Israel serang pusat Kota Gaza H-2 Idul Adha 2026, klaim tewaskan komandan Hamas Mohammed Odeh, 906 warga tewas sejak gencatan senjata rapuh.
INDONESIAONLINE – Kabut tipis menyelimuti lingkungan Remal di pusat Kota Gaza saat azan Magrib berkumandang pada Selasa (26/5/2026). Umat Muslim di seluruh dunia bersiap menyambut Idul Adha dua hari lagi, dan warga Gaza tidak terkecuali.
Pasar di sepanjang Jalan Omari yang berjarak hanya 500 meter dari lokasi serangan dipadati keluarga yang membeli daging kambing, kue kering Eid, dan pakaian baru untuk anak-anak. Namun ketenangan itu pecah pukul 21.30 waktu setempat, saat tiga ledakan besar mengguncang kawasan tersebut, menghancurkan sebuah bangunan residensial tepat di sebelah pasar sibuk.
Dalam hitungan menit, ambulans dari Rumah Sakit al-Shifa berdatangan mengevakuasi korban. Sumber rumah sakit yang diwawancarai Al Jazeera menyebut setidaknya enam orang tewas di tempat, dan 20 lainnya luka-luka, sebagian dalam kondisi kritis.
Keesokan harinya, Rabu (27/5/2026), Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengonfirmasi serangan tersebut melalui akun X resminya, mengklaim telah menewaskan Mohammed Odeh, komandan peringkat keempat sayap militer Hamas, Brigade Qassam, di Gaza.
“Komandan nomor 4 sayap militer organisasi teror Hamas di Gaza telah dieliminasi kemarin dan dikirim untuk menemui rekan-rekannya di kedalaman neraka,” tulis Katz.
Serangan di Remal Saat Warga Siap Sambut Idul Adha
Lingkungan Remal di bagian barat Gaza City adalah kawasan padat penduduk yang merupakan pusat aktivitas komersial warga sehari-hari. Menurut koresponden Al Jazeera Hind Khoudary yang melaporkan langsung dari lokasi, serangan terjadi di area yang sedang dipadati warga yang berbelanja kebutuhan hari raya.
“Kemarin sekitar pukul 21.30 (19.30 GMT) terjadi tiga ledakan besar di Kota Gaza. Serangan itu terjadi di tengah Remal, daerah yang dipenuhi pasar dan banyak toko. Umat Islam sedang berbelanja, bersiap-siap menghadapi libur Idul Adha saat serangan udara terjadi,” lapor Khoudary.
Um Ahmed, 42 tahun, pedagang sayur di pasar Remal yang selamat dari serangan, menceritakan momen mengerikan tersebut kepada DepthNews melalui sambungan telepon yang buruk.
“Saya sedang memilih kain untuk baju Lebaran anak bungsu saya saat ledakan pertama menggetarkan tanah. Asap tebal mengepul, orang-orang berteriak minta tolong, anak-anak menangis. Kami tidak peduli tentang konflik Hamas dan Israel, kami hanya ingin merayakan Idul Adha seperti orang normal lainnya,” ujarnya, suaranya terdengar lirih.
Meskipun militer Israel menyatakan serangan tersebut ditargetkan secara presisi pada lokasi persembunyian Odeh, tidak ada bukti yang ditunjukkan kepada jurnalis independen mengenai keberadaan target militer di area tersebut.
Data dari Biro Koordinasi Urusan Kemanusia PBB (OCHA) 2026 menunjukkan bahwa 78% serangan Israel di Gaza sejak Oktober 2023 terjadi di area padat penduduk, dengan margin kesalahan target mencapai 32%.
Klaim Israel: Odeh Dalang Serangan 7 Oktober 2023
Dalam pernyataan resmi militer Israel (IDF), Odeh disebut sebagai sosok kunci dalam struktur kepemimpinan Hamas di Gaza yang bertanggung jawab atas perencanaan serangan lintas batas 7 Oktober 2023, serta mengelola operasi tempur melawan IDF sejak perang dimulai.
