Erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu penerbangan. Sejumlah bandara ditutup, 467 penerbangan terdampak, dan penumpang diminta waspada.
INDONESIAONLINE – Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berhenti sebagai fenomena vulkanik di kawasan Selat Sunda. Pada Minggu (6/9/2026), dampaknya merambat ke ruang udara dan memaksa sejumlah bandar udara menghentikan sementara operasional penerbangan.
Gangguan tersebut terjadi ketika sebaran abu vulkanik terdeteksi bergerak melintasi sejumlah wilayah strategis, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Lampung dan Bengkulu. Kondisi atmosfer itu membuat keputusan membuka atau menutup bandara harus dilakukan secara dinamis berdasarkan hasil pemantauan terbaru.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat dampak yang semakin luas. Dalam pembaruan hingga Minggu siang, sedikitnya 467 penerbangan terdampak akibat penutupan sejumlah bandara. Jumlah tersebut terdiri atas 58 penerbangan internasional dan 409 penerbangan domestik.
Kemenhub juga memperkirakan sekitar 150.000 penumpang terdampak akibat gangguan operasional tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan abu vulkanik bukan hanya menyangkut aktivitas sebuah bandara, melainkan dapat menciptakan efek berantai terhadap jaringan penerbangan nasional.
Abu Vulkanik Bergerak, Bandara Jadi Titik Rawan
BMKG memperkuat gambaran mengenai luasnya sebaran abu vulkanik. Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG menemukan dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan abu pada ketinggian tertentu bergerak ke arah berbeda. Sebaran hingga ketinggian 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, sementara material pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.
“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9).
SIGMET atau Significant Meteorological Information menjadi salah satu instrumen penting dalam memberikan informasi bahaya cuaca bagi penerbangan. Sejak erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB, BMKG telah menerbitkan 18 SIGMET secara berkala untuk mendukung keselamatan navigasi udara.
Dampaknya terlihat di sejumlah bandara. Kemenhub mencatat Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Budiarto Curug, Pondok Cabe, serta Husein Sastranegara Bandung mengalami penghentian atau perpanjangan penutupan operasional pada Minggu.
Namun perkembangan situasi berlangsung cepat. Pembaruan Kemenhub pada sore hari juga mencatat penutupan di Bandara Taufik Kiemas dan Bandara Atung Bungsu. Artinya, daftar bandara terdampak tidak bersifat tetap karena sangat bergantung pada pergerakan abu dan hasil pemeriksaan lapangan.
Untuk memastikan ada atau tidaknya abu di area bandara, petugas menggunakan paper test. Hasil positif menjadi salah satu dasar pengambilan keputusan operasional.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah tidak akan memaksakan penerbangan ketika indikator keselamatan belum terpenuhi.
“Apabila memang seperti tadi, masa sebaran masih banyak, kemudian paper test-nya masih positif, maka kami tidak akan memaksakan bandara tersebut dibuka atau pengoperasian pesawat dilakukan,” ujar Menhub Dudy saat memantau langsung Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/9).
Keputusan tersebut memiliki konsekuensi besar bagi maskapai. Ketika satu bandara ditutup, dampaknya tidak hanya menghentikan pesawat yang seharusnya lepas landas atau mendarat di lokasi tersebut. Rotasi pesawat, kru, jadwal penerbangan berikutnya hingga kapasitas terminal di bandara lain ikut terkena imbas.
Kemenhub menyebut kondisi itu sebagai cascading impact. Di Soekarno-Hatta saja, penutupan sementara sebelumnya berdampak pada puluhan ribu penumpang dan ratusan pergerakan penerbangan.
Secara teknis, keputusan tersebut bukan tindakan berlebihan. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menjelaskan abu vulkanik dapat mengganggu bahkan menyebabkan kegagalan mesin pesawat. Partikel abu dapat meleleh pada temperatur tinggi di bagian mesin, kemudian menempel kembali pada komponen turbin dan mengurangi efisiensinya.
Karena itu, keselamatan menjadi alasan utama di balik penghentian sementara penerbangan.
Bandara Alternatif Disiapkan, Penumpang Diminta Tak Datang
Pemerintah berupaya menjaga konektivitas dengan membuka kemungkinan pengalihan penerbangan ke bandara yang kondisinya aman.
Kementerian Perhubungan menyiapkan sejumlah alternatif, antara lain Bandara Kertajati di Majalengka, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dan Bandara Juanda Surabaya. InJourney Airports juga mencantumkan Bandara Internasional Yogyakarta, I Gusti Ngurah Rai Bali, Adi Soemarmo, Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru serta sejumlah bandara lain sebagai alternatif sesuai kondisi penerbangan. Penggunaan bandara tersebut tetap bergantung pada keputusan maskapai, kondisi ruang udara dan keamanan operasional.
“Bandara Kertajati, Bandara Ahmad Yani, dan Juanda sebagai bandara alternatif apabila airlines atau operator memungkinkan untuk menerbangkan pesawatnya ke ketiga bandara alternatif tersebut,” ucap Dudy.
Bagi penumpang, situasi ini berarti jadwal perjalanan harus diperiksa berulang kali. Kemenhub meminta calon penumpang tidak langsung menuju bandara yang terdampak selama masa penutupan. Informasi mengenai status penerbangan harus dikonfirmasi melalui kanal resmi maskapai.
Kebijakan penanganan penumpang juga menjadi perhatian. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menegaskan maskapai tetap wajib memenuhi hak penumpang yang terdampak, termasuk memberikan informasi dan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk penerbangan yang dibatalkan karena dampak erupsi, pemerintah sebelumnya juga menegaskan adanya hak pengembalian tiket.
“Terkait pembatalan atau refund penerbangan itu berlaku 100 persen,” ungkap Lukman.
Di sisi lain, BMKG terus melakukan pemantauan selama 24 jam. Bukan hanya penerbangan yang menjadi perhatian. Hingga 6 September pagi, pemantauan multi-sensor BMKG di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami terkait rangkaian erupsi.
Dengan kondisi abu yang masih bergerak dan berubah mengikuti dinamika atmosfer, status operasional bandara belum dapat diperlakukan sebagai keputusan permanen. Pembukaan kembali penerbangan harus menunggu hasil pemantauan dan pengujian terbaru.
Erupsi Anak Krakatau pada akhirnya memperlihatkan bagaimana gangguan vulkanik di satu titik dapat menjalar ke sistem transportasi nasional. Ketika abu memasuki ruang udara, batas antara bencana geologi dan mobilitas manusia menjadi semakin tipis.
Untuk sementara, langit di atas sejumlah wilayah Indonesia masih menjadi ruang yang harus diawasi ketat. Bagi industri penerbangan, satu prinsip tetap menjadi pegangan: pesawat hanya boleh kembali mengudara ketika keselamatan benar-benar dapat dipastikan.







