagih.
Namanya tidak sering disebut ketika orang membicarakan kemerdekaan. Ia tidak berdiri di beranda rumah di Jalan Pegangsaan Timur. Ia tidak pula memegang mikrofon di hadapan massa. Tetapi pada 17 Agustus 1945, ketika kata “merdeka” pertama kali menggetarkan udara Jakarta, ia berada di ruang yang lebih sunyi—ruang redaksi, ruang berita, ruang di mana sejarah sering kali ditulis tanpa nama.
Anak Tanah Abang yang Memilih Kata
Ia lahir sebagai Abdillah bin Syech bin Ali Bafagih pada 14 Desember 1918 di Tanah Abang, Batavia—sebuah kota yang masih memikul nama kolonialnya. Nama itu kemudian disederhanakan menjadi Asa Bafagih, seolah ia ingin menanggalkan beban panjang silsilah untuk masuk ke dalam dunia yang lebih ringkas: dunia kata-kata.
Di usia muda, ia sudah akrab dengan percetakan dan tinta. Tahun 1938, ia bekerja sebagai redaktur untuk mingguan Pandji Islam di wilayah Jawa, lalu berpindah ke surat kabar Pembangunan di Jakarta hingga 1942. Pada masa itu, pers bukan sekadar medium informasi; ia adalah alat perlawanan yang disamarkan.
Pers Hindia Belanda hidup dalam tekanan. Sensor kolonial membatasi kata, tetapi justru di situlah kecerdikan lahir. Dan Asa Bafagih, seperti banyak jurnalis sezamannya, belajar menulis bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk lolos dari pengawasan.
Ketika Jepang datang pada 1942, banyak hal berubah, tetapi satu hal tetap: kekuasaan selalu ingin menguasai kata. Kantor Berita Domei menjadi pusat distribusi informasi yang dikontrol ketat. Di tempat itulah Asa Bafagih bekerja sebagai redaktur.
Domei bukan sekadar kantor berita. Ia adalah alat propaganda. Setiap berita harus melewati sensor, setiap kalimat harus tunduk. Namun sejarah tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan, bahkan oleh kekuasaan yang paling disiplin sekalipun. Dan di tengah sistem yang mengekang itu, sebuah celah kecil terbuka pada hari yang menentukan.
Telepon dari Persembunyian
Hari itu, 17 Agustus 1945, tidak semua orang tahu bahwa kemerdekaan telah diproklamasikan. Radio masih diawasi, kabel-kabel komunikasi dijaga. Tetapi dari sebuah tempat persembunyian, Adam Malik menelepon kantor Domei.
Di ujung telepon, Asa Bafagih mendengar kata-kata yang baru saja dibacakan oleh Sukarno.
Ia tidak menulisnya untuk arsip. Ia tidak menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ia meneruskannya kepada Pangulu Lubis—seorang rekan di ruang berita. Dan dari sana, berita itu diselundupkan ke dalam sistem siaran.
Dalam buku Lima Windu Antara yang diterbitkan oleh Perum LKBN Antara, disebutkan bahwa naskah Proklamasi dimasukkan ke dalam morse-cast, diselipkan di antara berita-berita resmi yang telah lolos sensor Jepang. Sebuah trik sederhana, tetapi berisiko besar.
Dari sanalah, kabar kemerdekaan Indonesia menyeberangi batas-batas yang sebelumnya dijaga ketat. Ia keluar dari Jakarta, keluar dari Jawa, bahkan keluar dari negeri yang baru lahir itu. Dan di balik itu semua, tidak ada tanda tangan Asa Bafagih.
Setelah kemerdekaan, Domei berubah menjadi Antara. Asa Bafagih tetap tinggal, menjadi bagian dari mesin yang kini bekerja untuk bangsa sendiri. Ia bahkan menjadi ketua cabang Jakarta.
Tetapi ia tidak berhenti di sana.
