INDONESIAONLINE – Kebiasaan minum air putih hangat setelah bangun tidur kerap dipercaya dapat “membersihkan” ginjal dan menjaga kesehatannya. Secara medis, anggapan ini tidak sepenuhnya keliru, namun manfaat utamanya bukan berasal dari suhu air yang diminum.
Dokter spesialis urologi konsultan Prof Dr dr Nur Rasyid SpU(K) menjelaskan bahwa yang berperan penting bagi kesehatan ginjal adalah kecukupan cairan, bukan apakah air diminum dalam kondisi hangat atau dingin.
“Sebenarnya yang penting itu minumnya. Mau hangat atau dingin sama saja,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah masuk ke tubuh, suhu air akan menyesuaikan dengan suhu tubuh sebelum mencapai ginjal. Karena itu, volume asupan cairan harian menjadi faktor utama dalam menjaga fungsi organ tersebut.
Sejumlah penelitian dari Australia dan Kanada juga menunjukkan bahwa hidrasi yang cukup membantu ginjal membuang limbah metabolisme lebih efektif serta menurunkan risiko penyakit ginjal kronis. Air putih dinilai sebagai pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan ginjal.
Secara umum, dokter menyarankan orang dewasa sehat mengonsumsi sekitar 1,5–2 liter air per hari. Kebutuhan ini bisa meningkat pada individu yang tinggal di iklim panas atau memiliki aktivitas fisik tinggi.
Sebaliknya, pasien dengan penyakit ginjal stadium lanjut biasanya memerlukan pembatasan cairan sesuai anjuran medis. Sementara itu, orang yang rentan batu ginjal dianjurkan menghasilkan setidaknya 2,5 liter urine per hari, yang umumnya memerlukan sekitar 3 liter asupan air.
Tanda-Tubuh Terhidrasi Baik
Kecukupan cairan dapat dinilai dari beberapa indikator sederhana. Antara lain warna urine kuning pucat atau hampir bening, frekuensi buang air kecil sekitar 6–8 kali sehari, tidak merasa haus berlebihan,
tidak mudah lelah atau pusing
Dengan demikian, kebiasaan minum air di pagi hari memang baik untuk kesehatan ginjal, tetapi manfaatnya berasal dari kecukupan cairan secara keseluruhan, bukan karena suhu air yang hangat. (rds/hel)













