Sineas Kediri Harianto angkat fenomena viral Patung Macan Putih Balongjeruk ke film layar lebar. Transformasi meme internet jadi simbol budaya dan wisata.
INDONESIAONLINE – Di era digital, sebuah objek bisa menjadi terkenal dalam sekejap mata karena alasan yang tak terduga. Itulah yang terjadi di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Sebuah patung macan putih, yang seharusnya berdiri gagah sebagai simbol kewibawaan, justru menjadi buah bibir dan bahan candaan warganet karena bentuk wajahnya yang dinilai “tak lazim” dan unik.
Meme bertebaran, komentar lucu membanjiri lini masa. Namun, bagi mata awam, fenomena ini mungkin berakhir sebagai hiburan sesaat. Tidak demikian bagi Harianto, seorang sineas muda berbakat asli Kediri.
Di balik riuh rendah komentar media sosial, Harianto melihat sesuatu yang lebih dalam. Ia menangkap denyut keresahan sosial dan potensi budaya yang tersembunyi di balik viralnya patung tersebut.
Sineas yang dikenal konsisten menghadirkan gagasan segar berbasis realitas sosial dan kearifan lokal ini, kini bersiap melakukan manuver berani: mengangkat kisah di balik Patung Macan Putih ke layar lebar.
Melampaui Sekadar “Viral”
Proyek ambisius ini bukan sekadar aji mumpung atau menunggangi gelombang popularitas sesaat. Bagi Harianto, viralitas patung tersebut hanyalah sebuah gerbang pembuka—sebuah hook untuk menarik perhatian publik pada isu yang jauh lebih substansial.
“Viral itu hanya pintu masuk. Yang ingin kami bangun adalah karya yang bertahan lama, punya nilai budaya, pesan moral, dan berdampak ekonomi,” tegas Harianto, sutradara yang sukses membesut film Pejuang Kampung 1 dan 2.
Dalam pandangannya, fenomena Macan Putih adalah metafora yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat saat ini. Di tengah gempuran modernitas, simbol-simbol leluhur sering kali kehilangan makna sakralnya, tergerus zaman, atau bahkan hanya menjadi objek visual semata tanpa dipahami filosofinya.
Ide kreatif Harianto kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah narasi yang kuat. Film ini nantinya tidak akan bercerita tentang patung itu secara harfiah semata, melainkan menyoroti hubungan antarmanusia yang dikaitkan dengan nilai-nilai warisan leluhur. Ia ingin memotret bagaimana kearifan lokal berjuang untuk tetap relevan di tengah masyarakat yang kian pragmatis.
Investasi Budaya dan Ekonomi Kreatif
Langkah Harianto ini menandai babak baru dalam industri kreatif di Kediri. Film ini diproyeksikan tidak hanya berhenti sebagai tontonan hiburan di bioskop, tetapi juga dirancang sebagai lokomotif baru bagi pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. Konsep film tourism—di mana lokasi syuting menjadi destinasi wisata baru—menjadi salah satu target jangka panjang yang ingin dicapai.
“Lebih dari sekadar film, proyek Patung Macan Putih ini adalah investasi pada cerita lokal yang berpotensi menjadi legenda nasional,” ujar sineas yang dikenal dengan pendekatan humanisnya tersebut.
Strategi yang disiapkan pun tidak main-main. Seluruh pengembangan film, mulai dari pra-produksi hingga strategi distribusi, disiapkan dengan konsep yang matang. Visi jangka panjangnya jelas: menciptakan ekosistem perfilman daerah yang mampu menembus pasar nasional, bahkan distribusi internasional.
Sinematik Modern dengan Jiwa Tradisional
Tantangan terbesar dalam mengangkat cerita lokal adalah bagaimana membuatnya relevan dan dapat diterima oleh penonton lintas generasi dan lintas geografi. Menjawab tantangan ini, Harianto menjanjikan pendekatan sinematik modern.
Visual yang memukau, teknik penceritaan (storytelling) yang kuat, serta kualitas produksi standar layar lebar menjadi jaminan yang ditawarkan. Namun, di balik kemasan modern tersebut, “jiwa” dari film ini tetaplah nilai-nilai luhur nusantara. Narasi film dibingkai sedemikian rupa sehingga sarat akan pesan moral, tanpa terkesan menggurui.
Patung Macan Putih di Balongjeruk, yang awalnya mungkin dianggap “lucu”, akan ditransformasikan menjadi simbol kebangkitan. Saat layar bioskop mulai menyala nanti, penonton tidak akan lagi melihatnya sekadar sebagai patung unik, melainkan sebagai saksi bisu perjalanan sebuah komunitas dalam mempertahankan identitasnya.
Keberanian Harianto mengangkat tema ini juga menjadi sinyal positif bagi perkembangan perfilman daerah di Indonesia. Ini membuktikan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari hal-hal yang dianggap sepele oleh warganet. Kekuatan cerita tidak terletak pada seberapa megah set lokasinya, tetapi seberapa dalam pembuat film mampu menggali makna dari realitas di sekitarnya.
Proyek ini memiliki daya tarik format yang fleksibel untuk berbagai platform, mulai dari jaringan bioskop konvensional hingga layanan streaming global. Dengan strategi distribusi yang relevan dan berkelanjutan, film Macan Putih diharapkan mampu menjadi blueprint bagaimana cerita lokal bisa bersaing di panggung yang lebih besar.
Kini, publik menanti gebrakan Harianto. Apakah patung yang viral itu mampu “mengaum” lebih keras di panggung sinema nasional? Satu hal yang pasti, Harianto telah membuktikan bahwa kreativitas tidak memiliki batas, dan di tangan seorang visioner, sebuah meme internet bisa diubah menjadi mahakarya budaya yang bernilai tinggi.
Macan Putih Balongjeruk siap bangkit, bukan lagi sebagai objek tawa, melainkan sebagai legenda baru dari Kediri.













