Investasi Malang 2025 tembus Rp3,11 triliun, salip target nasional. Sektor perdagangan & hotel bawa Kota Malang ranking 2 terbaik se-Jawa Timur.
INDONESIAONLINE – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global yang masih menghantui, Kota Malang menutup buku tahun anggaran 2025 dengan sebuah anomali positif yang mengejutkan. Kota yang tidak memiliki kawasan industri manufaktur raksasa layaknya Gresik atau Sidoarjo ini, justru mencatatkan diri sebagai salah satu primadona investasi di Jawa Timur.
Data resmi yang dirilis per 31 Desember 2025 menunjukkan realisasi investasi di Kota Malang menembus angka Rp3,11 triliun. Angka ini tidak hanya melampaui target yang dipatok oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi sebesar Rp3,06 triliun, tetapi juga menciptakan surplus sekitar Rp5 miliar.
Lebih dari sekadar angka, pencapaian ini menegaskan transformasi ekonomi Kota Malang yang semakin matang sebagai “Kota Jasa“. Klaim mengejutkan datang dari Kepala Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPSTP) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan. Ia menyebut bahwa realisasi ini menempatkan Kota Malang di posisi kedua terbaik di Jawa Timur setelah Surabaya.
Melampaui Ekspektasi Regional
“Alhamdulillah, rilis data resmi sudah keluar minggu kemarin. Target Rp3,06 triliun dan realisasi kita di angka Rp3,11 triliun,” ujar Arif saat ditemui di kantornya.
Pernyataan Arif membuka tabir performa ekonomi daerah yang impresif. Secara statistik, pertumbuhan investasi di Kota Malang tergolong “outlier” atau di atas rata-rata. Ketika mayoritas kota dan kabupaten lain di Jawa Timur berkutat pada pertumbuhan investasi di kisaran 0,5 hingga 1 persen, Kota Malang justru berlari kencang dengan pertumbuhan menyentuh angka 2 persen.
Tren positif ini bukan kebetulan semata, melainkan pola yang konsisten. Data historis menunjukkan, pada tahun 2024, investasi Kota Malang tercatat sebesar Rp2,96 triliun. Pemerintah pusat kemudian menaikkan target menjadi Rp3,06 triliun pada 2025—kenaikan yang cukup menantang—namun berhasil “dilahap” oleh dinamika ekonomi kota pendidikan ini.
“Peningkatan ini sesuai target yang diberikan kementerian kepada kami, yakni 2 persen. Dan alhamdulillah bisa tercapai,” tegas Arif.
Jika kita membedah data makroekonomi Jawa Timur (mengacu pada tren data BPS Jatim tahun-tahun sebelumnya), dominasi investasi biasanya dipegang oleh daerah “Ring 1” industri seperti Kabupaten Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto. Masuknya Kota Malang ke jajaran atas, tepat di bawah Surabaya, menandakan pergeseran minat investor dari sektor manufaktur padat karya menuju sektor jasa dan gaya hidup.
Dominasi Sektor Tersier: Ritel dan Gaya Hidup
Struktur investasi Kota Malang pada 2025 memberikan gambaran jelas tentang “wajah” ekonomi kota ini. Tidak ada pabrik peleburan logam atau perakitan otomotif skala masif. Sebaliknya, uang triliunan rupiah itu berputar di sektor tersier.
Arif membeberkan, sektor perdagangan menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai hampir 45 persen dari total realisasi investasi. Sektor ini disusul oleh restoran dan perhotelan.
“Perdagangan ini dari teman-teman supermarket dan retail,” ungkapnya.
Tingginya investasi di sektor perdagangan berkorelasi erat dengan demografi Kota Malang. Sebagai kota pendidikan dengan puluhan perguruan tinggi dan ratusan ribu mahasiswa, tingkat konsumsi domestik di Malang sangat tinggi. Kehadiran ritel-ritel modern baru, ekspansi waralaba, hingga coffee shop yang menjamur, menjadi motor penggerak utama.
Data penunjang dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang dalam beberapa tahun terakhir konsisten menunjukkan bahwa Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan di Kota Malang terus meningkat, yang menjadi indikator kuatnya daya beli masyarakat. Inilah yang ditangkap oleh para investor sebagai peluang emas. Mereka tidak menanam modal untuk memproduksi barang, melainkan untuk memfasilitasi konsumsi.
