Beranda

Ini 10 Orang Terkaya Indonesia di Akhir September 2026

Low Tuck Kwong menempati posisi pertama daftar orang terkaya Indonesia pada akhir September 2026. (koinworks)

INDONESIAONLINE – Peta kekayaan para konglomerat Indonesia kembali mengalami perubahan pada akhir September 2026. Berdasarkan pembaruan Forbes Real-Time Billionaires pada Minggu (27/9/2026), Low Tuck Kwong masih menempati posisi teratas sebagai orang terkaya di Indonesia.

Low Tuck Kwong yang dikenal sebagai pendiri perusahaan batu bara Bayan Resources tercatat memiliki kekayaan mencapai 16,8 miliar dollar AS. Jika dikonversikan menggunakan kurs Rp 17.900 per dollar AS, nilainya setara sekitar Rp 300,72 triliun.

Meski berada di posisi pertama, jumlah kekayaan Low Tuck Kwong mengalami penurunan dibandingkan awal September. Saat itu, kekayaannya tercatat mencapai 18,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 336,52 triliun.

Perubahan tersebut tidak terlepas dari karakter daftar Forbes Real-Time Billionaires yang bergerak dinamis. Nilai kekayaan para miliarder dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham serta pembaruan aset yang mereka miliki.

Di bawah Low Tuck Kwong, terdapat sejumlah nama besar dalam dunia bisnis Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Prajogo Pangestu, Robert Budi Hartono, Anthony Salim, Otto Toto Sugiri, hingga Marina Budiman.

Forbes memperbarui nilai kepemilikan perusahaan publik setiap lima menit ketika pasar saham terkait dibuka, dengan jeda sekitar 15 menit pada harga saham. Sementara itu, kekayaan miliarder yang sebagian besar asetnya berkaitan dengan perusahaan privat diperbarui satu kali sehari.

Dengan mekanisme tersebut, perubahan harga saham perusahaan yang dimiliki para konglomerat dapat secara langsung memengaruhi nilai kekayaan yang tercantum dalam daftar.

Berikut daftar 10 orang terkaya di Indonesia pada akhir September 2026 beserta sumber utama kekayaannya:

1. Low Tuck Kwong
Low Tuck Kwong berada di posisi pertama dengan kekayaan sebesar 16,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 300,72 triliun. Sebagian besar kekayaannya berasal dari bisnis batu bara. Forbes bahkan menjulukinya sebagai “coal king” atau raja batu bara.

Ia merupakan pendiri Bayan Resources, perusahaan pertambangan batu bara yang didirikannya pada 2004.

2. Prajogo Pangestu
Prajogo Pangestu menempati posisi kedua dengan total kekayaan mencapai 15,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 281,03 triliun.

Perjalanan bisnis Prajogo bermula dari sektor kayu pada akhir 1970-an. Setelah itu, ia mengembangkan bisnisnya dengan melakukan diversifikasi ke industri petrokimia dan energi.

Forbes mencatat Barito Pacific mengakuisisi 70 persen perusahaan petrokimia Chandra Asri pada 2007. Perusahaan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.
Selain itu, Prajogo memiliki bisnis di sektor batu bara dan energi terbarukan melalui Petrindo Jaya Kreasi dan Barito Renewables Energy.

3. Robert Budi Hartono
Robert Budi Hartono berada di urutan ketiga dengan kekayaan mencapai 15,5 miliar dollar AS, setara sekitar Rp 277,45 triliun.
Budi Hartono bersama saudaranya, Michael Hartono, memperoleh sebagian besar kekayaan dari kepemilikan mereka di Bank Central Asia (BCA).

Keluarga Hartono sebelumnya membangun kekayaan melalui bisnis rokok Djarum. Namun, bisnis keluarga tersebut kini telah berkembang ke berbagai sektor.

Selain BCA dan Djarum, keluarga Hartono juga memiliki Global Digital Niaga, perusahaan yang menaungi platform e-commerce Blibli.

4. Anthony Salim
Di posisi keempat terdapat Anthony Salim dengan kekayaan sebesar 10,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 191,53 triliun.

Anthony Salim merupakan pimpinan Salim Group, kelompok usaha yang memiliki bisnis di berbagai sektor, mulai dari makanan, ritel, perbankan, telekomunikasi hingga energi.

Ia juga menjabat sebagai CEO Indofood, salah satu produsen mi instan terbesar di dunia.
Forbes mencatat Salim Group memiliki kepentingan di First Pacific yang terdaftar di Hong Kong. Investasinya antara lain mencakup Indofood serta perusahaan telekomunikasi Filipina, PLDT.

