Pameran Garis Hijau di Galeri Raos soroti kritisnya ekologi Kota Batu. 49 seniman suarakan ancaman beton dan alih fungsi lahan lewat 50 karya seni rupa.
INDONESIAONLINE – Di balik gemerlap lampu tempat wisata buatan dan deretan hotel berbintang yang kian memadati cakrawala, Kota Batu sedang menyimpan “luka” ekologis yang menganga. Kota yang dahulu dikenal sebagai De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa karena kesejukan dan hamparan kebun apelnya, kini tengah bertarung melawan dominasi beton. Kegelisahan atas hilangnya identitas kota inilah yang meledak dalam goresan kanvas dan instalasi seni di Galeri Raos.
Bertajuk “Garis Hijau“, pameran yang digelar mulai 10 hingga 31 Januari 2026 ini bukan sekadar ajang unjuk estetika. Ini adalah manifesto. Sebanyak 49 seniman yang tergabung dalam Yayasan Pondok Seni Batu turun gunung, menyuarakan protes sunyi namun menohok terhadap laju pembangunan yang dinilai telah melampaui daya dukung lingkungan.
Visualisasi Krisis: Ketika Kanvas Merekam Bencana
Memasuki area Galeri Raos, pengunjung langsung disuguhi atmosfer yang kontemplatif sekaligus mencekam. Sebuah instalasi seni yang dipajang di area depan galeri menjadi centerpiece yang menyedot perhatian. Karya ini seolah menjadi gerbang pembuka realitas pahit yang sedang dihadapi warga Batu: himpitan infrastruktur yang mencekik ruang hidup alami.
Total ada 50 karya yang dipamerkan, terdiri atas 45 karya dua dimensi (lukisan) dan empat karya tiga dimensi (patung/kriya), serta satu instalasi konseptual. Meski teknik dan gayanya beragam—mulai dari realisme, surealisme, hingga abstrak—seluruh karya dirajut oleh satu benang merah yang tebal: potret alih fungsi lahan hijau, menurunnya debit sumber mata air, dan tergerusnya lahan pertanian produktif.
Ketua Yayasan Pondok Seni Batu, Watoni, menegaskan bahwa pameran ini lahir dari keresahan kolektif. Para perupa tidak bisa lagi diam menyaksikan perubahan drastis wajah kota mereka.
“Pergeseran dari kota agraris menjadi destinasi wisata memicu ledakan pembangunan yang tak terkendali. Saat ini, kita sedang menyaksikan kontestasi nyata antara beton dan alam hijau. Identitas Batu sebagai kota pertanian sedang di ujung tanduk,” jelas Watoni dengan nada prihatin, saat ditemui di sela-sela pembukaan pameran.
Watoni menyoroti bahwa ekspansi properti—baik itu hotel, vila, maupun wahana wisata buatan—tidak hanya mengubah lanskap visual, tetapi juga memukul sektor sosial-ekonomi petani lokal. Banyak petani yang “kalah”, terpaksa menjual lahan suburnya untuk disulap menjadi bangunan komersial.
Data Berbicara: Erosi “Kota Apel” yang Nyata
Kekhawatiran para seniman ini bukan tanpa dasar. Data statistik dan fakta lapangan mengonfirmasi narasi kelam yang mereka lukiskan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu dan analisis Dinas Pertanian dalam lima tahun terakhir (sebelum 2026), tren penyusutan lahan pertanian, khususnya apel, sangat mengkhawatirkan.
Sebagai pembanding data relevan, pada awal tahun 2000-an, luas lahan apel di Kota Batu masih mencapai lebih dari 1.200 hektare. Namun, memasuki periode 2020-an, angka tersebut merosot tajam hingga di bawah 900 hektare. Alih fungsi lahan menjadi permukiman dan tempat wisata, ditambah perubahan iklim mikro yang membuat suhu Kota Batu semakin hangat, menyebabkan produktivitas apel menurun drastis.
Lebih jauh, studi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur yang pernah dirilis pasca-banjir bandang Bulukerto beberapa tahun silam, menyebutkan bahwa kawasan resapan air di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang berada di wilayah Batu telah mengalami kerusakan signifikan. Hutan lindung dan lahan tegakan berkurang, digantikan oleh tanaman semusim dan bangunan permanen yang tidak ramah serapan air.
Kondisi inilah yang diterjemahkan oleh para seniman “Garis Hijau” ke dalam bahasa rupa. Mereka tidak berbicara dengan angka, tetapi dengan simbol. Ada lukisan yang menggambarkan pohon-pohon yang “berdarah” digergaji mesin, hingga instalasi yang menggambarkan air jernih yang berubah keruh bercampur lumpur pembangunan.
Alarm Peringatan Dini
Seniman senior Prie Wahyuono, yang turut serta dalam pameran ini, menyebut karya-karya dalam “Garis Hijau” berfungsi sebagai sirene atau peringatan dini (early warning system) kultural.
“Jangan sampai Kota Batu mengulangi kesalahan daerah lain yang abai terhadap daya dukung lingkungan. Pameran ini adalah alarm bagi kita semua. Jika kita tidak berhenti sejenak dan menata ulang, bencana ekologis hanyalah soal waktu,” tegas Prie.
Pernyataan Prie mengingatkan publik pada tragedi banjir bandang besar yang pernah melanda Kota Batu pada November 2021. Kala itu, air bah membawa material lumpur dan kayu dari hulu, menghantam permukiman di bawahnya. Tragedi itu seharusnya menjadi titik balik kebijakan tata ruang, namun para seniman melihat bahwa nafsu pembangunan tampaknya kembali mendominasi seiring berjalannya waktu.
Karya seni di sini bertindak sebagai arsip sosial. Ia merekam apa yang mungkin luput dari pandangan wisatawan yang hanya datang sesaat untuk bersenang-senang. Wisatawan mungkin melihat hotel megah sebagai kenyamanan, namun seniman melihatnya sebagai hilangnya serapan air tanah.
Respons Pemerintah dan Harapan Baru
Menariknya, kritik tajam yang dilontarkan lewat pameran ini tidak dihadapi dengan resistensi, melainkan apresiasi dari pihak pemerintah setempat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan pameran ini.
DLH melihat “Garis Hijau” sebagai sarana kampanye pelestarian Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang efektif. Bahasa seni seringkali lebih mudah menyentuh hati masyarakat dibandingkan bahasa birokrasi yang kaku. Melalui visualisasi artistik, pesan tentang pentingnya menjaga sumber mata air dan mengerem laju betonisasi diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif.
Langkah kolaboratif antara seniman dan pemerintah ini menjadi secercah harapan. Pameran ini diharapkan mampu memengaruhi kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu ke depan agar lebih berpihak pada keberlanjutan ekologis.
“Garis Hijau” bukan sekadar judul pameran. Ia adalah simbol batas toleransi alam yang tidak boleh dilanggar. Jika garis ini diterobos, maka keseimbangan akan runtuh. Melalui goresan kuas dan pahatan patung, para seniman Batu sedang mengetuk nurani kita semua: Sampai kapan kita akan menukar kesejukan dan kelestarian alam demi keuntungan ekonomi jangka pendek?
Bagi Anda yang peduli pada masa depan lingkungan dan pencinta seni, pameran di Galeri Raos ini adalah destinasi wajib kunjung di bulan Januari 2026. Di sana, Anda tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga diajak merenung tentang nasib bumi yang kita pijak (pl/dnv).
