Dokumen baru DOJ ungkap kaitan Jeffrey Epstein dengan pemilik klub NFL, NBA, dan atlet. Steve Tisch hingga Casey Wasserman jadi sorotan utama skandal ini.
INDONESIAONLINE – Gelombang kejut dari skandal Jeffrey Epstein tak henti-hentinya menghantam pilar-pilar kekuasaan global. Setelah mengguncang dunia politik, akademisi, dan monarki, kini giliran industri olahraga profesional yang terseret ke dalam pusaran lumpur sejarah kelam sang pemodal.
Pada Jumat (30/1/2026), Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) merilis tahap akhir dari arsip kasus Epstein, sebuah tumpukan data digital yang memuat lebih dari 3 juta halaman dokumen. Berkas-berkas ini bukan sekadar catatan kriminal biasa; mereka adalah peta sosiologis yang mengungkap bagaimana seorang predator seksual terpidana berhasil menyusup ke dalam lingkaran terdalam para pemilik waralaba olahraga paling bernilai di muka bumi.
Dari NFL hingga Premier League, dari ruang rapat Olimpiade hingga lapangan NBA, nama-nama besar kini berada di bawah mikroskop publik. Dokumen tersebut berisi korespondensi e-mail, log pertemuan, hingga catatan pribadi yang menunjukkan bahwa tentakel pengaruh Epstein menjangkau jauh melampaui Pulau Little St. James.
Steve Tisch dan Kode “Gadis Pekerja”
Salah satu nama paling menonjol yang muncul dalam dokumen tersebut adalah Steve Tisch, co-owner dan chairman dari tim NFL raksasa, New York Giants. Sebagai sosok yang bergerak di dua dunia—olahraga profesional dan produksi film Hollywood—Tisch adalah target sempurna bagi jejaring sosial Epstein.
Arsip DOJ mengungkap serangkaian pertukaran e-mail antara Tisch dan Epstein pada tahun 2013 yang bernada ambigu dan meresahkan. Dalam korespondensi tersebut, Epstein tampak berperan sebagai penghubung atau fasilitator pertemuan dengan sejumlah perempuan.
Bahasa yang digunakan dalam e-mail tersebut menjadi sorotan tajam. Tisch tercatat bertanya kepada Epstein dengan kalimat, “Is she fun?” (Apakah dia menyenangkan?) dan “Is my present in NYC?” (Apakah hadiahku ada di NYC?).
Lebih spesifik lagi, ketika Epstein mendeskripsikan seorang perempuan sebagai sosok yang “eksotis dan berbahasa Perancis,” Tisch merespons dengan pertanyaan singkat namun sarat makna: “Working girl?”
Istilah “working girl” dalam bahasa gaul sering kali diasosiasikan dengan pekerja seks komersial. Namun, dalam klarifikasinya pasca-rilis dokumen, Tisch memberikan pembelaan.
Ia mengakui adanya hubungan singkat dengan Epstein namun menegaskan bahwa komunikasi mereka hanya sebatas membahas perempuan dewasa yang menyetujui pertemuan (consenting adults). Tisch membantah keras segala tuduhan pelanggaran hukum atau keterlibatan dengan anak di bawah umur, sebuah garis pertahanan yang kini diuji oleh persepsi publik.
Bayang-Bayang di Olimpiade LA28: Casey Wasserman
Implikasi yang mungkin paling politis dari rilis dokumen ini menyasar Casey Wasserman, tokoh sentral di balik persiapan Olimpiade Los Angeles 2028 (LA28). Sebagai ketua panitia penyelenggara, reputasi Wasserman adalah aset vital bagi keberhasilan ajang olahraga terbesar di dunia tersebut.
Dokumen menunjukkan bahwa Wasserman tidak hanya berkomunikasi dengan Epstein, tetapi juga memiliki korespondensi langsung dengan Ghislaine Maxwell, mantan sosialita yang kini mendekam di penjara dengan vonis 20 tahun atas perannya sebagai muncikari Epstein.
E-mail yang bertarikh tahun 2003 memperlihatkan kedekatan yang tidak biasa. Percakapan antara Wasserman dan Maxwell berisi nuansa genit (flirty), termasuk pembahasan spesifik mengenai pijat. Dalam satu pesan yang mengerikan jika dilihat dari kacamata hari ini, Maxwell menawarkan untuk “mempraktikkan” titik pijat tertentu yang diklaim dapat “membuat pria tergila-gila.”
Wasserman segera merilis pernyataan penyesalan. Ia menegaskan tidak pernah memiliki hubungan bisnis dengan Epstein dan menyebut interaksinya sebagai kesalahan masa lalu.
Ia juga mengonfirmasi pernah menumpang pesawat Epstein pada tahun 2002, namun dalam konteks perjalanan kemanusiaan bersama Clinton Foundation ke Afrika, bukan perjalanan pribadi ke pulau terlarang. Meski demikian, asosiasi nama ketua Olimpiade dengan terpidana perdagangan seks anak menjadi noda yang sulit dihapus menjelang pesta olahraga 2028.
Jejaring Pemilik Klub Elite: Boehly, Harris, hingga Tepper
Dokumen DOJ juga menyingkap betapa agresifnya Epstein mencoba merangkul para miliarder pemilik klub olahraga. Todd Boehly, pemilik Chelsea FC serta sebagian saham di LA Dodgers dan LA Lakers, tercatat melakukan dua pertemuan tatap muka dengan Epstein pada tahun 2011.
