Ketegangan AS dan Iran mengingatkan pada sejarah kelam 1945. Keputusan ekstrem Presiden Truman mengebom Jepang jadi bukti AS bisa bertindak radikal.
INDONESIAONLINE – Di tengah gemuruh geopolitik Timur Tengah yang kian memanas, retorika ancaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sering kali dianggap oleh sebagian pengamat sebagai gertakan diplomasi tingkat tinggi (brinkmanship). Keinginan Washington untuk menyudahi provokasi Teheran dan proksinya “secepat mungkin” kerap dinilai sebagai gertakan sambal belaka.
Namun, jika kita membalik lembaran sejarah militer Amerika Serikat, ada sebuah preseden mengerikan yang membuktikan bahwa Paman Sam tidak pernah bermain-main dengan tenggat waktu dalam sebuah peperangan. Ketika Washington merasa terjebak dalam konflik yang berlarut-larut, sejarah mencatat bahwa mereka bersedia menekan tombol paling mematikan yang pernah diciptakan umat manusia.
Membaca pola ancaman AS hari ini terhadap Iran tidak bisa dilepaskan dari memori kolektif dunia pada Juli-Agustus 1945. Pada masa itu, di bawah komando Presiden Harry S. Truman, Amerika Serikat mengambil keputusan paling ekstrem, radikal, dan kontroversial dalam sejarah peradaban: menjatuhkan bom nuklir ke daratan Jepang.
Kalkulasi Kematian: Mengapa Truman Memilih Nuklir?
Untuk memahami jalan pikiran militer AS saat menghadapi musuh yang keras kepala, kita harus menengok ke front Pasifik pada pengujung Perang Dunia II. Pada pertengahan 1945, Fasisme Italia telah runtuh, dan Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler telah menyerah tanpa syarat pada bulan Mei. Namun, Kekaisaran Jepang berdiri tegak bak benteng terakhir yang menolak tunduk.
Meski kota-kota industri mereka telah hangus oleh kampanye pengeboman udara konvensional AS—termasuk Operation Meetinghouse yang menghancurkan Tokyo—militer Jepang tetap menolak Ultimatum Potsdam yang menuntut penyerahan tanpa syarat. Bagi tentara Kekaisaran, mati demi Kaisar Hirohito jauh lebih terhormat daripada menyerah.
Berdasarkan dokumen rahasia militer AS yang kini telah dideklasifikasi di Truman Library, Pentagon saat itu telah menyiapkan skenario invasi darat besar-besaran ke pulau utama Jepang bersandi Operation Downfall. Namun, kalkulasi data intelijen menunjukkan angka yang membuat bulu kuduk Truman berdiri.
Studi yang dilakukan oleh Joint Chiefs of Staff AS pada musim panas 1945 memperkirakan bahwa invasi darat ke Jepang akan menelan korban di pihak tentara Amerika Serikat hingga 1 juta jiwa, serta jutaan nyawa warga sipil dan militer Jepang.
Tingginya potensi body count (jumlah korban tewas) ini menjadi momok politik bagi Truman di dalam negeri. Perang harus diakhiri seketika. Biaya sebuah invasi darat dinilai terlalu mahal, baik dari segi nyawa tentara Amerika maupun anggaran negara.
Pilihannya kemudian jatuh pada Proyek Manhattan—proyek rahasia bernilai 2 miliar dolar AS (setara 34 miliar dolar AS saat ini) yang dipimpin oleh fisikawan J. Robert Oppenheimer.
Dua Kilatan Cahaya yang Mengubah Kemanusiaan
Bencana buatan manusia itu pun tiba. Pada pagi yang cerah tanggal 6 Agustus 1945, pesawat pengebom B-29 Superfortress bernama Enola Gay melepaskan Little Boy, sebuah bom atom berbasis uranium dengan daya ledak 15 kiloton, tepat di atas langit Hiroshima.
Kilatan cahaya yang lebih terang dari ribuan matahari membakar kota tersebut. Suhu di titik nol episentrum ledakan mencapai 4.000 derajat Celcius, melelehkan baja, meruntuhkan beton, dan menguapkan manusia dalam hitungan milidetik.
Mengutip data historis dari Britannica, korban jiwa di Hiroshima diperkirakan mencapai 70.000 hingga 140.000 orang tewas seketika hingga akhir 1945.
Karena Tokyo masih terdiam dalam keterkejutan dan menolak menyerah, Truman tanpa ampun kembali memberikan perintah kedua. Tiga hari berselang, pada 9 Agustus 1945, bom kedua bernama Fat Man—bom plutonium berdaya ledak 21 kiloton—dijatuhkan di atas kota pelabuhan Nagasaki. Gelombang kejutnya merenggut sekitar 40.000 hingga 80.000 nyawa.