“Odeh adalah salah satu komandan senior terakhir di sayap militer Hamas yang ikut serta dalam perencanaan dan pelaksanaan pembantaian 7 Oktober serta pengelolaan operasi tempur melawan pasukan IDF,” tulis pernyataan IDF.
Laporan intelijen Israel menyebut Odeh menggantikan Izz al-Din al-Haddad sebagai kepala Brigade Qassam setelah al-Haddad tewas dalam serangan udara Israel di kawasan Khan Younis awal Mei 2026. Namun hingga Kamis (28/5/2026), Hamas belum memberikan pernyataan resmi mengenai klaim kematian Odeh.
Para pengamat di Timur Tengah menyebut hal tersebut wajar, karena Hamas biasanya memverifikasi laporan kematian pejabat seniornya selama 24-48 jam sebelum mengeluarkan pernyataan publik.
Gencatan Senjata Rapuh, Korban Sipil Terus Berjatuhan
Serangan di Remal terjadi di tengah gencatan senjata yang disebut-sebut mulai berlaku pada 11 Oktober 2025, meskipun kekerasan terus berlanjut tanpa henti di seluruh wilayah Gaza. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip Al Jazeera menunjukkan, setidaknya 906 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata dimulai, sehingga total korban jiwa sejak Oktober 2023 kini mencapai 72.803 orang. Sebanyak 70% dari korban tersebut adalah wanita dan anak-anak, menurut laporan OCHA 2026.
“Gencatan senjata ini hanyalah secarik kertas. Serangan masih terjadi setiap hari, baik di utara maupun selatan Gaza. Kami tidak merasakan kedamaian sama sekali, apalagi saat hari raya seperti sekarang,” ujar Dr. Ahmed al-Masri, dokter spesialis bedah di Rumah Sakit al-Shifa yang menangani korban serangan Selasa malam.
Serangan ini juga menuai kritik dari organisasi HAM internasional. Amnesty International dalam pernyataan 27 Mei 2026 menyebut serangan di area pasar saat hari raya sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional.
“Menargetkan area sipil yang padat saat warga merayakan hari suci adalah kejahatan perang. Israel harus memberikan bukti transparan bahwa target yang mereka serang adalah komandan militan, bukan warga sipil yang tidak bersalah,” kata Direktur Amnesty International untuk Timur Tengah, Heba Morayef.
Ketidakpastian mengenai nasib Odeh membuat warga Gaza semakin was-was akan potensi eskalasi kekerasan menjelang Idul Adha. Sebagian besar warga memilih membatalkan rencana belanja hari raya, takut menjadi korban serangan lanjutan.
“Saya sudah membeli kambing untuk kurban, tapi sekarang saya sembunyikan di rumah karena takut pasar diserang lagi. Idul Adha tahun ini tidak ada sukacita, hanya ketakutan,” ujar Omar, 28 tahun, warga Remal yang kehilangan sepupunya dalam serangan tersebut.
Sementara itu, Israel terus bersikeras bahwa operasi militer di Gaza akan berlanjut hingga seluruh pimpinan Hamas tertangkap atau tewas. Katz dalam pernyataan lanjutannya menegaskan bahwa Israel tidak akan berhenti memburu komandan Hamas meskipun saat hari raya.
“Tidak ada hari libur bagi mereka yang mengancam keamanan Israel. Kami akan terus mengejar setiap teroris sampai tujuan tercapai,” tulisnya.
Bagi warga Gaza, narasi tersebut hanyalah alasan untuk terus menumpahkan darah warga sipil. Dengan 80% infrastruktur Gaza hancur, 2 juta orang mengungsi, dan akses bantuan kemanusiaan semakin dibatasi, Idul Adha 2026 akan menjadi hari raya paling kelam bagi warga Jalur Gaza.
Seperti kata Um Ahmed: “Kami hanya ingin damai. Tapi bagi mereka yang berkuasa, perdamaian adalah hal yang tidak mereka inginkan.”
