Beranda

HKTI Jatim Periode 2026-2031 Dilantik, Dorong Ketahanan Pangan

Pelantikan pengurus HKTI Jatim 2026-2031 oleh Wamentan Sudaryono di Kawasan Taman Edukasi Embung Pandanmulyo, Tajinan, Kabupaten Malang (io)

Pelantikan pengurus HKTI Jatim 2026-2031 oleh Wamentan Sudaryono di Malang. Fokus pada alsintan, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan nasional.

INDONESIAONLINE – Pergantian tampuk kepemimpinan organisasi petani terbesar di Jawa Timur resmi terlaksana di tengah nuansa agraris yang kental. Di Kawasan Taman Edukasi Embung Pandanmulyo, Tajinan, Kabupaten Malang, Wakil Menteri Pertanian RI sekaligus Ketua Umum DPN HKTI Sudaryono memimpin langsung prosesi pelantikan pengurus DPD HKTI Jawa Timur dan DPC kabupaten/kota se-Jawa Timur periode 2026-2031.

Sebagai provinsi dengan julukan lumbung pangan nasional, Jawa Timur memegang peranan strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi makro. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang PDRB Jatim sebesar 13,37 persen pada 2023, dengan produksi padi mencapai 9,8 juta ton.

Namun, di balik angka yang moncer tersebut, tantangan modernisasi alat dan kesejahteraan riil petani masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pelantikan yang berlangsung pada Jumat (17/7/2026) ini pun diharapkan menjadi momentum strategis untuk menjawab berbagai tantangan struktural di lima tahun ke depan. Hal ini sejalan dengan arahan pemerintah terkait transformasi ekonomi yang berbasis pada ketahanan lokal.

Prosesi pelantikan tersebut bukan sekadar seremoni biasa, melainkan menunjukkan sinergi kuat antara legislatif, eksekutif, dan organisasi petani. Hadir dalam kesempatan tersebut Sekretaris Jenderal DPN HKTI Mayjen TNI Purn Bahtiar Utomo, Anggota DPR RI Moreno Suprapto dan Ma’ruf Mubarok, Anggota DPRD Jatim Chusni Mubarok, serta Ketua DPD HKTI Jatim Muhammad Arum Sabil.

Barisan kepala daerah seperti Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Wabup Malang Lathifah Shohib, Wawali Batu Heli Suyanto, dan Wabup Bojonegoro Nurul Azizah turut meramaikan agenda yang sarat muatan kebanggaan agraris ini.

Di atas podium, Sudaryono menyampaikan arahan tegasnya kepada jajaran pengurus yang baru. Ia mengucapkan selamat dan sukses kepada seluruh pengurus DPD HKTI Jawa Timur dan DPC kabupaten/kota se-Jawa Timur periode 2026-2031.

“Saya harapkan kepengurusan HKTI Jatim dan DPC kabupaten/kota se-Jawa Timur dapat selalu aktif dalam memperjuangkan kepentingan petani, meningkatkan produktivitas pertanian serta mendukung ketahanan pangan nasional,” ungkap Sudaryono, Jumat (17/7/2026).

Pesan Sudaryono tersebut menyentuh akar masalah yang dihadapi petani lokal. Data Kementan mengungkap bahwa meskipun produksi komoditas utama stabil, margin keuntungan petani kerap tergerus oleh volatilitas harga pupuk dan logistik. Sudaryono meminta seluruh pengurus memperkuat kolaborasi dengan petani dan pemda guna mendorong kesejahteraan, khususnya di wilayah agraris Jatim.

HKTI ke depan dituntut bertransformasi jadi katalisator mekanisasi. Merujuk data Kementan 2022, rata-rata usia petani di atas 45 tahun, sehingga regenerasi dan adopsi teknologi jadi kunci agar sektor ini tak ditinggalkan generasi muda.

Dari Simbolis ke Aksi Nyata di Lapangan

Bukti nyata komitmen terhadap modernisasi pertanian langsung ditunjukkan usai prosesi pelantikan. Sudaryono menyerahkan berbagai jenis alat dan mesin pertanian (alsintan) secara simbolis kepada perwakilan DPD dan DPC HKTI Jatim. Bantuan ini terbilang krusial; riset dari IPB University menyebut penggunaan alsintan seperti traktor tangan mampu menekan biaya produksi hingga 30 persen dan mempercepat waktu tanam. Penyerahan ini sekaligus menjadi solusi konkret atas keluhan petani terkait mahalnya upah tenaga panen dan tanam manual yang memberatkan beban operasional.

Tidak hanya berdiri di atas panggung, Sudaryono bersama seluruh jajaran tamu VIP berkesempatan menjajal alsintan hand tractor serta melakukan penanaman bibit jagung menggunakan alat yang semakin memudahkan para petani.

Aksi ini memberikan pesan visual yang sangat kuat: para pemimpin harus memahami dan turun tangan langsung ke lahan. Jagung sendiri merupakan komoditas strategis; BPS mencatat produksi jagung nasional pada 2023 mencapai 23,9 juta ton, di mana Jawa Timur berkontribusi sebagai produsen terbesar kedua setelah Jawa Barat.

Lebih dari sekadar seremoni, agenda ini juga membuka ruang ekonomi mikro yang luas. Usai mencoba alsintan, Sudaryono bersama jajaran berkesempatan mengunjungi stan-stan bazar dari perwakilan DPC HKTI dan PAC HKTI Kabupaten Malang. Ia pun berkesempatan memborong dagangan hasil pertanian dan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Gerakan belanja langsung dari petani ini sejalan dengan upaya penguatan rantai pasok lokal yang digaungkan pemerintah. Data BPS awal 2024 menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar, sehingga intervensi pasar dari organisasi tani sangat krusial.

Tantangan HKTI Jatim 2026-2031 memang tak ringan. Bapanas mencatat gejolak harga pangan global berpotensi ganggu stabilitas domestik akibat iklim ekstrem. Namun, sinergi pengurus baru, legislatif, dan pemda di Malang menumbuhkan optimisme swasembada pangan. Kehadiran figur seperti Muhammad Arum Sabil di pucuk pimpinan dinilai strategis menjembatani kebijakan pusat dan realitas sawah Jatim.

Pelantikan di Embung Pandanmulyo ini pada akhirnya bukan sekadar ritual serah terima jabatan. Ini adalah penyalaan obor baru bagi pertanian Jawa Timur. Di tengah isu perubahan iklim yang mengancam pola tanam konvensional, kehadiran organisasi petani yang solid, didukung mesin pertanian modern, serta didorong oleh kebijakan inklusif dari Wakil Menteri Pertanian, menjadi harapan nyata agar kesejahteraan petani meningkat dan ketahanan pangan nasional terjaga dengan kokoh (al/dnv).

Exit mobile version