Proyeksi 2026: Membidik Rp3,4 Triliun
Optimisme tidak berhenti di 2025. Pemerintah Kota Malang kini tengah bersiap menghadapi tantangan 2026. Meskipun target resmi investasi nasional belum dirilis (“breakdown” ke daerah biasanya dilakukan di awal tahun anggaran), Arif memiliki kalkulasi sendiri berdasarkan tren nasional.
Tren target investasi nasional terus menanjak tajam. Pada 2024 target nasional berada di angka Rp1.600-an triliun, naik menjadi Rp1.900 triliun pada 2025.
“Prediksi saya, tahun 2026 target nasional bisa di kisaran Rp2.100 triliun,” analisis Arif.
Dengan asumsi kenaikan target nasional tersebut, beban yang dipikul Kota Malang diproyeksikan akan berada di rentang Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Angka yang fantastis, namun dinilai realistis oleh Pemkot Malang.
Strategi apa yang disiapkan? Jika 2025 adalah tahunnya perdagangan, maka 2026 dicanangkan sebagai tahun kebangkitan infrastruktur pariwisata, khususnya perhotelan dan hunian.
Segitiga Emas Investasi Baru: Dinoyo – Soehat – Pusat Kota
Pemkot Malang tidak bergerak tanpa peta jalan. Arif membocorkan adanya tiga proyek hotel besar yang digadang-gadang akan menjadi “game changer” realisasi investasi 2026. Lokasinya pun sangat strategis, menyasar kantong-kantong keramaian baru.
“Kalau investasi hotel bisa masuk, insyaallah target itu bisa tercapai. Kalau tiga hotel ini jadi, alhamdulillah akan sangat membantu,” tuturnya penuh harap.
Ketiga proyek tersebut meliputi pembangunan Novotel, sebuah hotel baru di kawasan Dinoyo, dan satu lagi di kawasan Soekarno-Hatta (Soehat).
Pemilihan lokasi ini menarik untuk dianalisis. Kawasan Soekarno-Hatta dan Dinoyo merupakan episentrum kehidupan mahasiswa dan kaum urban Malang. Kepadatan lalu lintas dan aktivitas ekonomi di sana hampir menyamai pusat kota. Kehadiran hotel berbintang di area ini menandakan bahwa investor melihat potensi MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) tidak lagi hanya terpusat di sekitar Alun-Alun atau Ijen, melainkan menyebar ke area penyangga kampus.
Investasi di sektor properti dan perhotelan memiliki multiplier effect (efek berganda) yang besar. Selain nilai konstruksi yang tinggi, operasional hotel akan menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar, mulai dari front office, housekeeping, hingga food and beverage. Ini sejalan dengan tupoksi ganda dinas yang dipimpin Arif, yakni Investasi dan Tenaga Kerja.
Meski catatan di atas kertas terlihat manis, jalan menuju Rp3,4 triliun di 2026 bukan tanpa kerikil. Tantangan terbesar bagi Kota Malang adalah keterbatasan lahan. Berbeda dengan kabupaten yang masih memiliki lahan luas untuk ekspansi, Kota Malang harus bermain dengan strategi intensifikasi lahan dan revitalisasi bangunan lama.
Selain itu, stabilitas politik pasca-Pilkada dan kepastian hukum dalam perizinan menjadi kunci. Investor membutuhkan jaminan kemudahan berusaha, terutama dengan sistem Online Single Submission (OSS) yang terus diperbarui oleh pemerintah pusat.
Surplus investasi Rp5 miliar di 2025 adalah bukti ketangguhan. Namun, mempertahankan posisi sebagai “Runner Up” di Jawa Timur di tengah gempuran daerah lain yang agresif membuka kawasan industri baru, akan membutuhkan inovasi perizinan dan kondusivitas wilayah yang prima.
Bagi warga Malang, angka triliunan ini diharapkan tidak hanya berhenti di laporan statistik, melainkan menetes ke bawah dalam bentuk lapangan kerja dan perputaran ekonomi riil di pasar-pasar dan warung-warung rakyat (rw/dnv).













