Beranda

Misteri DNA Benua Amerika di Kain Kafan Yesus: Asli atau Rekayasa?

Misteri DNA Benua Amerika di Kain Kafan Yesus: Asli atau Rekayasa?
Detail Kain Kafan Turin yang menunjukkan gambar yang diduga sebagai wajah (kanan) dan tangan (kiri) Yesus Kristus, dipamerkan kepada publik untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun pada tanggal 10 April 2010 di Katedral Turin. (AFP/VINCENZO PINTO/File Foto)

Penemuan aneh DNA tomat, wortel, hingga karang laut di Kain Kafan Turin memicu perdebatan baru. Benarkah relikui ini asli atau mahakarya abad pertengahan?

INDONESIAONLINE – Selama berabad-abad, selembar kain linen berukuran 4,4 x 1,1 meter yang tersimpan rapat di Katedral Santo Yohanes Pembaptis di Turin, Italia, telah menjadi pusat dari salah satu perdebatan paling sengit dalam sejarah teologi dan sains. Dikenal sebagai Kain Kafan Turin (Shroud of Turin), relikui ini diyakini oleh jutaan umat Kristiani sebagai kain pembungkus jenazah Yesus Kristus setelah penyaliban.

Di atas kain tersebut, tercetak samar bayangan seorang pria dengan luka-luka yang konsisten dengan siksaan penyaliban Romawi. Namun, ketika para ilmuwan memutuskan untuk tidak lagi hanya melihat bayangan makroskopis dan mulai menyelam ke dunia mikroskopis, mereka menemukan fakta yang jauh lebih membingungkan: kain suci ini menyimpan kebun botani dan kebun binatang genetik dari seluruh penjuru dunia.

Sebuah studi genetik mendalam yang menganalisis debu dan partikel yang menempel pada serat kain kafan tersebut mengungkap anomali sains yang mengejutkan. Alih-alih hanya menemukan sisa-sisa DNA dari wilayah Timur Tengah abad pertama, para peneliti justru menemukan jejak DNA wortel, tomat, hingga karang merah Mediterania. Lantas, bagaimana rekam jejak genetika ini bisa bersarang di sana?

Kebun Raya dan Kebun Binatang Mikroskopis

Dalam penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal Scientific Reports (Nature) oleh ahli genetika tanaman dari Universitas Padua, Italia, terungkap bahwa kain kafan tersebut ibarat spons yang menyerap material genetik dari lingkungan sekitarnya selama berabad-abad.

Dari total temuan sekuensing DNA pada debu kain kafan, sebanyak 31% berasal dari tumbuhan. Spesies yang teridentifikasi sangat beragam dan di luar dugaan. Terdapat jejak gandum, gandum hitam, dan rumput yang mungkin terasa wajar. Namun, penemuan DNA jagung, paprika, tomat, kentang, melon (atau mentimun), kacang tanah, pisang, almond, kenari, hingga jeruk nipis memicu tanda tanya besar.

Keanehan tidak berhenti pada flora. Sekitar 44% DNA yang teridentifikasi berasal dari kingdom hewan. DNA kucing dan anjing mendominasi persentase ini, disusul oleh hewan ternak dan liar seperti ayam, sapi, kambing, domba, babi, kuda, rusa, kelinci, hingga organisme mikroskopis seperti tungau kulit dan kutu burung.

Ada pula DNA bakteri yang menyumbang sekitar 10% hingga 30% dari total penemuan genetik di dalam kain tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa kain tersebut telah disentuh, dicium, dan dipamerkan di udara terbuka selama ratusan tahun tanpa perlindungan yang memadai, membiarkan debu, liur, dan sel kulit mati menempel pada serat linennya.

Anomali Lintas Benua: Misteri Tanaman “Dunia Baru”

Fakta paling mengganjal dari deretan DNA tumbuhan tersebut adalah anomali kronologis dan geografisnya. Beberapa tumbuhan yang ditemukan, seperti tomat, kentang, jagung, dan cabai, adalah tanaman endemik benua Amerika (“Dunia Baru”).

Dalam catatan sejarah biologi dan agrikultur dunia, tanaman-tanaman ini baru diperkenalkan ke benua Eropa (“Dunia Lama”) pada abad ke-16, jauh setelah penjelajahan Christopher Columbus pada 1492. Jika kain kafan ini benar-benar berasal dari Yerusalem pada abad pertama Masehi, atau bahkan jika itu adalah barang palsu dari abad pertengahan (abad ke-14), bagaimana mungkin DNA tanaman Amerika bisa menempel di sana?

Para peneliti menyimpulkan bahwa kain ini kemungkinan besar mengalami kontaminasi berat seiring berjalannya waktu. Kain ini telah berpindah tangan melintasi berbagai negara dan benua, bersentuhan dengan individu yang mungkin baru saja mengonsumsi atau menangani bahan-bahan dari benua Amerika ribuan tahun setelah masa Yesus Kristus.

