Ilmuwan ungkap misteri letusan 1831 dari Gunung Zavaritskii. Letusan ini dinginkan Bumi 1°C dan ubah warna matahari. Simak fakta sejarah & sainsnya.
INDONESIAONLINE – Pada musim panas tahun 1831, dunia menyaksikan fenomena yang tampak seperti adegan film fiksi ilmiah. Di langit Eropa hingga Amerika Utara, matahari tidak lagi bersinar kuning keemasan.
Sang surya berubah warna menjadi biru elektrik, ungu, bahkan terkadang hijau pucat. Udara yang seharusnya hangat mendadak berubah menjadi sedingin musim dingin yang menusuk tulang.
Selama hampir dua ratus tahun, para ilmuwan mencatat anomali ini sebagai “kasus dingin” terbesar dalam sejarah vulkanologi. Mereka tahu ada letusan raksasa yang terjadi, namun pelakunya bersembunyi dalam bayang-bayang sejarah.
Kini, berkat kemajuan teknologi forensik geologi, tabir misteri itu akhirnya tersingkap. Sang “tersangka” adalah Gunung Zavaritskii, sebuah raksasa yang tertidur di Kepulauan Kuril yang terpencil.
Titik Terang dari Inti Es Greenland
Penemuan ini bermula dari laboratorium penelitian di University of St Andrews, Skotlandia. Tim peneliti yang dipimpin oleh ahli vulkanologi William Hutchison mempublikasikan temuan mereka dalam jurnal ilmiah bergengsi PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences) pada 30 Desember 2024.
Kunci utama pemecahan misteri ini bukan berada di lereng gunung, melainkan tertimbun jauh di dalam lapisan es Greenland. Para ilmuwan melakukan pengeboran inti es (ice cores) untuk mengambil sampel atmosfer masa lalu. Di sana, mereka menemukan lapisan sulfur dan abu vulkanik yang berasal dari tahun 1831.
“Momen ini adalah momen ‘Eureka’. Menemukan kecocokan sidik jari kimiawi abu di inti es dengan batuan di Zavaritskii adalah salah satu hari terbaik dalam karir laboratorium saya,” ujar Hutchison.
Melalui analisis kimiawi yang presisi, tim membuktikan bahwa komposisi silika dan aerosol sulfur tersebut identik dengan material vulkanik di Pulau Simushir, tempat Gunung Zavaritskii berada.
Simushir: Dari Pangkalan Nuklir ke Pusat Perhatian Dunia
Gunung Zavaritskii terletak di Pulau Simushir, bagian dari Kepulauan Kuril yang hingga kini masih menjadi sengketa wilayah antara Rusia dan Jepang. Lokasinya yang sangat terpencil dan sering tertutup kabut tebal menjelaskan mengapa tidak ada catatan tertulis dari saksi mata saat letusan hebat itu terjadi pada tahun 1831.
Menariknya, pulau ini bukan hanya menyimpan rahasia geologi. Selama masa Perang Dingin, Uni Soviet memanfaatkan kawah vulkanik Zavaritskii yang tergenang air—dikenal sebagai kaldera—sebagai pangkalan rahasia kapal selam nuklir.
Kedalaman air dan perlindungan alami dari dinding kaldera menjadikannya benteng yang tak terlihat dari permukaan laut lepas. Namun, jauh sebelum menjadi pangkalan militer, gunung ini telah lebih dulu “menyerang” dunia dengan kekuatan alamiahnya.
Letusan tahun 1831 melepaskan jutaan ton sulfur dioksida ke stratosfer. Partikel-partikel ini membentuk selubung aerosol yang memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa, mencegah panas mencapai permukaan Bumi.
Dampaknya sangat masif dan mematikan:
- Pendinginan Global: Suhu di Belahan Bumi Utara turun rata-rata 1 derajat Celcius (1,8 derajat Fahrenheit). Meski terdengar kecil, penurunan ini cukup untuk mengacaukan siklus pertanian global.
- Fenomena Langit Aneh: Hamburan cahaya oleh partikel aerosol menyebabkan matahari tampak berwarna biru dan ungu. Fenomena ini tercatat di berbagai jurnal pelaut dan pengamat cuaca di era tersebut.
- Kesaksian Budaya: Komposer legendaris Jerman, Felix Mendelssohn, yang sedang melakukan perjalanan di Pegunungan Alpen pada tahun itu, mencatat dalam surat-suratnya betapa musim panas terasa “suram” dan “sedingin musim dingin.”
- Krisis Pangan: Penurunan suhu memicu gagal panen massal. Sejarah mencatat dekade 1830-an sebagai periode kelaparan hebat di India dan Jepang, yang kini terkonfirmasi berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Zavaritskii.
Bagian dari Akhir “Zaman Es Kecil”
Letusan Zavaritskii bukanlah peristiwa tunggal. Ia merupakan bagian dari rangkaian aktivitas vulkanik dahsyat di abad ke-19 yang memperpanjang fase akhir Little Ice Age (Zaman Es Kecil). Periode antara tahun 1800 hingga 1850 ditandai dengan serangkaian letusan besar, termasuk Gunung Tambora di Indonesia (1815) dan letusan misterius 1809.
Para peneliti berargumen bahwa tumpukan aerosol dari gunung-gunung ini menciptakan efek kumulatif yang membuat suhu bumi tetap rendah selama beberapa dekade. Penemuan Zavaritskii mengisi potongan puzzle yang hilang dalam memahami bagaimana sistem iklim bumi merespons paksaan vulkanik.
Meskipun misteri letusan 1831 telah terpecahkan, Hutchison dan timnya memberikan peringatan keras bagi dunia modern. Hingga saat ini, Kepulauan Kuril—dan banyak wilayah vulkanik aktif lainnya di dunia—masih sangat minim pemantauan.
“Jika letusan dengan skala yang sama terjadi hari ini di lokasi yang terpencil seperti Simushir, saya ragu kita akan jauh lebih siap dibandingkan orang-orang di tahun 1831,” kata Hutchison.
Di tengah fokus dunia pada pemanasan global akibat aktivitas manusia (antropogenik), faktor alamiah seperti “kejutan vulkanik” tetap menjadi ancaman nyata yang bisa mengubah iklim secara instan.
Letusan sebesar Zavaritskii hari ini tidak hanya akan mengubah warna matahari, tetapi juga berpotensi melumpuhkan jalur penerbangan global, merusak infrastruktur satelit, dan memicu krisis pangan di tengah populasi dunia yang sudah mencapai 8 miliar jiwa.
Identifikasi Gunung Zavaritskii sebagai sumber letusan 1831 adalah kemenangan besar bagi sains. Ia membuktikan bahwa bumi selalu meninggalkan jejak, sekecil apapun itu, di dalam lapisan esnya. Namun, penemuan ini juga menjadi pengingat akan kerentanan peradaban manusia terhadap kekuatan geologis planet ini.
Zavaritskii, yang pernah menjadi pangkalan rahasia senjata nuklir, ternyata telah lebih dulu menunjukkan “senjata” pemusnah massalnya lewat atmosfer hampir dua abad silam. Kini, tantangan bagi para ilmuwan adalah memastikan bahwa saat sang raksasa kembali terbangun, dunia tidak lagi berada dalam kegelapan.
