Iran Bantah Pemimpin Tertinggi Takut dan Sembunyi di Bunker

Iran Bantah Pemimpin Tertinggi Takut dan Sembunyi di Bunker
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Hosseini Khamenei (reuters)

INDONESIAONLINE – Pemerintah Iran secara tegas membantah rumor yang menyebut Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Hosseini Khamenei tengah bersembunyi di bunker keamanan. Sebaliknya, Teheran menyatakan bahwa negara mereka sama sekali tidak gentar menghadapi tekanan militer Amerika Serikat maupun sanksi ekonomi global.

​Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NDTV, Konsul Jenderal Iran di Mumbai, Saeid Reza Mosayeb Motlagh, meluruskan informasi mengenai kondisi keamanan di dalam negerinya.

Motlagh menuding adanya agenda sistematis dari pihak asing untuk menciptakan citra bahwa Iran sedang mengalami keruntuhan dari dalam. Ia menegaskan bahwa situasi yang digambarkan oleh media internasional sering dibesar-besarkan.

Dia menyebut gelombang protes yang terjadi di Iran merupakan hasil arahan dari badan intelijen luar negeri.  Menurut dia, aparat keamanan awalnya sangat menahan diri. Namun situasi berubah ketika kelompok yang ia sebut sebagai “elemen teroris” mulai melakukan tindakan sabotase di berbagai kota di Iran pada awal Januari.

Berdasarkan data pemerintah Iran, terdapat 3.117 korban jiwa dalam kerusuhan tersebut. Rinciannya, 2.427 orang merupakan warga sipil dan aparat keamanan yang mereka sebut sebagai martir. Sementara 690 lainnya diidentifikasi sebagai kelompok teroris.

​Kesiapan Menghadapi Armada AS

​Terkait pergerakan armada perang Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, Iran menyatakan dalam status siaga tertinggi. Motlagh mengingatkan bahwa kekuatan pertahanan Teheran telah teruji dalam berbagai konfrontasi sebelumnya.

​”Bangsa kami telah membuktikan kemampuan untuk memukul mundur setiap agresi. Kami siap menghadapi segala kemungkinan,” tegas Motlagh, merujuk pada ketegangan militer yang terus meningkat di kawasan tersebut.

​Klaim Iran ini muncul sebagai respons atas pengiriman kelompok kapal induk AS yang dipandang sebagai upaya intimidasi terhadap kedaulatan Teheran di tengah memanasnya peta politik global tahun 2026. (rds/hel)