Tragedi ini melampaui statistik kematian instan. Ratusan ribu penduduk Jepang yang selamat—dikenal sebagai Hibakusha—harus menanggung efek radiasi genetik jangka panjang berupa leukimia, kanker tiroid, dan kecacatan lahir yang menghantui generasi mereka hingga puluhan tahun kemudian.
Efek kejut traumatis yang luar biasa ini sukses mematahkan mental militer Jepang. Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan diri melalui siaran radio yang bersejarah. Penyerahan resmi ditandatangani pada 2 September 1945 di atas geladak kapal perang USS Missouri, secara efektif mengakhiri Perang Dunia II.
Pesan Berdarah untuk Moskow: Diplomasi Senjata Mengancam
Meski narasi utama AS menyebutkan bahwa bom tersebut dijatuhkan “untuk menyelamatkan jutaan nyawa dari invasi darat,” analisis geopolitik modern menyingkap motif ganda yang lebih kelam.
Sejarawan terkemuka Sergey Radchenko, dalam tulisannya bertajuk “Did Hiroshima Save Japan From Soviet Occupation?” memberikan perspektif alternatif. Ia menilai bahwa peledakan bom nuklir tersebut bukan semata-mata taktik militer untuk menaklukkan Jepang, melainkan sebuah pesan unjuk kekuatan (show of force) yang ditujukan langsung ke jantung Kremlin.
Pada Agustus 1945, diktator Uni Soviet, Joseph Stalin, mulai menggerakkan Pasukan Merah melintasi Manchuria, bersiap mencaplok wilayah Jepang. Truman menyadari bahwa jika Soviet ikut serta mengalahkan Jepang, Moskow akan meminta pembagian wilayah kekuasaan di Asia Timur, seperti yang terjadi di Jerman (Berlin Barat dan Timur).
Dengan mengebom nuklir Jepang, AS secara sepihak mengakhiri perang sebelum Soviet bisa melangkah lebih jauh, sekaligus menahbiskan diri sebagai hegemon tunggal pemegang senjata pemusnah massal.
Tindakan Truman sukses mencegah ekspansi Soviet di Jepang, namun memicu harga mahal yang harus dibayar peradaban manusia: era Perang Dingin dan perlombaan senjata nuklir global.
Menakar Potensi Radikal AS Terhadap Iran
Lantas, apa hubungannya tragedi 1945 ini dengan ketegangan AS-Iran di abad ke-21?
Hubungan keduanya bukan sekadar menilik masa lalu, melainkan memahami doktrin psikologi militer AS. Hingga detik ini, pemerintah Amerika Serikat belum pernah secara resmi meminta maaf atas jatuhnya dua bom atom di Jepang. Hal ini menegaskan postur pertahanan mereka bahwa penggunaan kekuatan ekstrem dapat dibenarkan (justified) jika itu menyangkut “kepentingan keamanan nasional tertinggi.”
Dalam konteks konflik dengan Iran hari ini, kita melihat pola frustrasi yang hampir mirip. Berdasarkan laporan International Atomic Energy Agency (IAEA) awal 2024, Iran dilaporkan telah memperkaya uraniumnya hingga tingkat kemurnian 60 persen—hanya selangkah lagi menuju weapons-grade atau tingkat senjata (90 persen).
Di saat yang sama, proksi-proksi Iran seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon terus merepotkan militer AS dan sekutunya, Israel.
Meskipun invasi darat AS ke Iran hari ini dinilai sangat tidak masuk akal mengingat topografi pegunungan Iran yang rumit dan kemampuan militernya yang jauh lebih modern dari Irak era Saddam Hussein, opsi militer AS sangat luas.
Menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) tahun 2023, AS memiliki sekitar 5.044 hulu ledak nuklir aktif, serta ribuan senjata mematikan non-nuklir canggih, seperti Massive Ordnance Penetrator (MOP) atau “bunker buster”, yang didesain khusus untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Fordow dan Natanz.
Sejarah Truman mengingatkan kita pada satu hukum besi dalam doktrin militer Washington: AS memiliki kecenderungan pragmatis untuk mengambil langkah nekat, asimetris, dan radikal demi mengakhiri potensi ancaman secara instan, tanpa mempedulikan kerusakan kolateral (collateral damage).
Di tengah ketegangan yang kian mendidih di Timur Tengah, ingatan tentang awan jamur di atas langit Pasifik seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Bahwa ketika diplomasi menemui jalan buntu dan kesabaran seorang hegemon habis, keputusan yang tidak pernah terbayangkan oleh umat manusia, sangat mungkin untuk diulangi. Keinginan AS menyudahi konflik secepat mungkin, seperti yang diajarkan oleh sejarah, bukanlah sebuah ancaman kosong.