5. Tahir dan Keluarga
Tahir dan keluarga menempati posisi kelima dengan kekayaan mencapai 9,4 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 168,26 triliun.
Sumber utama kekayaan keluarga tersebut berasal dari bisnis Mayapada Group yang bergerak di sejumlah sektor, termasuk perbankan, kesehatan, media dan properti.

Forbes mencatat keluarga Tahir memiliki saham di Bank Mayapada dan Maha Properti Indonesia.

Selain bisnis di Indonesia, Tahir juga memiliki sejumlah properti di Singapura melalui perusahaan properti yang tercatat di bursa negara tersebut.

6. Sri Prakash Lohia
Posisi keenam ditempati Sri Prakash Lohia dengan total kekayaan mencapai 8,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 155,73 triliun.

Lohia membangun kekayaannya melalui industri petrokimia. Sebagian besar hartanya berasal dari bisnis pupuk dan polimer.

Bersama ayahnya, Lohia mendirikan Indorama Corp pada 1970-an. Perusahaan tersebut pada awalnya bergerak sebagai produsen benang pintal.

7. Otto Toto Sugiri

Otto Toto Sugiri tercatat memiliki kekayaan sebesar 8,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 144,99 triliun.

Sebagian besar kekayaannya berasal dari bisnis pusat data melalui PT DCI Indonesia Tbk. Otto merupakan salah satu pendiri sekaligus CEO DCI Indonesia yang didirikan pada 2011.

Jauh sebelum membangun DCI Indonesia, Otto telah terjun ke industri teknologi. Pada 1989, ia mendirikan Sigma Cipta Caraka, perusahaan yang kemudian diakuisisi Telkom Indonesia dan dikenal dengan nama Telkomsigma.

Otto juga turut mendirikan Indonet, yang disebut sebagai salah satu perusahaan penyedia layanan internet pertama di Indonesia.

Bisnis pusat data kini menjadi salah satu sektor yang berkembang seiring meningkatnya kebutuhan komputasi dan teknologi kecerdasan buatan.

8. Marina Budiman

Berikutnya ada Marina Budiman dengan kekayaan mencapai 5,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 103,82 triliun.

Marina merupakan salah satu pendiri sekaligus presiden komisaris DCI Indonesia. Ia mendirikan perusahaan tersebut bersama Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia pada 2011.

Sebelum masuk ke bisnis pusat data, Marina pernah bekerja bersama Otto Sugiri di Bank Bali. Setelah itu, ia bergabung dengan perusahaan teknologi Sigma Cipta Caraka.

Pada 1994, Marina juga ikut mendirikan Indonet. Forbes menyebut perusahaan tersebut sebagai salah satu penyedia layanan internet pertama di Indonesia.

9. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono

Di posisi kesembilan terdapat Lim Hariyanto Wijaya Sarwono dengan kekayaan sebesar 4,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 85,92 triliun.

Keluarga Lim memiliki mayoritas saham perusahaan perkebunan kelapa sawit Bumitama Agri yang tercatat di Singapura. Sementara itu, perkebunan perusahaan tersebut berada di Indonesia.

Selain bisnis perkebunan kelapa sawit, keluarga Lim juga memiliki Harita Group yang menjalankan usaha di sejumlah sektor.

Salah satu bidang bisnis Harita Group adalah pertambangan bauksit dan pengolahan nikel.

10. Theodore Rachmat

Melengkapi 10 besar orang terkaya di Indonesia, terdapat Theodore Rachmat dengan kekayaan mencapai 4,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 82,34 triliun.

Rachmat merupakan pendiri Triputra Group yang didirikan pada 1998. Kelompok usaha tersebut memiliki bisnis yang bergerak di sektor pertanian, manufaktur dan pertambangan.

Selain mengembangkan Triputra Group, Rachmat juga memiliki saham minoritas di perusahaan batu bara Alamtri Resources Indonesia, yang sebelumnya bernama Adaro Energy. Di perusahaan tersebut, Rachmat menjabat sebagai wakil komisaris utama.

Dengan demikian, daftar 10 orang terkaya di Indonesia pada akhir September 2026 mencakup konglomerat dengan sumber kekayaan yang beragam, mulai dari batu bara, petrokimia, perbankan, makanan, properti, pusat data, perkebunan hingga pertambangan.

Namun, angka kekayaan tersebut bukanlah nilai yang bersifat tetap. Daftar Forbes Real-Time Billionaires dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham dan pembaruan nilai aset masing-masing miliarder. (rds/hel)

Exit mobile version