Kisah epik abad ke-17 saat hegemoni maritim Surabaya bertarung nyawa melawan ekspansi Mataram. Perebutan takhta, rempah, dan darah di pesisir Jawa.
INDONESIAONLINE – Angin utara yang berembus melintasi Selat Madura pada awal abad ke-17 tidak hanya membawa aroma cengkih, pala, dan lada dari Kepulauan Maluku. Di baliknya, tercium pula anyir darah dan aroma mesiu yang menandai sebuah epos pertempuran terpanjang dalam sejarah pesisir Jawa.
Di muara Kali Mas, Surabaya tidak sekadar berdiri sebagai titik singgah perahu-perahu cadik. Kota ini berdegup layaknya jantung sebuah imperium maritim raksasa. Tembok-tembok kotanya yang tebal dan rawa-rawanya yang labirin menyembunyikan kekuatan politik, spiritual, dan ekonomi yang sanggup membuat penguasa Mataram di pedalaman Jawa tak bisa tidur nyenyak.
Namun, di balik kemegahan bandar pelabuhan yang hiruk-pikuk oleh saudagar lintas benua itu, sebuah bayang-bayang kebinasaan tengah merayap dari arah selatan. Ini adalah riwayat tentang kedaulatan, dendam dinasti, dan benturan dua ideologi besar: Mataram yang berakar pada tanah (agraris), dan Surabaya yang bersandar pada ombak (maritim).

Bandar Dunia di Bibir Utara
Jauh sebelum Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen menancapkan kuku kolonialismenya di Batavia, pesisir utara Jawa Timur adalah poros peradaban. Tomé Pires, penjelajah dan apoteker Portugis yang menulis Suma Oriental pada awal abad ke-16, telah merekam bagaimana Gresik—mitra sekaligus halaman depan Surabaya—telah menjadi “permata pelabuhan” yang menjadi muara lalu lintas beras, kain Cambay, hingga rempah berharga.
Satu abad kemudian, kejayaan itu diwarisi dan diperbesar oleh Surabaya. Para Adipati Surabaya tidak sekadar menjadi tuan tanah; mereka adalah raja-raja lautan. Saudagar-saudagar pribuminya memiliki armada jung dan perahu niaga yang membelah ombak menuju Banda, Solor, dan Malaka.
Menurut catatan sejarawan terkemuka M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia, pada masa keemasannya, Surabaya merupakan entitas politik terkuat di Jawa Timur yang mampu memobilisasi hingga 30.000 prajurit bersenjata—sebuah angka militer yang fantastis untuk ukuran Nusantara pada masa itu.
Kekuatan ekonomi yang tumpah ruah dari bea cukai pelabuhan ini membiayai struktur elite pesisir yang dihormati. Surabaya menjadi pelindung bagi aristokrasi Islam pesisiran, mengklaim legitimasi dari warisan para Wali Songo, khususnya Sunan Ampel, yang makamnya menjadi suar spiritual bagi perlawanan terhadap siapa pun yang mencoba menundukkan mereka.
Surabaya tidak bermain tunggal. Memahami bahwa pesisir yang terbuka sangat rentan terhadap serangan, Raja Surabaya merajut “mandala kekuasaan” yang luar biasa luas. Dari catatan opperkoopman (pedagang kepala) VOC, Artus Gijsels pada 1622, diketahui bahwa Gresik, Jortan, dan Sedayu sepenuhnya berada di bawah cengkeraman Surabaya.
Bahkan, sejarawan François Valentijn mencatat wilayah kekuasaan Surabaya menjulur hingga ke tapal batas timur, yakni Pasuruan dan Blambangan. Penguasaan atas Blambangan menjadi sangat krusial, berfungsi sebagai buffer zone (wilayah penyangga) dari ancaman invasi Mataram maupun kerajaan-kerajaan Hindu di Bali.
Hubungan ini diikat bukan sekadar dengan takluk militer, melainkan darah. Babad Tanah Jawi VIII mencatat bahwa pada 1614, Pasuruan dipimpin oleh Pangeran Pekik, putra mahkota dari Raja Surabaya sendiri (Jayalengkara).
Hegemoni ini bahkan melompat melintasi Laut Jawa. Di tanah Borneo, Sukadana dan Landak tercatat sebagai vasal (daerah taklukan) Surabaya. Arsip surat Belanda dari Gresik bertanggal 26 Mei 1610 mengungkap bagaimana Ratu Sukadana secara rutin mengirim utusan ke Kali Mas untuk meminta arahan dan perlindungan.
Jejak kultural hegemoni ini masih abadi hingga kini; bahasa Melayu Banjar sarat akan serapan leksikon Jawa, dan balok-balok kayu keraton masa lampau di Martapura dipahat menggunakan aksara Jawa.
Mata-mata di Balik Jendela Loji Gresik
Di tengah pusaran politik tersebut, orang-orang Eropa datang bagai burung bangkai yang mengamati singa yang bersiap menerkam. Raja Surabaya yang pragmatis mengizinkan Belanda membuka loji (kantor dagang) di Gresik pada 27 April 1602. Syaratnya tegas: Belanda tidak boleh membuat onar dengan Portugis yang juga berdagang di sana.
Loji di Gresik inilah yang kelak menjadi saksi bisu dan perekam sejarah jatuhnya pesisir. Surat-surat yang dikirim dari loji ini memancarkan teror yang merayap. Laksamana Pieter W. Verhoeven pada 22 Mei 1610 menulis laporannya dengan tangan gemetar ke Heeren Zeventien (Dewan 17 VOC): “Di sini tersiar berita bahwa Mataram, yang dipanggil Kaisar Jawa, merencanakan menyerang semua tempat ini, yang sangat menakutkan kami.”
