Banjir jalur Kaliwungu hambat KA ke Surabaya & Malang. Ratusan penumpang KA Majapahit & Jayabaya terdampak. KAI Daop 8 lakukan service recovery
INDONESIAONLINE – Ratusan kilometer dari Kota Malang dan Surabaya, hujan deras mengguyur wilayah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada Kamis malam (15/1/2026). Air yang tak tertampung drainase meluap, merendam bantalan rel dan memutus nadi transportasi vital di Pantai Utara Jawa.
Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh warga setempat. Di ujung timur Pulau Jawa, ratusan penumpang di Stasiun Malang dan Surabaya Pasarturi harus menelan pil pahit: perjalanan mereka terhambat oleh “efek domino” cuaca ekstrem yang melumpuhkan sistem perkeretaapian.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras betapa rentannya infrastruktur transportasi massal terhadap anomali cuaca di awal tahun 2026. Genangan air yang terjadi di satu titik spesifik, yakni petak jalan antara Stasiun Kaliwungu dan Stasiun Kalibodri, sukses mengacaukan jadwal perjalanan kereta api lintas provinsi, memaksa PT Kereta Api Indonesia (Persero) bekerja keras memulihkan layanan di tengah tantangan alam.
Kronologi: Malam Kelabu di Kilometer 20
Gangguan bermula pada Kamis malam, tepatnya pukul 21.22 WIB. Laporan masuk ke pusat kendali operasi mengenai naiknya debit air di jembatan rel BH 111 yang terletak di Kilometer 20+7/8. Curah hujan tinggi membuat sungai di bawah jembatan meluap hingga menutup kop rel (bagian atas rel).
Dalam dunia perkeretaapian, genangan air di atas kop rel adalah sinyal bahaya tingkat tinggi. Tidak hanya berisiko menggerus lapisan batu balas yang menopang rel (kricak), air juga berpotensi memicu korsleting pada sistem persinyalan otomatis yang sangat vital bagi keselamatan. Akibatnya, jalur ganda (double track) yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya via Semarang ini lumpuh sementara.
Petugas di lapangan terpaksa memberlakukan pembatasan kecepatan ekstrem, bahkan penghentian sementara operasional di titik tersebut demi alasan keselamatan (safety first). Kereta api yang seharusnya melaju kencang membelah malam, terpaksa tertahan atau berjalan merayap, menciptakan antrean panjang yang efeknya menjalar hingga ke wilayah kerja Daop 8 Surabaya.
Kekacauan Jadwal di Daop 8 Surabaya
Kabar buruk dari Jawa Tengah segera berdampak pada papan jadwal kedatangan di stasiun-stasiun besar Jawa Timur. Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, mengonfirmasi situasi sulit tersebut pada Jumat (16/1/2026). Ia menegaskan bahwa keterlambatan ini murni akibat faktor alam yang berada di luar kendali operasional perusahaan (force majeure).
“Kami memohon pengertian pelanggan atas keterlambatan yang terjadi. Gangguan perjalanan ini merupakan dampak langsung dari banjir yang menggenangi jalur rel di wilayah Jawa Tengah,” ungkap Mahendro dengan nada prihatin.
Efek domino ini memukul rata hampir seluruh layanan kereta api jarak jauh kelas unggulan. Hingga Jumat pagi pukul 10.00 WIB, daftar kereta yang mengalami keterlambatan kedatangan di wilayah Daop 8 Surabaya semakin panjang.
Di Stasiun Surabaya Pasarturi, penumpang KA Sembrani (Jakarta-Surabaya), KA Argo Bromo Anggrek (kereta flagship KAI), KA Gumarang, dan KA Harina harus menunggu lebih lama dari jadwal seharusnya. Begitu pula dengan KA Argo Anjasmoro dan KA Pandalungan (kereta dengan rute terpanjang di Indonesia, Jember-Jakarta) yang ikut terseret dalam pusaran keterlambatan ini.
Ratusan Penumpang di Malang Terdampak
Dampak paling signifikan secara emosional mungkin dirasakan oleh penumpang yang bertujuan akhir di Kota Malang. Kota dingin ini melayani dua kereta api populer yang terdampak cukup parah, yakni KA Majapahit dan KA Jayabaya. Kedua kereta ini dikenal sebagai favorit masyarakat karena rutenya yang strategis menghubungkan Malang dengan Jakarta via jalur utara.
