Eks bek PSG yang kini membela Persib, Layvin Kurzawa, menaruh asa besar bagi Timnas Indonesia di ajang FIFA Series 2026.
INDONESIAONLINE – Geliat sepak bola nasional kembali memanas. Menjelang akhir Maret 2026, perhatian publik pencinta kulit bundar Tanah Air tertuju ke satu titik magis: Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Di arena bersejarah inilah, Timnas Indonesia bersiap mengukir babak baru dalam kalender internasional melalui ajang bergengsi, FIFA Series 2026.
Gaung turnamen ini rupanya tidak hanya dirasakan oleh para suporter fanatik Garuda, tetapi juga menarik perhatian para legiun asing yang merumput di Liga 1. Salah satu sorotan paling menarik datang dari bintang anyar Persib Bandung, Layvin Kurzawa. Mantan bek kiri andalan Paris Saint-Germain (PSG) dan Timnas Perancis ini secara terbuka menyatakan dukungannya untuk skuad Merah Putih.
Dukungan tersebut tidak terucap di pinggir lapangan hijau, melainkan di tengah suasana formal nan hangat di Wisma Perancis, Jakarta, pada Selasa (24/3/2026). Di sela-sela agenda penyerahan jersey Persib sebagai simbol perayaan hubungan kerja sama Indonesia dan Perancis di sektor olahraga, Kurzawa menyempatkan diri berbicara tentang prospek Timnas Indonesia.
“Saya berharap mereka menang,” ucap pemain yang menghabiskan sembilan tahun karier emasnya (2015-2024) di bawah gemerlap Menara Eiffel bersama PSG tersebut, saat menjawab pertanyaan awak media.
Tentu, ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Kurzawa memiliki ikatan emosional tersendiri dengan skuad Garuda saat ini. Di balik seragam kebanggaan tim nasional, terdapat dua rekannya yang sehari-hari berbagi keringat, tawa, dan ruang ganti di markas Persib Bandung.
Dari Maung Bandung untuk Garuda
Alasan utama di balik antusiasme Kurzawa terletak pada pemanggilan dua penggawa Persib, yakni Beckham Putra Nugraha dan Eliano Reijnders, ke dalam skuad final Timnas Indonesia arahan pelatih John Herdman.
“Saya punya dua teman yang ada di dalam skuad Timnas Indonesia. Saya berharap mereka mendapatkan kemenangan,” tutur pemain berusia 33 tahun yang pernah menjuarai Ligue 1 berkali-kali bersama Thiago Silva hingga Kylian Mbappe itu.
Pernyataan Kurzawa ini menjadi bukti sahih betapa cairnya proses adaptasi sang bintang dunia di lingkungan sepak bola Indonesia. Kehadirannya di Persib tidak sekadar menjadi marquee player yang menjual jersey, tetapi juga berperan sebagai mentor bagi pemain lokal.
Beckham Putra, yang dikenal dengan visi bermain dan kreativitasnya di lini tengah, perlahan menunjukkan kedewasaan taktis—sebuah atribut yang mungkin banyak ia pelajari dari pengalaman Kurzawa merumput di level tertinggi Liga Champions Eropa.
Sementara itu, Eliano Reijnders, pemain naturalisasi yang memiliki daya jelajah tinggi dan kecerdasan ruang (spatial awareness), menjadi dinamo penggerak yang membuat lini tengah Persib (dan kini Timnas) semakin solid.
Berbagi ruang ganti dengan pemain berkaliber Kurzawa jelas memberikan suntikan mental yang luar biasa bagi Beckham dan Eliano. Ketika seorang pemain yang pernah bermain di final Liga Champions memberikan dukungan langsung, hal itu menumbuhkan lapisan kepercayaan diri ekstra saat mereka mengenakan emblem Garuda di dada.
Panggung Pembuktian John Herdman
Dukungan dari sang bintang Perancis datang di saat yang sangat krusial. Timnas Indonesia tengah menyongsong turnamen yang formatnya sangat unik. Berdasarkan data resmi dari otoritas sepak bola dunia, program FIFA Series pertama kali diluncurkan pada tahun 2024 silam oleh Presiden FIFA Gianni Infantino. Tujuannya sangat revolusioner: memfasilitasi pertandingan persahabatan antarnegara dari konfederasi yang berbeda, yang biasanya jarang memiliki kesempatan bertemu di luar ajang Piala Dunia.
Pada edisi Maret 2026 ini, Indonesia mendapatkan kehormatan menjadi salah satu negara tuan rumah penyelenggara. Skuad Garuda dijadwalkan mengawali kiprah mereka dengan menghadapi wakil dari zona CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia), yakni Saint Kitts and Nevis. Pertandingan pembuka ini akan digelar di bawah sorotan lampu SUGBK pada Jumat (27/3/2026) pukul 20.00 WIB.
Menghadapi tim asal Karibia bukanlah perkara remeh. Meski secara peringkat FIFA negara kepulauan tersebut sering dianggap underdog, sepak bola Karibia terkenal dengan atribut fisik yang prima, kecepatan transisi, dan gaya bermain yang sporadis. Ini akan menjadi ujian taktis yang sangat berharga bagi pelatih kepala Timnas Indonesia, John Herdman.