Meskipun tidak ada rincian mengenai isi pembicaraan, fakta bahwa pertemuan itu terjadi menunjukkan akses tingkat tinggi yang dimiliki Epstein.
Pola serupa terlihat pada Josh Harris, pemilik imperium olahraga yang mencakup Washington Commanders (NFL), Philadelphia 76ers (NBA), dan New Jersey Devils (NHL). Harris tercatat berulang kali dihubungi oleh Epstein atau asistennya. Meskipun Harris sebagian besar berhasil menghindar, ia tercatat menghadiri satu sesi sarapan bersama Epstein pada tahun 2014.
Pihak Harris kini bersikeras bahwa kliennya berusaha mencegah keterlibatan Epstein dengan Apollo Global Management, perusahaan investasi tempat Harris bernaung kala itu.
Sementara itu, David Tepper, pemilik Carolina Panthers, muncul dalam inbox Epstein dengan deskripsi sebagai sosok yang “sangat pintar dan lucu.” Namun, berbeda dengan yang lain, tidak ada bukti korespondensi langsung atau pertemuan yang terkonfirmasi antara Tepper dan Epstein, menunjukkan bahwa Epstein mungkin hanya sekadar memantau atau menargetkan Tepper tanpa keberhasilan.
Sisi Gelap Transaksi dan “Bantuan” Hukum
Epstein dikenal kerap menawarkan “solusi” bagi masalah orang-orang kaya. Hal ini terlihat jelas dalam kasus Robert Kraft, pemilik New England Patriots. Ketika Kraft terjerat kasus dugaan prostitusi di sebuah spa di Florida pada 2019 (kasus yang kemudian dibatalkan dan Kraft dinyatakan bersih), nama Epstein muncul di latar belakang.
Dalam e-mailnya, Epstein berkomentar bahwa informasi mengenai kasus Kraft “90 persen tidak akurat.” Lebih jauh, ia berupaya menghubungkan Kraft dengan pengacara Jack Goldberger, yang notabene adalah bagian dari tim hukum Epstein sendiri.
Ini mengindikasikan pola pikir Epstein yang selalu ingin memposisikan dirinya sebagai “fixer” atau penyelesai masalah bagi kaum elit, guna menanamkan utang budi.
Hal serupa terjadi pada bintang NBA, Kristaps Porzingis. Ketika pemain tersebut menghadapi tuduhan pemerkosaan—yang kemudian ia bantah keras—Epstein mengirim e-mail menanyakan rekomendasi investigator swasta. Ini menunjukkan obsesi Epstein untuk mencampuri urusan hukum yang berkaitan dengan kejahatan seksual, mungkin sebagai cara untuk mengumpulkan informasi atau pengaruh.
Keanehan dan Detail Lainnya
Dokumen setebal jutaan halaman ini juga menyimpan detail-detail yang aneh dan mengejutkan. Mendiang Paul Allen, pendiri Microsoft dan pemilik tim Seattle Seahawks, disebut dalam konteks proyek “mouse/brain” (tikus/otak), mencerminkan ketertarikan Epstein pada sains pinggiran (fringe science) dan transhumanisme.
Di sisi lain, ada nama Sammy Sosa, legenda bisbol MLB. Sosa disebut sebagai tamu dalam sebuah pesta mewah di kawasan Hamptons pada pertengahan 2000-an. Pesta tersebut menjadi mikrokosmos dari lingkaran sosial Epstein, di mana atlet, selebritas, dan tokoh politik seperti Donald Trump berbaur dalam satu atap.
Penting untuk dicatat, sebagaimana ditegaskan oleh Departemen Kehakiman AS, kemunculan nama dalam dokumen Epstein Files tidak serta-merta mengindikasikan keterlibatan dalam tindak pidana perdagangan seks. Banyak dari tokoh olahraga ini mungkin hanya berinteraksi dalam kapasitas bisnis, filantropi, atau sosial tanpa mengetahui sisi gelap kehidupan Epstein pada saat itu.
Namun, bagi publik, nuansa moral dari interaksi ini tetaplah kelabu. Epstein menggunakan kekayaannya dan koneksinya dengan orang-orang terkenal untuk memvalidasi dirinya dan, yang lebih mengerikan, untuk memancing korban-korbannya. Dengan bergaul bersama pemilik klub NFL atau ketua Olimpiade, Epstein menciptakan citra sebagai pebisnis bonafide yang tak tersentuh.
Rilisnya dokumen ini memaksa industri olahraga untuk melakukan introspeksi mendalam. Bagaimana seorang predator bisa bergerak begitu bebas di antara para pemilik modal terbesar di dunia olahraga? Apakah ada kelalaian kolektif dalam memeriksa latar belakang rekan bisnis?
Saat ini, tidak ada tuntutan pidana baru yang diajukan terhadap nama-nama tokoh olahraga yang disebutkan. Namun, pengadilan opini publik telah dimulai. Reputasi yang dibangun puluhan tahun kini dipertaruhkan hanya karena beberapa baris e-mail yang tersimpan dalam server seorang kriminal yang telah tiada.
Bagi dunia olahraga, ini adalah peringatan keras bahwa integritas bukan hanya soal apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga dengan siapa mereka berjabat tangan di ruang VIP.
