Beranda

Dapur Cinta Nahdliyin: 30 Ribu Bungkus Nasi untuk Seabad NU

Dapur Cinta Nahdliyin: 30 Ribu Bungkus Nasi untuk Seabad NU
Elemen Pemkab Malang dan kader NU saling bahu membahu menyiapkan 30 ribu bungkus nasi untuk peserta Satu Abad NU (jtn/io)

Kolaborasi Pemkab Malang dan NU siapkan 30 ribu porsi makanan demi sukseskan 1 Abad NU. Simak kisah heroik dapur umum penuh semangat khidmah ini.

INDONESIAONLINE – Aroma bawang putih yang ditumis dan uap nasi yang mengepul memenuhi udara di area belakang gedung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Sabtu (7/2/2026). Di sana, bukan birokraksi yang sedang bekerja, melainkan kemanusiaan dan semangat pengabdian. Suara deru kompor tekanan tinggi beradu dengan denting spatula raksasa, menciptakan simfoni kesibukan yang tak biasa.

Di tengah hiruk-pikuk itu, warna oranye seragam Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tampak membaur harmonis dengan warna hijau khas Nahdlatul Ulama (NU). Ratusan tangan bergerak cepat namun terukur. Mereka memiliki satu misi ambisius: menyajikan 30 ribu porsi makanan dalam waktu semalam demi menyukseskan Mujahadah Kubro dan Puncak Peringatan Satu Abad NU di Stadion Gajayana.

Ini bukan sekadar kegiatan memasak massal. Ini adalah manifestasi dari nilai gotong royong yang menjadi DNA bangsa Indonesia, sekaligus pembuktian soliditas antara pemerintah daerah dan organisasi Islam terbesar di tanah air.

Rekor Baru Dapur Umum: Melampaui Batas Kemampuan

Sekretaris BPBD Kabupaten Malang, Sigit Yuniarto, tampak sibuk memantau alur logistik. Keringat bercucuran di pelipisnya, namun matanya memancarkan optimisme. Bagi Sigit dan timnya, angka 30 ribu bukan sekadar statistik, melainkan tantangan logistik terberat yang pernah mereka hadapi.

“Ini termasuk rekor porsi makanan terbanyak yang pernah kita masak. Sebelumnya, dalam penanganan bencana atau acara besar lainnya, kapasitas maksimal yang biasa kami tangani sekitar 12 ribu porsi. Sekarang, angkanya melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 30 ribu porsi,” ungkap Sigit di sela-sela kesibukan dapur umum.

Data di lapangan menunjukkan mobilisasi sumber daya manusia yang masif. Setidaknya 100 personel gabungan diterjunkan khusus untuk berjibaku di depan perapian. Mereka terdiri dari unsur BPBD Kabupaten Malang, Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan Palang Merah Indonesia (PMI). Keahlian mereka dalam manajemen dapur umum bencana kini diuji untuk melayani jemaah yang datang dengan niat ibadah.

Harmoni Seragam Oranye dan Hijau

Namun, BPBD tidak bekerja sendirian. Di sisi lain area dapur umum, sebuah pemandangan menyejukkan hati terlihat. Sebanyak 100 kader perempuan dari Fatayat dan Muslimat NU, serta anak-anak muda dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), mengambil peran krusial di lini pengemasan (packing).

Sinergi lintas elemen ini menggambarkan kekuatan sosial yang luar biasa. Jika petugas BPBD dan Tagana bertugas mengolah bahan mentah menjadi masakan matang dengan peralatan field kitchen mereka yang canggih, maka kader NU memastikan setiap butir nasi dan lauk pauk terbungkus rapi, siap disantap oleh para kiai dan santri.

“Kami berbagi tugas. Kalau start memasak untuk nasi bungkus ini dilakukan secara maraton selepas Maghrib. Begitu matang, langsung diserahkan ke tim pengemas dari Fatayat dan Muslimat. Jadi alurnya tidak putus, terus mengalir sampai target tercapai,” jelas Sigit.

