INDONESIAONLINE – Inovasi teknologi dari Universitas Negeri Malang (UM) mulai menyasar sentra kerajinan anyaman bambu di Dusun Patuk, Desa Kertorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) pada 12 Agustus 2026, tim dosen UM memperkenalkan sekaligus menyerahkan mesin potong dan pembelah bambu terintegrasi untuk membantu meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi pengrajin.
Desa Kertorejo selama ini menjadi salah satu sentra penting industri kerajinan anyaman bambu di Jawa Timur. Berbagai produk, mulai dari besek, tampah, hingga keranjang, dihasilkan oleh para perajin setempat.
Namun, penyiapan bahan baku masih menjadi tantangan karena pemotongan dan pembelahan bambu gelondongan umumnya dilakukan secara manual menggunakan golok tradisional. Cara kerja konvensional tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Selain memperlambat proses produksi, metode manual juga berpotensi menghasilkan bilah bambu atau irat dengan ukuran yang kurang seragam.
Melihat kendala tersebut, tim dosen UM mengembangkan teknologi tepat guna (TTG) multifungsi yang dirancang untuk menyederhanakan tahapan persiapan bahan baku. Tim ini dipimpin Prof Dr Dwi Agus Sudjimat ST MPd bersama anggota Dian Julianto Wahyudi SPd MPd, Chintia Dwi Wangsa K. ST MT, dan Danang Yugo Pratomo SPd MPd.
Mesin Berdaya 1.300 Watt, Utamakan Presisi dan Keselamatan
Mesin potong dan pembelah bambu yang dikembangkan tim UM dilengkapi dinamo motor berdaya 1.300 watt serta pisau circular saw berukuran 14 inci dengan spesifikasi 100T. Perangkat tersebut juga menggunakan splitter ring modular untuk membelah bilah bambu, dudukan pendorong presisi, dan pelindung keselamatan atau safety guard.
Kombinasi komponen tersebut dirancang untuk membantu pengrajin memotong dan membelah bambu secara lebih cepat dengan ukuran yang lebih konsisten. Kehadiran mesin ini diharapkan mampu mengurangi beban pekerjaan manual sekaligus meningkatkan kualitas bahan baku sebelum memasuki tahap penganyaman.
Selain memperhatikan aspek teknis, tim pengembang juga mempertimbangkan kenyamanan pengguna. Meja kerja mesin dirancang dengan ketinggian 650 milimeter untuk menyesuaikan kebutuhan pengrajin yang bekerja dalam posisi berdiri atau setengah duduk. Desain ergonomis tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko kelelahan otot dan nyeri punggung selama proses produksi.
Prof Dr Dwi Agus Sudjimat menjelaskan bahwa efisiensi usaha mikro perlu dimulai dari tahap persiapan bahan baku. Menurut dia, pemotongan yang sebelumnya memerlukan waktu cukup lama dapat dipersingkat dengan dukungan mesin tersebut.
“Garis balik efisiensi usaha mikro ada pada persiapan bahan baku. Dengan mesin ini, pemotongan ruas bambu yang biasanya menyita waktu kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik dengan hasil yang presisi dan rapi tanpa merusak serat bambu,” terang dia.
Pengrajin Dibekali Pelatihan SOP dan K3
Program pengabdian kepada masyarakat ini tidak hanya berfokus pada penyediaan peralatan. Tim dosen UM juga memberikan pelatihan kepada mitra mengenai standar operasional prosedur (SOP), penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta pemeliharaan mesin agar dapat dilakukan secara mandiri.
Pembekalan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan mesin dapat digunakan sesuai prosedur, dirawat secara berkala, dan mendukung keberlangsungan kegiatan produksi dalam jangka panjang.
Penerapan teknologi ini sekaligus sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi tersebut terutama berkaitan dengan SDG 1, yakni tanpa kemiskinan, melalui upaya meningkatkan efisiensi usaha dan membuka peluang peningkatan pendapatan pengrajin.
Selain itu, program ini mendukung SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, khususnya melalui upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, nyaman, dan produktif.
Didanai melalui dana internal UM tahun anggaran 2026, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam mendorong modernisasi industri kerajinan anyaman bambu di Desa Kertorejo. Dengan dukungan teknologi tepat guna, para pengrajin diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing produk lokal secara berkelanjutan. (rds/hel)






