INDONESIAONLINE – Kehilangan pendengaran secara tiba-tiba pada salah satu telinga sering dianggap sebagai gangguan ringan yang akan membaik dengan sendirinya. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) atau tuli sensorineural mendadak, yang merupakan kondisi darurat di bidang telinga, hidung, tenggorok, kepala, dan leher (THT-KL) dan membutuhkan penanganan segera, terutama dalam golden period 72 jam.
Keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko kehilangan pendengaran permanen yang berdampak pada kualitas hidup penderitanya.
Berangkat dari masih terbatasnya akses pemeriksaan pendengaran menggunakan Pure Tone Audiometry (PTA) di berbagai fasilitas kesehatan primer, tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FK UM) yang diketuai dr Andrew Halim Sp.THTBKL bersama anggota dr Rokhmatul A. M.Biomed, dr Tisnalia M.A. MKes, dr Didiek D.T.S. SpB, serta mahasiswa kedokteran Trofi Rizkitama, Dinda Salsabila Zulfa, dan Nur Iza Lailiah Ramadhani, berkolaborasi dengan Klinik THT Terpadu Malang melakukan penelitian mengenai humming test. Penelitian ini melibatkan 60 subjek dengan pengambilan sampel yang berlangsung pada Januari 2025 hingga Juli 2026.
Humming test sebenarnya merupakan pemeriksaan klinis yang telah lama dikenal dalam bidang THT, tetapi pemanfaatannya sebagai skrining awal masih relatif terbatas. Melalui penelitian ini, tim berupaya memperkuat kembali bukti ilmiah mengenai penggunaan humming test sebagai pemeriksaan yang praktis, cepat, dan mudah diterapkan oleh dokter umum maupun dokter spesialis THT-KL sebelum pasien menjalani pemeriksaan audiometri.
Menurut dr Andrew Halim Sp.THTBKL, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa tuli mendadak merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Di sisi lain, fasilitas pemeriksaan audiometri belum tersedia secara merata. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan awal yang sederhana untuk membantu mengidentifikasi pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan rujukan.

“Humming test bukanlah pemeriksaan baru, tetapi pemeriksaan klinis yang telah lama dikenal. Melalui penelitian ini kami ingin memperkuat bukti ilmiahnya sehingga pemeriksaan ini dapat kembali dimanfaatkan sebagai skrining awal oleh dokter umum maupun dokter spesialis THT, terutama di fasilitas kesehatan yang belum memiliki alat audiometri. Harapannya, pasien dapat dikenali lebih cepat dan segera dirujuk untuk mendapatkan penanganan dalam masa emas terapi,” jelas dr Andrew Halim.
Humming test dilakukan dengan meminta pasien bersenandung sehingga suara dan getaran dapat dihantarkan melalui konduksi tulang (bone conduction). Perubahan persepsi suara yang dirasakan pasien dapat memberikan petunjuk awal mengenai kemungkinan adanya gangguan pendengaran. Pemeriksaan ini relatif sederhana, tidak memerlukan peralatan khusus, dan dapat dilakukan dalam waktu singkat sehingga memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai bagian dari evaluasi klinis awal pasien dengan keluhan penurunan pendengaran.
Dampak positif penelitian ini adalah tersedianya alternatif skrining awal yang sederhana, cepat, dan tidak memerlukan peralatan khusus untuk membantu mengenali kemungkinan tuli mendadak.
Humming test berpotensi membantu dokter di puskesmas, klinik pratama, maupun fasilitas kesehatan lain dengan keterbatasan audiometri dalam menentukan pasien yang memerlukan pemeriksaan PTA dan rujukan ke dokter spesialis THT-KL. Dengan identifikasi yang lebih cepat, pasien diharapkan memperoleh penanganan pada waktu yang tepat sehingga risiko keterlambatan terapi dan kehilangan pendengaran permanen dapat diminimalkan.

Tim peneliti juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat untuk mengenali gejala awal SSNHL, seperti penurunan pendengaran secara mendadak pada satu telinga, telinga berdenging (tinnitus), rasa penuh pada telinga, dan pada sebagian pasien dapat disertai pusing berputar. Apabila gejala tersebut muncul, masyarakat dianjurkan segera berkonsultasi dengan dokter dan tidak menunggu keluhan membaik dengan sendirinya.
Penelitian kolaboratif antara FK UM dan Klinik THT Terpadu Malang ini turut mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan deteksi dini dan pencegahan disabilitas akibat gangguan pendengaran.
Dengan semakin optimalnya pemanfaatan humming test sebagai skrining klinis, diharapkan pasien dengan tuli mendadak dapat dikenali lebih cepat, memperoleh terapi pada masa emas penanganan, dan memiliki peluang lebih besar untuk terhindar dari kehilangan pendengaran permanen. (hsa/hel)