Lebih lanjut, temuan DNA karang merah (Corallium rubrum) yang merupakan spesies endemik Laut Mediterania memperkuat teori bahwa kain ini pernah melakukan perjalanan panjang melintasi jalur laut Eropa Selatan atau Timur Tengah. Terdapat pula jejak genetik yang merujuk pada pengaruh lingkungan dari India, memunculkan spekulasi bahwa linen tersebut mungkin ditenun di Asia Selatan atau pernah dibawa melintasi Jalur Sutra kuno.

Jejak Tangan Manusia: Dari Peziarah hingga Ilmuwan

Selain flora dan fauna, sekuensing genetik menemukan keragaman DNA manusia tingkat tinggi dari berbagai garis keturunan (haplogrup), yang mencakup Eropa, Asia, hingga Afrika Utara. Kain ini jelas telah dikelilingi oleh lautan manusia.

Salah satu temuan paling ironis adalah teridentifikasinya DNA yang sangat cocok dengan profil genetik para ilmuwan itu sendiri. Diketahui bahwa sampel debu ini awalnya dikumpulkan pada tahun 1978 oleh tim Shroud of Turin Research Project (STURP) dan pada tahun 1988 menggunakan selotip khusus yang ditempelkan pada kain.

Proses pengumpulan sampel di masa lalu, yang belum menerapkan protokol ruang steril (cleanroom) seketat saat ini, meninggalkan “sidik jari genetik” para peneliti modern di atas kain kuno tersebut.

Rekam jejak sejarah resmi Kain Kafan Turin yang tak terbantahkan baru dimulai pada pertengahan abad ke-14. Tepatnya pada tahun 1354, seorang ksatria Perancis bernama Geoffroi de Charny memamerkan kain ini di desa Lirey, Perancis Utara. Saat itu, uskup setempat, Pierre d’Arcis, bahkan sempat menulis surat kepada Paus Klemens VII yang menyatakan bahwa kain itu adalah barang palsu dan ia mengetahui seniman yang melukisnya.

Pada tahun 1988, Vatikan mengizinkan tiga laboratorium independen di Universitas Oxford, Universitas Arizona, dan Institut Teknologi Federal Swiss untuk melakukan uji penanggalan radiokarbon (Carbon-14) pada sepotong kecil pinggiran kain. Hasilnya menjadi pukulan telak bagi para penganut keaslian kain: linen tersebut diperkirakan dibuat antara tahun 1260 hingga 1390 Masehi. Rentang waktu ini secara mengejutkan bertepatan dengan kemunculan pertamanya di Perancis.

Meski demikian, sains terus berkembang dan perdebatan tidak pernah benar-benar mati. Banyak pihak berargumen bahwa sampel yang dipotong pada 1988 adalah bagian kain yang ditambal oleh para biarawati setelah kain tersebut selamat dari kebakaran di Chambery, Perancis pada tahun 1532.

Sebagai data penyeimbang, pada tahun 2022, seorang ilmuwan Italia dari Institut Kristalografi (CNR), Liberato De Caro, menggunakan metode sains baru bernama Wide-Angle X-ray Scattering (WAXS) untuk mengukur penuaan struktural benang selulosa.

Mengejutkannya, hasil riset De Caro menunjukkan bahwa benang Kafan Turin memiliki profil penuaan yang identik dengan sampel kain dari Pengepungan Masada di Israel yang berasal dari abad pertama (55-74 Masehi), dan tidak cocok dengan kain dari abad pertengahan.

Mengurai Misteri Pembentukan Gambar

Jika usianya terus diperdebatkan, bagaimana dengan gambar manusia di atasnya? Penelitian terbaru beberapa tahun ke belakang mengungkapkan teori alternatif. Penampakan gambar samar seorang pria lengkap dengan noda yang diyakini sebagai darah (yang telah diuji mengandung hemoglobin, bilirubin, dan albumin manusia) mungkin terbentuk karena proses kimiawi jangka panjang.

Sebuah eksperimen mendemonstrasikan bahwa jika sebuah kain linen yang mengandung kotoran atau sisa sabun kuno (saponaria) diletakkan di atas pahatan bas-relief (patung ukiran rendah) yang dipanaskan atau terkena gas asam, ia dapat menghasilkan degradasi selulosa yang menciptakan gambar negatif fotografis persis seperti pada Kain Kafan Turin.

Pada akhirnya, temuan DNA campuran antara wortel, tomat, karang Mediterania, dan kutu burung tidak serta merta membuktikan bahwa kain ini palsu atau asli. Sebaliknya, hal itu membuktikan satu fakta yang tak terbantahkan: Kain Kafan Turin adalah “buku harian mikroskopis” dari peradaban manusia.

Kain ini telah dipegang oleh ksatria abad pertengahan, diselamatkan dari kebakaran, dicium oleh jutaan peziarah, dikelilingi oleh hewan, hingga diteliti oleh ilmuwan modern.

Entah ia benar-benar pernah membungkus tubuh Yesus dari Nazaret atau merupakan karya jenius seorang seniman tak dikenal dari abad ke-14, Kain Kafan Turin telah menyerap sejarah manusia—dan alam semesta—ke dalam setiap helai benangnya.

 

Exit mobile version