Logistik Rakyat: Dari Umat untuk Umat

Yang membuat dapur umum ini istimewa bukan hanya pada jumlah porsinya, melainkan asal-usul bahan bakunya. Sigit mengungkapkan bahwa dapur umum ini adalah etalase partisipasi publik. Bahan-bahan pangan yang menggunung di gudang penyimpanan sebagian besar merupakan sumbangan sukarela.

Berbagai perangkat daerah, pemerintah kecamatan, hingga masyarakat umum di Kabupaten Malang bahu-membahu mengirimkan logistik. Mulai dari ribuan butir telur, berkilo-kilo sayur sawi hijau, sawi putih, wortel, kubis, terong, kacang panjang, tomat, buncis, hingga mi telur.

Dalam sosiologi pedesaan, fenomena ini dikenal sebagai social philanthropy atau kedermawanan sosial. Masyarakat tidak melihat ini sebagai beban, melainkan sebagai cara mereka “ngalap berkah” (mencari keberkahan) dari perhelatan akbar para ulama.

Sepiring nasi bungkus yang nanti akan diterima jemaah berisi nasi putih, telur, mi, dan sayur mayur yang sarat gizi. Sederhana, namun dimasak dengan doa dan keikhlasan ribuan penyumbang.

Strategi Distribusi: Melawan Waktu dan Kemacetan

Memasak 30 ribu porsi adalah satu hal, namun mendistribusikannya ke tengah lautan manusia di Stadion Gajayana adalah tantangan lain yang tak kalah pelik. Stadion Gajayana yang terletak di jantung Kota Malang dipastikan akan lumpuh oleh kemacetan ribuan kendaraan jemaah.

Untuk menyiasati hal ini, tim dapur umum telah menyusun strategi “Rantai Pasok Kilat”. Sigit menjelaskan bahwa pihaknya menetapkan SMPN 6 Kota Malang sebagai Posko Aju atau hub distribusi. Lokasi sekolah ini dinilai strategis karena berjarak cukup dekat dengan venue utama, memungkinkan pergerakan logistik yang lebih lincah.

“Kami siapkan dua unit mobil boks besar untuk shuttle makanan dari dapur umum di Kepanjen menuju Posko di SMPN 6. Tantangannya adalah akses jalan. Karena itu, kami melibatkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk pengawalan vrijwaring (pembukaan jalan),” papar Sigit.

Peran Banser di sini sangat vital. Dengan kemampuan manajemen lalu lintas lapangan yang mumpuni, Banser akan membelah kemacetan agar nasi bungkus tetap hangat saat diterima jemaah. Ini adalah operasi logistik presisi tinggi yang tidak boleh meleset sedikitpun. Keterlambatan satu jam saja bisa berakibat fatal bagi ribuan jemaah yang mungkin sudah menahan lapar sejak perjalanan jauh.

Komitmen Pelayanan Prima

Pemkab Malang menyadari betul bahwa tamu yang datang adalah tamu-tamu istimewa dalam rangka satu abad organisasi Islam terbesar di dunia. Oleh karena itu, standar kebersihan dan rasa menjadi prioritas. Petugas PMI turut serta memastikan sanitasi dan higiene selama proses pengolahan makanan, meminimalisir risiko kontaminasi.

“Pemkab Malang berkomitmen agar para peserta Mujahadah Kubro puas dengan fasilitas yang disediakan. Makanan adalah sumber energi utama bagi jemaah untuk bisa mengikuti rangkaian doa bersama dengan khusyuk. Mohon doanya agar ikhtiar memecahkan rekor 30 ribu porsi ini berjalan lancar,” pungkas Sigit dengan penuh harap.

Malam semakin larut di Kabupaten Malang, namun api di dapur umum itu tak kunjung padam. Justru semakin membara, seiring dengan semangat khidmah (pengabdian) yang menyala di dada ratusan relawan.

Bagi mereka, setiap centong nasi yang dibungkus adalah doa. Setiap butir telur yang dikupas adalah harapan. Bahwa di usia satu abad ini, Nahdlatul Ulama terus menjadi peneduh bagi bangsa, dan sinergi antara umara (pemerintah) dan ulama terus terjalin erat demi kemaslahatan umat. Di Stadion Gajayana nanti, 30 ribu nasi bungkus itu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol persatuan yang nyata dan bisa dirasakan (to/dnv).

Exit mobile version