Kabar burung itu segera menjelma menjadi mimpi buruk. Panembahan Hanyakrawati, penguasa Mataram, memandang Surabaya sebagai duri dalam daging. Bagi Mataram yang memimpikan “Nagari Agung” yang utuh, kebebasan ekonomi dan kemandirian pesisir utara adalah sebuah pengkhianatan terhadap takhta pedalaman.
Perang panjang pun pecah. Fase awal ekspansi militer Mataram antara tahun 1610 hingga 1613 tidak dilakukan dengan mengepung tembok Surabaya secara langsung, melainkan melumpuhkan urat nadinya. Strategi Mataram di bawah komando Adipati Martalaya bagaikan tarian api; brutal, cepat, dan menghancurkan.
Alih-alih merebut pelabuhan secara utuh, Mataram menerapkan taktik bumi hangus. Mereka menyerang Jortan dan Gresik. Surat Gubernur Jenderal Pieter Both pada Agustus 1613 melukiskan kengerian itu: “Gresik telah dikuasai dan dibakar oleh Mataram Raya, tembok-tembok loji diratakan dengan tanah.” Ladang-ladang padi dibakar, memutus suplai logistik ke dalam tembok kota Surabaya. Ribuan rakyat pesisir mengungsi, meninggalkan puing-puing kota yang menghitam.
Namun, Surabaya belum tamat. Mereka memiliki benteng alam terkuat yang tak bisa ditembus oleh kavaleri kuda Mataram: rawa-rawa bakau yang ganas dan mematikan. Selain itu, suplai senjata terus mengalir dari Makassar dan jaringan saudagar Tionghoa.
Kiai Reksadana, seorang syahbandar Tionghoa di Gresik, dengan cerdik menjadi pialang diplomasi yang mendatangkan meriam-meriam VOC untuk memperkuat pertahanan Kali Mas pada 1612.
Bencana Biologis di Bawah Panji Sultan Agung
Kematian Panembahan Hanyakrawati memberi Surabaya ruang untuk bernapas sesaat. Namun, itu hanyalah keheningan sebelum badai yang sesungguhnya. Naik takhtanya Sultan Agung (Raden Mas Jatmika) mengubah jalannya sejarah. Sultan Agung tidak hanya menginginkan kepatuhan; ia menginginkan dominasi absolut atas seluruh tanah Jawa.
Berdasarkan kajian mendalam H.J. de Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, pengepungan Surabaya memuncak pada periode 1620 hingga 1625. Menyadari bahwa tembok Surabaya tak bisa dijebol dengan meriam darat, dan pasukan Mataram selalu terjebak di rawa-rawa yang menjadi sarang malaria, Sultan Agung menggunakan taktik perang yang paling mengerikan di masanya: biological warfare dan blokade sungai.
Sultan Agung memerintahkan pasukannya untuk membendung Kali Mas dan Sungai Brantas yang menjadi sumber air minum utama warga kota. Setelah aliran air menyusut dan terhenti, pasukan Mataram melemparkan bangkai-bangkai binatang dan mayat manusia ke hulu sungai yang mengarah ke dalam kota.
Dampaknya sangat fatal. Air yang membusuk membawa wabah kolera dan disentri. Di dalam tembok kota, kelaparan merajalela. Anjing, kucing, hingga tikus menjadi santapan warga yang sekarat. Tanpa air bersih dan diisolasi secara total dari laut oleh blokade darat, moral Surabaya akhirnya hancur lebur.
Pada tahun 1625, Jayalengkara, Raja Surabaya yang telah renta dan buta, akhirnya menyerah. Ia takluk bukan di ujung keris, melainkan oleh kelaparan dan wabah yang menyapu kotanya. Takhta pesisir itu akhirnya runtuh.
Sultan Agung memerintahkan pengasingan keluarga kerajaan Surabaya ke Mataram, menundukkan Pangeran Pekik, dan kelak menikahkannya dengan adiknya sendiri, Ratu Pandansari, sebagai bentuk asimilasi politik yang mengikat pesisir secara permanen.
Ironi Kemenangan di Atas Puing
Runtuhnya Surabaya pada 1625 menandai akhir dari kemerdekaan negara-negara pesisir pelabuhan (Pasisir) di Jawa. Mataram memenangkan perang ideologi dan teritorial, menyatukan Jawa di bawah satu payung kekuasaan yang berpusat di pedalaman keraton.
Namun, sejarah mencatat ironi yang pedih. Kemenangan Mataram atas Surabaya sejatinya adalah kekalahan bagi bangsa Nusantara sendiri. Dengan dihancurkannya armada dagang Surabaya dan dilumpuhkannya kekuatan maritim pesisir utara, kekuatan laut orang Jawa lenyap.
Hancurnya hegemoni pelabuhan independen ini justru membuka karpet merah bagi VOC (Belanda). Ketika lautan Jawa kosong dari armada perang pribumi yang kuat, kapal-kapal dagang berbendera VOC masuk dengan leluasa, memonopoli rempah, dan kelak menundukkan Mataram itu sendiri.
Hari ini, jika Anda berdiri di muara Kali Mas saat senja turun, di antara bayangan kapal-kapal barang dan bisingnya pelabuhan Tanjung Perak, Anda mungkin masih bisa merasakan denyut sejarah itu.
Air sungai yang mengalir tenang menuju Selat Madura adalah saksi bisu, menyimpan ribuan narasi tentang keberanian saudagar pesisir, raungan meriam laskar Ampel, dan darah dendam dinasti yang tumpah demi mempertahankan satu kata yang paling berharga di abad ke-17: Kedaulatan.













