Beranda

Setengah Rindu di Galeri Raos: Melawan Laju AI dengan Memori Manusia

Setengah Rindu di Galeri Raos: Melawan Laju AI dengan Memori Manusia
Kelompok Seni Simpullapan gelar pameran Setengah Rindu di Galeri Raos Batu. 40 karya lawan budaya instan & AI, merayakan memori personal hingga 17 Februari (jtn/io)

Simpullapan gelar pameran Setengah Rindu di Galeri Raos Batu. 40 karya lawan budaya instan & AI, merayakan memori personal hingga 17 Februari.

INDONESIAONLINE – Di tengah hiruk-pikuk Kota Batu yang kian sesak oleh deru mesin pariwisata dan percepatan pembangunan hotel berbintang, sebuah ruang kontemplasi tersaji hening namun “berisik” oleh gagasan di Jalan Panglima Sudirman. Galeri Raos, sebuah kantong budaya legendaris yang menjadi saksi denyut nadi kesenian Jawa Timur, kali ini menjadi tuan rumah bagi sebuah perlawanan sunyi.

Hingga 17 Februari mendatang, kelompok seni Simpullapan menggelar pameran kolektif bertajuk “Setengah Rindu: Yang Belum Selesai, Yang Tetap Bekerja”. Pameran ini bukan sekadar pajangan estetika di dinding putih. Lebih dari itu, ini adalah sebuah manifesto visual yang menantang hegemoni budaya instan dan algoritma digital yang kian menggerus sisi kemanusiaan kita.

Antitesis Budaya “Cepat Saji”

Judul “Setengah Rindu” mungkin terdengar melankolis di telinga awam. Namun, bagi delapan seniman yang terlibat, diksi ini adalah bom waktu. Di era di mana segala sesuatu bisa didapat dalam hitungan detik—mulai dari makanan cepat saji hingga karya seni yang dihasilkan oleh Artificial Intelligence (AI)—rindu menjadi barang mewah. Rindu membutuhkan jarak, waktu, dan ketidakhadiran. Sesuatu yang kian langka di era hiper-konektivitas.

Dwi Christanto, salah satu motor penggerak pameran ini, menegaskan bahwa mereka sedang tidak membicarakan romansa picisan. “Rindu” dalam pameran ini adalah metafora dari human error, memori yang pecah, dan proses manual yang lambat namun penuh jiwa.

“Rindu di sini bukan tentang hal yang romantis-romantis. Kami mengangkat rindu yang lebih dalam. Ada yang rindu pada sosok Ibu yang telah tiada, ada yang rindu budaya lokal yang mulai terlupakan oleh generasi sekarang, hingga rindu pada masa kecil sebelum gawai mendominasi segalanya,” ungkap Crist, sapaan akrabnya, saat ditemui di sela-sela pameran.

Pernyataan Crist ini relevan dengan fenomena global dopamine culture, di mana manusia modern kecanduan kepuasan instan. Simpullapan, melalui pameran ini, mengajak pengunjung untuk melakukan “puasa dopamin” sejenak dan menyelami kedalaman rasa yang tidak bisa ditawarkan oleh layar gawai.

Jalanan yang Masuk ke Galeri

Salah satu sorotan utama dalam pameran ini adalah bagaimana keresahan urban diterjemahkan ke dalam kanvas. Dwi Christanto sendiri menampilkan karya yang sangat raw dan berenergi. Ia membawa estetika street art—yang biasanya dianggap vandalisme oleh sebagian pihak—masuk ke ruang sakral galeri.

Karya-karyanya lahir dari kejenuhan rutinitas kerja kaum urban. Fenomena burnout atau kelelahan mental akibat pekerjaan yang repetitif, ia lampiaskan melalui coretan-coretan liar yang merepresentasikan kekacauan pikiran (chaos).

“Setiap hari bolak-balik kerja, saya melihat banyak street art di jalanan. Coretan-coretan itu merepresentasikan kejenuhan otak saya. Akhirnya saya bawa suasana jalanan itu ke galeri,” jelasnya.

Namun, di tengah kekacauan visual tersebut, muncul sosok-sosok ikonik seperti Tan Malaka, Putri Diana, hingga Frida Kahlo. Pemilihan tokoh ini bukan tanpa alasan.