Tahun 1950-an, ia berpindah dari satu surat kabar ke surat kabar lain—Merdeka, Pemandangan, Duta Masjarakat. Ia menjadi pemimpin redaksi, tetapi tidak pernah menjadikan dirinya sebagai pusat cerita. Dalam dunia pers yang mulai berkembang, ia memilih tetap berada di garis kerja, bukan di panggung.
Menurut data dari Dewan Pers, periode 1950-an adalah masa konsolidasi pers nasional, di mana surat kabar tumbuh pesat sebagai bagian dari demokrasi awal Indonesia. Asa Bafagih adalah salah satu penggeraknya, meski namanya tidak selalu muncul di halaman depan.
Ia bukan hanya jurnalis. Ia adalah seorang poliglot. Ia menguasai bahasa Inggris, Arab, dan Prancis—kemampuan yang langka pada masanya. Kemampuan itu membawanya keluar dari ruang redaksi menuju diplomasi.
Pada 1960, Sukarno mengangkatnya sebagai duta besar untuk Sri Lanka, lalu ke Aljazair hingga 1968. Ini adalah masa ketika Indonesia aktif di panggung dunia, terutama dalam semangat Konferensi Asia Afrika.
Menurut arsip Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, periode tersebut merupakan fase penting diplomasi Indonesia dalam membangun solidaritas negara-negara berkembang. Asa Bafagih berada di sana—lagi-lagi, bukan sebagai pusat sorotan, tetapi sebagai penghubung.
Setelah tugas diplomatiknya selesai, ia kembali ke dunia yang paling ia kenal: menulis. Kolom-kolomnya muncul di berbagai surat kabar seperti Merdeka, Kompas, dan Angkatan Bersendjata. Ia menulis tentang geopolitik Arab, tentang Palestina, tentang dunia yang terus berubah.
Pembacanya banyak. Tetapi seperti biasa, namanya tetap berjalan di belakang tulisannya.
Kematian yang Sunyi
Tahun 1978, ia menghadiri Sidang Dewan Pers di Semarang. Itu adalah perjalanan terakhirnya. Dalam perjalanan pulang, ia wafat di Solo pada 13 Desember 1978—sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-60. Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.
Di pemakamannya, Hamka menjadi imam salat jenazahnya. Tidak ada parade. Tidak ada pidato besar. Hanya keheningan yang mungkin sudah akrab dengannya sejak lama.
Sejarawan Nabiel A. Karim Hayaze pernah mengatakan bahwa Asa Bafagih hidup dalam arsip—dalam catatan kaki, dalam fragmen ingatan, dalam lembaran yang jarang dibuka.
Ia adalah bagian dari banyak fase penting, seperti perjuangan kemerdekaan,pembangunan pers nasional, konsolidasi demokrasi awal, dan diplomasi internasional. Namun namanya tidak pernah benar-benar tinggal di ingatan publik.
Pada 1982, Harmoko memberikan penghargaan Perintis Pers Indonesia kepadanya. Sebuah pengakuan, meski datang terlambat. Jurnalis senior Joko Prawoto Mulyadi pernah menyebut ironi itu dengan sederhana: seorang yang sepanjang hidupnya memberitakan peristiwa penting, justru tidak terberitakan.
Sejarah sering kali memilih siapa yang diingat dan siapa yang dilupakan. Tetapi ada juga mereka yang tidak benar-benar hilang—hanya tersembunyi di antara kata-kata yang mereka tulis sendiri.
Asa Bafagih adalah salah satunya.
Ia tidak meninggalkan monumen. Ia tidak mengukir namanya di dinding kekuasaan. Tetapi pada suatu hari di bulan Agustus 1945, ia membantu menyampaikan satu kabar yang mengubah segalanya.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Literatur:
- Perum LKBN Antara – Lima Windu Antara
- Dewan Pers – Sejarah Pers Nasional
- Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia – Arsip Diplomasi RI
- Arsip keluarga Asa Bafagih
- Wawancara dan catatan Nabiel A. Karim Hayaze
- Dokumentasi sejarah pers Indonesia abad ke-20
