INDONESIAONLINE – Ajakan sederhana untuk mencoba mengikuti lomba berujung pada prestasi bagi tiga mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang. Tiga mahasiswa yang tergabung di Regu Tulip itu berhasil meraih penghargaan Best Idea dalam International Business Plan Competition 2026, bagian dari rangkaian IB Fest 2026.
Regu Tulip tersebut terdiri dari Revan Dany Hermawan sebagai ketua bersama Lazar Abdillah Asyafiqi dan Lulus Yudi Sekar Hutami sebagai anggota. Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah angkatan 2024 dan kini duduk di semester 5.
Kompetisi berskala internasional itu digelar oleh Program Studi Perbankan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 4–5 September 2026. Seluruh rangkaian perlombaan berlangsung secara luring di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam kompetisi tersebut, peserta terlebih dahulu diminta menyusun serta mengirimkan gagasan business plan. Peserta yang berhasil lolos kemudian mempresentasikan ide bisnisnya di hadapan dewan juri untuk menjalani penilaian hingga penentuan pemenang.
Bagi Regu Tulip, persiapan dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Mereka melewati sejumlah tahapan, mulai dari mencari dan menentukan ide, melakukan riset, menyusun proposal, menyiapkan materi presentasi, hingga berlatih memaparkan gagasan di depan juri.
“Selama proses itu, kami mulai dari menentukan ide, melakukan riset, menyusun proposal, sampai membuat PPT dan latihan presentasi. Jadi, memang cukup banyak yang harus kami pelajari bersama,” ujar Revan.
Ketiga mahasiswa tersebut memilih mengerjakan sebagian besar tahapan secara bersama-sama. Mereka berdiskusi ketika mencari maupun mengembangkan ide serta melakukan riset. Setelah itu, proposal dan materi PPT disusun oleh salah satu anggota sebelum diperbaiki melalui pembahasan bersama.
Sementara dalam sesi presentasi, pembagian tugas dilakukan secara menyeluruh sehingga masing-masing anggota mendapatkan peran.
Sebagai pengalaman lomba pertama, rasa gugup menjadi salah satu tantangan yang harus mereka hadapi. Kondisi tersebut semakin terasa karena kompetisi yang diikuti memiliki cakupan internasional dan mempertemukan peserta dari berbagai perguruan tinggi.
“Karena ini merupakan lomba pertama kami, tantangan terbesarnya adalah rasa grogi dan nervous. Apalagi skalanya internasional dan kami harus bersaing dengan kampus-kampus lain. Awalnya memang ada rasa minder dan takut kurang maksimal,” ungkap Lazar.
Meski demikian, rasa gugup tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi ketiganya. Keputusan untuk berani mencoba membuat mereka mendapatkan pengalaman baru dalam mengikuti kompetisi antarkampus, termasuk mempersiapkan ide hingga berhadapan langsung dengan peserta dari perguruan tinggi lainnya.
Menariknya, perjalanan Regu Tulip dalam kompetisi tersebut bermula dari ajakan yang awalnya tidak direncanakan secara serius. Sebuah celetukan untuk mencoba mengikuti lomba akhirnya benar-benar diwujudkan.
“Awalnya cuma celetukan, ‘Ayo coba ikut lomba yuk,’ yang awalnya asal bunyi aja. Tapi ternyata dari celetukan itu, kami benar-benar mencoba ikut kompetisi,” kata Sekar.
Penghargaan Best Idea menjadi salah satu hasil dari proses tersebut. Selain membawa pulang penghargaan, keikutsertaan dalam International Business Plan Competition 2026 juga menjadi pengalaman pertama bagi Regu Tulip mengikuti kompetisi dengan skala internasional.
Bagi mereka, pengalaman itu menjadi kesempatan untuk memahami secara langsung berbagai tahapan kompetisi sekaligus menguji keberanian dalam menyampaikan gagasan di hadapan peserta dari berbagai kampus.
“Selama ini mungkin kita hanya mendengar cerita tentang lomba, tapi setelah ikut langsung, kita jadi tahu bagaimana prosesnya, bagaimana persiapannya, dan bagaimana rasanya bersaing dengan peserta dari kampus lain. Jadi, pengalaman pertama ini benar luar biasa buat saya,” pungkas Revan. (hsa/hel)