Frida Kahlo, misalnya, adalah simbol penderitaan fisik yang ditransformasikan menjadi karya seni abadi. Tan Malaka adalah simbol gagasan yang tak pernah mati meski tubuhnya hilang. Tokoh-tokoh ini seolah menjadi “penjaga waras” di tengah hiruk pikuk pikiran modern yang diwakili oleh latar belakang coretan doodle yang ruwet.

Melawan Algoritma dengan Sentuhan Tangan

Pameran ini juga menjadi medan tempur antara kreativitas manusia versus kecerdasan buatan. Di saat dunia seni rupa global sedang diguncang oleh kehadiran Generative AI (seperti Midjourney atau DALL-E) yang mampu membuat gambar dalam hitungan detik, seniman Faal Jagra memilih jalan sunyi.

Karyanya dalam pameran ini secara tegas menekankan pentingnya proses manual. Goresan kuas, ketidaksempurnaan garis, dan tekstur cat adalah jejak autentik yang tidak dimiliki oleh mesin. Faal mencoba mengingatkan bahwa seni bukan hanya tentang hasil akhir (output), melainkan tentang laku asketisme dalam proses penciptaannya.

Fokus manusia yang kini sering terpecah (fragmented attention) akibat notifikasi digital, ia coba satukan kembali lewat ketekunan melukis manual.

Memori Personal sebagai Arsip Sejarah

Kedalaman tema “Setengah Rindu” semakin terasa saat menelisik karya Ahmad Saihu. Ia menghadirkan objek yang sangat remeh namun menusuk hati: kulit kacang. Bagi Saihu, kulit kacang bukan sampah, melainkan monumen ingatan.

Ini adalah penghormatan sunyi bagi mendiang ayahnya. Sang ayah memiliki kebiasaan meninggalkan kulit kacang di meja saat Saihu pulang kuliah. Absennya sang ayah kini digantikan oleh kehadiran kulit kacang dalam karyanya. Di sini, seni berperan sebagai mekanisme penyembuhan (healing mechanism) dan pengarsipan memori yang tak terselesaikan.

Sementara itu, Nadia Vina Maharani menarik rindu ke ranah kultural. Ia memotret kerinduan pada identitas “Malangan” dan budaya Jawa yang mulai tergerus kosmopolitanisme.

Di sisi lain, Jumali Kerto menyentil generasi Alpha dengan menghadirkan kerinduan pada dunia bermain fisik. Karyanya adalah kritik keras terhadap dominasi gadget yang memenjara anak-anak dalam dunia maya dan menjauhkan mereka dari interaksi sosial yang nyata.

Galeri Raos sebagai Ruang Dialog

Digelarnya pameran ini di Galeri Raos juga memiliki signifikansi tersendiri. Sebagai ruang seni yang didirikan oleh para maestro seni rupa Batu, galeri ini konsisten menjadi “kawah candradimuka” bagi pertemuan gagasan. Secara kuratorial, pameran yang memajang sekitar 40 karya ini berhasil memposisikan seni bukan sebagai objek dekoratif semata, melainkan sebagai pengalaman (experience) yang mengubah cara pandang.

“Pameran ini memposisikan seni sebagai pengalaman yang mengubah cara pandang. Di saat dunia menuntut segalanya bergerak cepat, Simpullapan justru memilih jalan sunyi untuk ‘melambat’,” sambung Crist.

Kolaborasi antara seniman senior dan muda dalam Simpullapan menunjukkan adanya transfer energi yang sehat dalam ekosistem seni rupa di Kota Batu. “Yang Belum Selesai” dalam tajuk pameran ini bisa dimaknai sebagai tugas kemanusiaan kita yang belum tuntas: yakni tetap menjadi manusia yang bisa merasa, merindu, dan mencipta dengan tangan sendiri, di tengah gempuran zaman yang serba otomatis.

Bagi warga Malang Raya dan sekitarnya, pameran ini adalah destinasi wajib untuk menyegarkan kembali jiwa yang lelah. Pameran ini masih akan berlangsung hingga 17 Februari 2026, menawarkan jeda yang hening bagi siapa saja yang ingin merayakan rindu yang tak pernah benar-benar selesai (pl/dnv).

Exit mobile version