Berdasarkan data manifest penumpang yang dirilis PT KAI Daop 8 Surabaya, jumlah warga yang terdampak tidaklah sedikit. Tercatat ada 344 penumpang di KA Majapahit dan 505 penumpang di KA Jayabaya yang harus turun di Stasiun Malang dengan kondisi lelah akibat durasi perjalanan yang molor. Total, ada 849 orang di Malang saja yang merasakan dampak langsung dari luapan air di Kaliwungu tersebut.
Keterlambatan ini tentu menguji kesabaran penumpang. Namun, keselamatan perjalanan tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. Mahendro menegaskan bahwa KAI tidak akan mengambil risiko sekecil apa pun dengan memaksakan kereta melaju normal di atas rel yang tergenang banjir.
Rotasi Kereta Terganggu
Masalah tidak berhenti pada kereta yang datang. Keterlambatan kedatangan rangkaian kereta secara otomatis mengacaukan jadwal keberangkatan kereta berikutnya. Rangkaian kereta yang terlambat tiba di Surabaya atau Malang membutuhkan waktu untuk perawatan, pembersihan, dan pengecekan teknis sebelum siap diberangkatkan kembali.
Dampaknya langsung terasa pada jadwal keberangkatan dari wilayah Surabaya. Salah satu “korban” dari kekacauan rotasi ini adalah KA Ambarawa Ekspress relasi Surabaya Pasarturi – Semarang Poncol. Penumpang yang hendak berangkat ke Jawa Tengah pun harus menyesuaikan diri dengan perubahan jadwal yang mendadak ini.
Kompensasi dan Tanggung Jawab KAI
Menghadapi krisis layanan akibat bencana alam ini, PT KAI Daop 8 Surabaya langsung mengaktifkan protokol Service Recovery. Ini adalah mekanisme standar pelayanan minimum untuk meredam kekecewaan pelanggan saat terjadi keterlambatan tinggi.
Bentuk Service Recovery ini bervariasi tergantung durasi keterlambatan, mulai dari pemberian minuman ringan, makanan ringan (snack), hingga makanan berat jika keterlambatan melampaui batas waktu tertentu sesuai regulasi yang berlaku.
“Sebagai bentuk pelayanan kepada pelanggan, PT KAI Daop 8 Surabaya memastikan telah memberikan kompensasi atau service recovery sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tambah Mahendro.
Langkah ini, meski tidak dapat mengembalikan waktu yang hilang, setidaknya menjadi bentuk itikad baik perusahaan dalam memanusiakan penumpangnya di tengah situasi sulit. Petugas customer service dan kondektur di atas kereta dikerahkan untuk memberikan informasi terkini secara berkala kepada penumpang agar tidak terjadi kepanikan atau kebingungan.
Tantangan Infrastruktur di Tengah Perubahan Iklim
Peristiwa banjir di petak Kaliwungu–Kalibodri ini membuka mata kita akan tantangan besar yang dihadapi infrastruktur transportasi nasional di tahun 2026. Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa, baik jalan raya maupun rel kereta, merupakan urat nadi ekonomi pulau terpadat ini. Ketika satu titik tersumbat, aliran logistik dan mobilitas manusia di seluruh pulau ikut tersendat.
Hingga berita ini diturunkan, tim teknis Prasarana KAI di wilayah Jawa Tengah (Daop 4 Semarang) terus berjibaku di lapangan. Mereka melakukan normalisasi jalur, penguatan tubuh ban (struktur tanah di bawah rel), dan pembersihan sisa-sisa material banjir agar kecepatan kereta api dapat segera kembali normal.
Sementara itu, di Stasiun Surabaya Gubeng, Pasarturi, dan Malang, operasional perlahan mulai menyesuaikan diri. Meski cuaca ekstrem masih mengintai di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Januari 2026, kesigapan mitigasi bencana dan transparansi informasi menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap moda transportasi kereta api.
Bagi para penumpang yang hendak bepergian menggunakan kereta api dalam beberapa hari ke depan, disarankan untuk memantau aplikasi Access by KAI secara berkala guna mendapatkan pembaruan jadwal real-time dan mengantisipasi potensi keterlambatan susulan akibat cuaca yang tak menentu.
