INDONESIAONLINE – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpantau di kawasan puncak Gunung Wilis yang berada di perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Ponorogo, Rabu (16/9/2026) malam. Kobaran api bahkan dapat terlihat dari kejauhan hingga terpantau dari Kantor BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk.
Prakirawan BMKG Nganjuk Setiyaris mendeteksi adanya titik api sekitar pukul 19.16 WIB. Berdasarkan hasil pemantauan, kobaran api bergerak ke arah timur dan barat menuju wilayah Kabupaten Nganjuk.
“Saat ini, posisi api masih relatif jauh dari kawasan permukiman penduduk. Meskipun demikian, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai,” tulis Setiyaris, Kamis (17/9/2026).
Pemantauan tersebut dilakukan setelah BMKG pada Rabu siang menemukan 46 titik panas atau hotspot di kawasan puncak Gunung Wilis. Puluhan titik panas itu tersebar di wilayah Nganjuk dan Ponorogo.
Di Kabupaten Nganjuk, terdapat delapan titik panas yang terdeteksi di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan. Sementara di Kabupaten Ponorogo, 24 titik berada di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, dan 14 titik lainnya ditemukan di Desa Krisik, Kecamatan Pudak.
Menindaklanjuti temuan tersebut, BPBD Nganjuk langsung melakukan monitoring untuk memastikan kondisi di lapangan. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Nganjuk Purwo Hadi Setyo Wicaksono menyampaikan bahwa lokasi api masih cukup jauh dari permukiman warga.
“Untuk jarak titik api dari pemukiman warga saat ini sekitar 15 kilometer. Saat ini kami masih melakukan inventarisasi personel,” ujar Purwo, Kamis (17/9/2026).
Sekitar pukul 20.00 WIB, kobaran api dilaporkan semakin membesar. Meski demikian, BPBD menyatakan situasi masih relatif aman lantaran titik kebakaran berjarak sekitar 15-16 kilometer dari kawasan permukiman.
Pemantauan terus dilakukan untuk melihat perkembangan kobaran api sekaligus mengantisipasi apabila kebakaran meluas ke area lain.
Upaya pemadaman di puncak Gunung Wilis menghadapi kendala medan. Lokasi kebakaran berada di tengah kawasan hutan sehingga tidak dapat dijangkau kendaraan. Akibatnya, personel gabungan harus berjalan kaki untuk menuju titik api.
“Untuk saat ini kita masih memantau, untuk pemadaman personel harus berjalan kaki, karena medan di tengah hutan tidak bisa dilalui kendaraan,” jelas Purwo.
Kondisi medan yang sulit juga membuat pemadaman harus dilakukan secara manual. Petugas memanfaatkan ranting pohon untuk membantu mengendalikan api karena peralatan pemadam berukuran besar tidak mudah dibawa ke lokasi.
BPBD Nganjuk juga telah melakukan inventarisasi personel bersama jajaran TNI dan Polri sebagai langkah antisipasi terhadap perkembangan kondisi di lapangan.
BMKG Nganjuk mengingatkan bahwa vegetasi yang kering berpotensi mempercepat penjalaran api. Selain itu, perubahan arah dan kecepatan angin juga dapat memengaruhi pergerakan kobaran.
Ketika pemantauan dilakukan pada Rabu malam, kondisi cuaca di sekitar kawasan tersebut cerah berawan. Angin tercatat bertiup dari arah selatan dengan kecepatan sekitar 5 km/jam. Sementara suhu udara berada di sekitar 22 derajat Celsius.
Setiyaris mengimbau masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Wilis, agar tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi yang disampaikan petugas. “Hindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran terbuka di sekitar kawasan yang vegetasinya sedang kering,” tandasnya.
BPBD Nganjuk turut mengingatkan warga agar tidak membuka atau membersihkan lahan menggunakan metode pembakaran. Pengawasan dan patroli di kawasan yang rawan karhutla juga diperketat melalui koordinasi dengan perangkat daerah serta para camat.
Tak hanya mengandalkan petugas, BPBD meminta masyarakat dan relawan desa ikut membantu melakukan pemantauan. Apabila menemukan titik api maupun indikasi kebakaran, warga diminta segera melapor agar penanganan dapat dilakukan secepatnya. (bn/hel)