John Herdman sendiri bukanlah nama sembarangan dalam kancah manajerial global. Berdasarkan catatan sejarah sepak bola, pelatih asal Inggris ini adalah sosok jenius yang berhasil membawa Timnas Putra Kanada lolos ke Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar, setelah absen selama puluhan tahun. Sebelumnya, ia juga sukses besar bersama Timnas Putri Selandia Baru dan Kanada.
Filosofi Herdman yang mengedepankan kultur persaudaraan yang kuat (brotherhood) dan fleksibilitas formasi (tactical fluidity) tampaknya mulai meresap ke dalam nadi para pemain Indonesia. Pemanggilan Eliano dan Beckham adalah cerminan bahwa Herdman membutuhkan gelandang yang tidak hanya kuat memegang bola, tetapi juga cerdas mencari ruang—kriteria yang sangat krusial untuk membongkar pertahanan tim-tim berfisik kuat seperti Saint Kitts and Nevis.
Mengintip Kekuatan Eropa dan Oseania
Format FIFA Series memastikan bahwa setiap tim akan bermain dua kali. Sebelum Indonesia turun gelanggang melawan Saint Kitts and Nevis, publik SUGBK akan disuguhkan partai pembuka yang tak kalah menarik antara wakil Eropa (UEFA), Bulgaria, melawan wakil Oseania (OFC), Kepulauan Solomon, pada Jumat (27/3/2026) sore pukul 15.30 WIB.
Bulgaria datang dengan reputasi sepak bola Eropa Timur yang disiplin dan mengandalkan bola-bola mati mematikan. Sementara Kepulauan Solomon, yang kerap menjadi kuda hitam di zona Oseania, membawa gaya bermain rancak ala sepak bola pantai yang bertumpu pada skill individu.
Sistem turnamen mini ini menetapkan bahwa pemenang dari masing-masing pertandingan akan saling berhadapan dalam laga puncak pada Senin (30/3/2026) malam pukul 20.00 WIB. Sementara itu, tim yang menelan kekalahan di laga perdana akan bertanding pada sore harinya di hari yang sama pukul 15.30 WIB.
Skenario ideal yang didoakan oleh jutaan rakyat Indonesia, termasuk Layvin Kurzawa, tentu saja melihat Timnas Indonesia menumbangkan Saint Kitts and Nevis, lalu melaju ke laga puncak untuk berhadapan dengan raksasa Eropa, Bulgaria. Uji coba melawan tim dari Benua Biru di kandang sendiri adalah kesempatan langka yang sangat dibutuhkan untuk mendongkrak poin peringkat FIFA, sekaligus mengukur sejauh mana level permainan skuad Garuda sebelum menghadapi Kualifikasi Piala Asia atau Piala Dunia.
Dampak Psikologis Diplomasi Olahraga
Kehadiran sosok seperti Layvin Kurzawa dalam ekosistem sepak bola Indonesia sebenarnya mewakili sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar urusan taktik di lapangan. Ini adalah wujud nyata dari suksesnya diplomasi olahraga (sports diplomacy).
Keterlibatannya dalam perayaan kerja sama Indonesia-Perancis—negara yang baru saja sukses menjadi tuan rumah Olimpiade Paris 2024—menunjukkan bahwa sepak bola adalah bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan budaya. Ketika Kurzawa memegang jersey Persib di Wisma Perancis, ia mengirimkan pesan kepada dunia (khususnya publik Eropa) bahwa sepak bola Indonesia kini telah berevolusi menjadi liga yang profesional, aman, dan kompetitif bagi pemain kelas dunia.
Secara tidak langsung, endorsement atau dukungan moral dari Kurzawa juga menaikkan nilai jual pertandingan FIFA Series ini. Media-media Perancis atau Eropa yang masih memantau kabar mantan pemain PSG tersebut mau tidak mau akan menyoroti kiprah rekannya di Timnas Indonesia. Ini adalah exposure gratis yang sangat bernilai bagi PSSI dan wajah olahraga nasional.
Kini, bola sepenuhnya berada di kaki para punggawa Garuda. Doa seorang jawara Eropa telah dipanjatkan, taktik brilian dari John Herdman telah diracik, dan puluhan ribu pasang mata di SUGBK siap memberikan teror bagi kubu lawan. Apakah Beckham Putra, Eliano Reijnders, dan kolega mampu menerjemahkan ekspektasi tersebut menjadi kemenangan heroik di atas lapangan hijau?
Jawabannya akan segera tersaji dalam 2×45 menit yang penuh determinasi di Senayan. Yang pasti, gelaran FIFA Series 2026 ini bukan sekadar laga persahabatan; ini adalah batu loncatan bagi Timnas Indonesia untuk berteriak lebih lantang di panggung sepak bola dunia. Dan seperti kata Kurzawa, kita semua berharap, mereka mendapatkan kemenangan itu.













