Claude Le Roy serukan boikot Piala Dunia 2026. Protes keras kebijakan visa Trump yang hantam Afrika dan kemesraan politik FIFA.
INDONESIAONLINE – Euforia final Piala Afrika 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah baru saja surut, namun sebuah badai diplomatik baru saja ditiupkan dari tepi lapangan. Claude Le Roy, sosok yang dijuluki “Penyihir Putih” karena dedikasinya selama empat dekade di sepak bola Afrika, tidak sedang membicarakan taktik.
Dalam wawancara eksplosif dengan harian Le Figaro, Senin (19/1/2026), pelatih berusia 77 tahun ini melemparkan wacana yang mengguncang jagat sepak bola: Boikot Piala Dunia 2026.
Seruan ini bukan tanpa alasan. Ini adalah respons frontal terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang kembali memimpin Gedung Putih. Inti kemarahan Le Roy bermuara pada kebijakan imigrasi agresif AS yang membekukan visa bagi warga dari 75 negara—sebuah daftar hitam yang ironisnya mencakup negara-negara Afrika yang telah memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia, seperti Senegal dan Pantai Gading.
Sepak Bola di Sandera Politik Visa
Piala Dunia 2026, yang dijadwalkan berlangsung 11 Juni hingga 19 Juli di tiga negara (Amerika Serikat, Kanada, Meksiko), seharusnya menjadi pesta inklusivitas dengan format 48 tim. Namun, kebijakan proteksionisme Trump mengancam mengubah turnamen ini menjadi panggung eksklusivitas.
Bagi Le Roy, sepak bola tidak bisa dipisahkan dari martabat kemanusiaan. Kebijakan pembekuan visa ini tidak hanya menghambat mobilitas suporter, tetapi juga berpotensi mengganggu logistik tim nasional dan delegasi resmi dari negara-negara terdampak.
“Saya bertanya-tanya apakah tidak sebaiknya menyerukan boikot Piala Dunia 2026,” ujar Le Roy, sebagaimana dikutip dari L’Equipe.
Pernyataan ini berani, mengingat besarnya pertaruhan finansial dan sanksi yang mungkin dijatuhkan FIFA kepada federasi yang menolak bertanding. Namun, bagi Le Roy, harga diri benua Afrika jauh lebih mahal daripada sekadar partisipasi di turnamen yang tuan rumahnya menutup pintu bagi rakyatnya.
Kritik Keras Matinya LSM dan Kemesraan FIFA
Analisis Le Roy menukik lebih dalam dari sekadar urusan visa pemain. Ia menyoroti dampak sistemik kebijakan Trump terhadap stabilitas sosial di Afrika. Pemotongan dana bantuan internasional dan tekanan terhadap Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dianggap sebagai upaya pelemahan struktur sosial benua tersebut.
“Dia adalah presiden yang merusak Afrika dengan mematikan semua LSM. Di situlah letak tragedi benua ini,” tegas mentor dari pelatih Herve Renard tersebut.
Le Roy juga tidak segan menuding hidung Presiden FIFA, Gianni Infantino. Hubungan yang tampak mesra antara Infantino dan Trump—yang memuncak pada pemberian trofi FIFA Peace Prize kepada Trump pada 5 Desember 2025 lalu di Washington D.C.—dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai sportivitas.
Bagi Le Roy, FIFA telah terseret arus komersialisasi politik, di mana uang dan akses kekuasaan menjadi panglima, menggeser nilai-nilai universal sepak bola.
“Melihat perilaku Donald Trump terhadap benua ini, dengan seorang presiden FIFA, Gianni Infantino, yang membanggakan diri berada di sisinya… Para pemimpin di tingkat tertinggi sepak bola tidak pernah lagi berbicara tentang sepak bola, melainkan hanya soal uang,” sindir Le Roy dengan tajam.
Suara Hati Afrika yang Terbungkam
Sebagai figur yang pernah membawa Kamerun juara Piala Afrika 1988 dan menangani timnas seperti Senegal, Ghana, hingga Togo, suara Le Roy memiliki resonansi kuat. Ia bukan orang luar; ia adalah bagian dari sejarah sepak bola Afrika itu sendiri.
Momen ketika ia terlihat memberikan instruksi kepada Sadio Mane di tengah kekacauan final Piala Afrika 2025 menunjukkan bahwa pengaruhnya melampaui batas formal jabatan pelatih atau pengamat.
Namun, Le Roy menyadari posisinya yang kerap dianggap “pengganggu” oleh elit birokrasi sepak bola. Ia mengaku kerap dibungkam dalam forum-forum resmi Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
“Saya beberapa kali ingin berbicara, tetapi saya tidak pernah diberi mikrofon karena semua orang tahu saya pasti tidak akan bersikap menyenangkan,” akunya.
Jika seruan boikot ini mendapatkan momentum, Piala Dunia 2026 menghadapi krisis legitimasi serius. Tanpa kehadiran bintang-bintang Afrika dan suporter fanatik mereka, turnamen di Amerika Utara akan kehilangan separuh jiwanya.
Le Roy telah melempar bola panas. Kini, dunia menanti apakah federasi sepak bola di Afrika berani mengambil sikap yang sama: memilih martabat di atas piala, atau tunduk pada aturan main yang ditentukan oleh pemegang visa.
“Perjuangan saya dalam hal ini belum berakhir,” tutup Le Roy.
Sebuah janji bahwa di sisa usianya, ia akan terus menjadi “penjaga” bagi kepentingan sepak bola Afrika di hadapan hegemoni politik global.
