INDONESIAONLINE – Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menerima seruan gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Teheran menyatakan perang hanya akan dihentikan jika terdapat kesepakatan untuk mengakhirinya secara menyeluruh dan permanen.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya akan terus melawan hingga tercapai penghentian perang secara total. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk upaya melindungi rakyat dan menjaga keamanan nasional Iran.
Dalam wawancara dengan program “Meet the Press” di NBC News, Araghchi menuding Amerika Serikat dan Israel telah melakukan pelanggaran kemanusiaan selama konflik berlangsung. Menurut dia, serangan yang dilakukan kedua negara tersebut telah menimbulkan korban sipil, termasuk anak-anak, serta menyasar fasilitas penting seperti rumah sakit.
Araghchi juga menyinggung gencatan senjata yang sebelumnya pernah dicapai untuk mengakhiri konflik selama 12 hari pada tahun lalu. Ia menilai kesepakatan tersebut telah dilanggar oleh pihak lawan sehingga kecil kemungkinan gencatan senjata baru dapat berjalan efektif.
“Perang ini harus diakhiri secara permanen. Selama itu belum tercapai, kami akan terus berjuang demi rakyat dan keamanan kami,” ujarnya.
Di sisi lain, laporan NBC News yang mengutip empat sumber menyebutkan bahwa Rusia memberikan dukungan intelijen kepada Iran terkait posisi pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Informasi tersebut disebut mencakup data yang berpotensi membantu Iran mengidentifikasi keberadaan kapal perang AS.
Menanggapi laporan itu, Araghchi menyatakan bahwa hubungan kerja sama antara Iran dan Rusia bukanlah hal baru. Ia mengatakan kedua negara memang memiliki berbagai bentuk kolaborasi, meskipun dirinya tidak memiliki rincian khusus terkait informasi tersebut.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan bahwa Iran tidak berniat menyerang negara-negara Teluk. Namun, ia menegaskan Iran akan bertindak jika negara-negara tersebut memfasilitasi serangan Amerika Serikat atau Israel.
Araghchi menambahkan bahwa target serangan Iran sejauh ini ditujukan pada pangkalan militer serta aset milik Amerika Serikat yang berada di kawasan tersebut. Ia mengakui bahwa sebagian fasilitas itu berada di wilayah negara tetangga Iran.
Pezeshkian juga disebut telah menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara di kawasan tersebut atas dampak yang timbul akibat serangan dan aksi balasan dalam konflik yang sedang berlangsung.
Selain itu, Araghchi menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menuding Iran tengah mengembangkan rudal dengan jangkauan hingga Amerika Serikat. Ia membantah klaim tersebut dan menyebut Iran secara sengaja membatasi jangkauan rudalnya di bawah 2.000 kilometer. Pembatasan itu dilakukan agar Iran tidak dianggap sebagai ancaman bagi negara lain di dunia.
Di akhir pernyataannya, Araghchi juga menolak campur tangan pihak luar dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran. Ia menegaskan bahwa mekanisme tersebut sepenuhnya merupakan urusan internal negara yang akan diputuskan oleh lembaga yang berwenang di Iran. (rds/hel)













